Masih Ada Esok


balai pustaka, masih ada esok. surasonoJudul Buku: Masih Ada Esok
Penulis: Surasono
Gambar Sampul dan Dalam: Soejono
Jumlah Halaman: 48
Penerbit: Balai Pustaka
Tahun Terbit: 2007, cetakan keenam
ISBN: 979-666-575-1

Kemiskinan membuat Bondan harus jauh dari orangtua untuk bekerja pada orang lain. Namun nasib pastilah berubah

Bondan adalah anak kelima dari sembilan bersaudara. Orangtuanya miskin. Keadaan ini membuatnya tinggal dengan Paman Sandi sejak dia berumur lima tahun. Suatu ketika, paman Sandi mendapat tugas belajar ke Jerman Barat. Orangtua Bondan tidak mengijinkan Bondan pergi bersama pamannya sehingga memaksanya kembali ke desa. Keadaan ini tidak berlangsung lama. Paman Gatot, kakak sulung ibu Bondan, mau mengasuh Bondan di Jakarta.

Keberuntungan masih belum berpihak pada Bondan. Perusahaan Gatot bangkrut. Sumi, istri Gatot, menyarankan kepada Bondan agar bekerja sebagai pembantu di keluarga temannya, Pak Gunawan. Pekerjaan di rumah Gunawan lebih berat daripada di rumah Gatot karena sekarang ia bekerja sepanjang hari tanpa pernah bersekolah. Apalagi ditambah dengan kenakalan Yenny, anak bungsu Gatot. Namun syukurlah, Doni, salah satu anak Gatot, sering memberikan nasehat pada Bondan.

Suatu hari teman Gunawan bernama Thomas, membutuhkan bantuan karena temannya dari Irian Jaya datang. Tanpa meminta persetujuan dari Bondan, ia langsung menyuruh Bondan untuk membantu Thomas. Pekerjaan di tempat Pak Thomas lebih berat dari Pak Gunawan. Seringkali Bondan mendapat makanan yang tak layak. Sayur sedikit ditambah nasi sisa. Karena masih lapar, dia terpaksa membeli nasi di warung dengan uangnya sendiri. Bondan teringat dengan kampung halamannya dan menangis.

Sekembalinya dari rumah Pak Thomas, ia tetap bekerja di rumah Pak Gunawan. Nasibnya sedikit berubah. Yenny tidak lagi nakal karena Bondan pernah membantunya mengerjakan pekerjaan rumah dari guru dan yang terpenting, ia sekarang mulai bersekolah.

Di sekolah, ia berteman dengan Roni, anak panti asuhan yang nakal tetapi lucu. Roni-lah yang membantu Bondan ketika berkelahi dengan gerombolan Hari, Totok, Yanto, Cecep dan Komar yang telah mengolok-ngolok dengan menempelkan kertas bertuliskan “Kacung” di punggung Bondan. Perkelahian itu diketahui guru baru bernama Dewi Hazar. Gara-gara perkelahian ini, mereka berdua dihukum tidak boleh bersekolah selama tiga hari.

Nasib berubah ke arah yang lebih baik lagi. Bu Dewi mendatanginya dan bertanya, apakah dia mengenal tulisan di kertas yang dibawanya. Dengan girang Bondan menjawab bahwa itu adalah tulisan Bibi Sandi. Dewi Hazar menjelaskan bahwa Sandi adalah kakaknya. Ternyata Sandi meminta bantuan Dewi untuk mencari keponakannya di Indonesia dan keponakannya itu adalah Bondan.

Sampul masih kuno penggarapannya. Masalah dana? Kalau ini alasannya, saya tidak dapat berkomentar tentang sampul lebih lanjut. Tetapi saya beranda-andai, jika cetakan buku-buku dari Balai Pustaka diperbaiki, apalagi untuk buku anak-anak, tentu akan menarik anak-anak untuk membacanya. Jika banyak yang membeli buku penerbit ini, tentu mereka lebih mempunyai dana untuk menaikkan omset penjualan (bukan merugi).

Dibandingkan dengan buku anak-anak terbitan Balai Pustaka yang selama ini saya baca, novel ini lebih ber-plot. Tidak mengherankan jika di halaman awal tertulis untuk anak berumur 10-12 tahun, Sebab buku ini agak rumit dibaca untuk anak-anak dibawah umur 10 tahun meskipun adanya beberapa gambar ilustrasi dapat dipergunakan membantu anak-anak beralih dari buku penuh gambar ke buku penuh tulisan saja.

Saya terbiasa membaca buku anak-anak Balai Pustaka dari sudut pandang orang ke-3. Dengan sudut pandang ini, buku anak-anak tersebut biasanya diceritakan dengan gaya “baik-baik”, tentu saja, karena sudut pandang orang-3 memungkinkan narator cerita (yang notabene adalah orang dewasa) memasukkan alam pikirannya sendiri. Buku ini tidak. Sudut pandangnya adalah orang pertama, sehingga mau tidak mau pikiran narator adalah pikiran tokoh Bondan. Keinginan anak laki-laki seusianya tertampung dengan alami, seperti pikiran untuk berkelahi karena dihina atau merasa sakit hati karena direndahkan.

Mudah-mudahan unsur-unsur pendidikan seperti ini dapat tercipta di buku-buku penerbitan swasta dengan lebih banyak. Cerita anak-anak tidak melulu fantasi, fabel dan dunia antah berantah lainnya, namun dapat juga mencangkup kehidupan sehari-hari. Dengan catatan, jangan menggunakan gaya bercerita seperti buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia agar anak-anak tetap tertarik membacanya. Semoga!

Daftar Tokoh

Nama

Keterangan

Bondan Tokoh utama
Paman Sandi Paman Bondan yang pindah ke Jerman Barat
Paman Gatot Kakak kandung Ibu Bondan
Nora, Didit, Atik, Ike Anak Paman Gatot
Gimun Anak dari adik Nenek Bondan
Pak Gunawan Bekas teman sekolah bibi Bondan
Doni Adik Pak Gunawan
Yenny Anak bungsu Pak Gunawan
Pak Thomas Teman Pak Gunawan
Roni Teman sekolah Bondan; suka membuat masalah di sekolah; lucu
Pak Didi Guru Bondan dan Roni
Dewi Hazar Guru baru yang menggantikan Pak Didi; adik
Hari Teman sekolah Bondan; tidak suka pada Bondan
Totok, Yanto, Komar, Cecep Anak-anak pengawal Hari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s