The Fault in Our Stars


the fault in our stars, john green, qanita, fiksi, cerita remaja, sinopsisJudul Buku: Fault in Our Stars
Penulis: John Green
Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno
Penyunting: Priska Primasari
Penerbit: Qanita
Tahun Terbit: 2014, cetakan VII
Jumlah halaman: 422
ISBN: 978-602-1637-39-5

Hazel sudah pesimis dengan hidup bersama kanker. Tetapi kehadiran Augustus membuat kerlip kehidupannya kembali berpendar.

Hazel bosan dengan kehidupan sebagai penyandang kanker. Ibunya tak mau tahu. Dia memaksa Hazel untuk hadir di grup pendukung penyandang kanker. Untunglah, disana dia menemukan teman yang agak menyenangkan: Isaac, Si Kerempeng dan Augustus, cowok bermata biru. Hazel tertarik pada Augustus karena cowok itu selalu menatapnya. Kelak di kemudian hari, Hazel baru mengetahui kalau Augustus sering menatapnya karena mengingatkan pria itu akan Monica, kekasihnya, yang dijumpainya saat Augustus opname di Rumah Sakit Memorial. Tak lama, Hazel Grace Lancaster dan Augustus Waters berpacaran.

Hazel suka membaca buku Kemalangan Luar Biasa, karya Peter Van Houten. Dia kecewa pada bagian akhir cerita yang menggantung. Hazel berusaha berkirim surat pada Peter yang tinggal di Amsterdam, Belanda. Peter tak pernah membalas surat-suratnya.

Hazel menceritakan keinginannya akan akhir cerita tersebut pada Augustus. Pacar Hazel tersebut lantas mengontak Peter. Tak disangka, Peter membalas surat mereka melalui sekretaris pribadinya, bernama Lidewij Vliegenthart, dan mengundang mereka berdua untuk datang ke Amsterdam.

Sayang sekali, Peter tak menjawab semua pertanyaan Hazel dan dia kecewa. Augustus membawa Hazel berjalan-jalan di rumah bekas persembunyian Anne Frank untuk menghiburnya. Disanalah Hazel baru mengetahui bahwa Augustus sebenarnya belum sembuh dari kanker, bahkan saat akan berangkat ke Amsterdam, Augustus sempat bertengkar dengan orangtuanya karena orangtuanya melarang dia pergi sebab dia harus menjalani kemoterapi.

Keadaan Augustus terus memburuk. Dia merasa bahwa waktunya sudah dekat untuk pergi selama-lamanya. Augustus mengundang Hazel dan Issac agar menggubah eulogi untuk pemakamannya nanti. Tepat delapan hari setelah mereka bertemu untuk saling mendengar eulogi, Augustus meninggal dan dimakamkan di Crown Hill Cemetery.

Saya melihat bahwa sampul novel cukup romantis. Saya menduga bahwa ini kisah romantis antara sepasang remaja. Dugaan saya agak salah. Sebelum halaman 207 dari 422 halaman, saya hanya menemui cerita datar. Andai digambar dengan sebuah grafik, gambar grafiknya lurus. Tak membangkitkan emosi. 200 halaman pertama lebih cenderung mengenai penyakit mereka dan hubungan mereka dengan lingkungan. Baik teman maupun keluarga. Justru cerita mengenai Peter Van Houten lebih dominan.

Jujur saya akui, saya bosan. Saya agak sulit memutuskan “Apakah ini adalah cerita tentang perjuangan seorang penderita kanker yang dibumbui romantis atau sebaliknya”? Baik romantis atau perjuangan nampak tidak dominan. Dalam segi perjuangan penderita kanker, novel Before I Die karangan Jenny Downham lebih bagus. Tetapi dalam segi chemistry tokoh, The Fault in Our Stars lebih baik.

Setelah mencapai halaman 207, cerita mulai agak dapat dinikmati secara emosi. Augustus mulai serius mengucapkan cinta pada Hazel. Dan pada bagian akhir, penceritaan mengenai keadaan kematian Augustus agak memperkuat emosi. Sayang, sekali lagi sayang, penutupan novel juga gagal membangkitkan emosional saya.

Saya hanya sedikit memberi nilai plus pada ide cerita. Untuk pertama kalinya saya membaca novel yang tokoh-tokohnya banyak menderita kanker. Biasanya, tokoh yang menderita kanker cuma satu. Uniknya lagi, Hazel sampai harus membawa tas oksigen beroda kemana-kemana karena paru-parunya susah bernafas.

Daftar Tokoh

Nama Tokoh

Keterangan

Hazel Grace Lancaster

Tokoh utama. Penderita kanker Tiroid metastasis di paru-paru. Usia 16 tahun

Augustus Waters

Tokoh utama. Penderita kanker osteosarkoma. Usia 17 tahun. Pacar Hazel

Issac

Teman Hazel dan Augustus. Penderita kanker mata

Peter Van Houten

Penulis buku Kemalangan Luar Biasa. Tinggal di Amsterdam

Lidewij Vliegenthart

Sekretaris Peter Van Houten

Kaitlyn

Teman Hazel

Caroline Mathers

Pacar Augustus yang meninggal karena kanker otak

Monica

Pacar Issac. Meninggalkan Issac setelah Issac buta karena operasi mata

Patrick

Ketua kelompok pendukung penderita kanker

Julie dan Martha

Kakak tiri Augustus

Iklan

8 responses to “The Fault in Our Stars

  1. sama filmnya cakepan mana mas?

    Suka

  2. Itu sudah dipasikan bukan saya. Terima kasih juga respon-nya. 🙂

    Bener banget. Di buku dengan bahasa aslinya kocak banget. Ya, candaan2 khas mereka yang kalau di-Indonesiakan kurang lucu. Tapi ini buku yang katanya ‘datar’ tapi bisa buat saya menangis saat August meninggal. Dan tercekat pada banyak adegan2 kecil. 🙂

    Suka

  3. Udah baca yang versi bahasa Inggrisnya, yang terjemahannya belum. Beberapa kali membaca novel dari luar, pasti awal-awalnya selalu datar. Mungkin penulisnya ingin memperkenalkan tokoh2nya dengan detail, mau nggak mau kita/pembaca terikat dan kenal betul dengan tokoh-tokoh itu. Hingga kejadian sederhana saja bisa menyentuh emosi kita/pembaca. Setuju sama review ini, endingnya juga menurut saya kurang ‘jleb’. 🙂

    Suka

    • Terima kasih atas kunjungannya Kak

      Disukai oleh 1 orang

    • Kebetulan di FB Goodreads Indonesia ada yang berkomentar senada dengan Kakak. Saya tidak tahu ini Kak Saragieyunita atau bukan. Jika bukan saya kopikan balasan saya kepada teman tersebut:

      Faktor bahasa memang berperan. Saya jadi ingat ketika berkemah sama teman-teman bule. Dia melucu dengan bercerita tentang seseorang di pesawat terbang yang bertemu dengan temannya bernama Jack. Dia berkata, “Hi, Jack.” Tiba-tiba seluruh penumpang mengacungkan tangan tanda menyerah. Saat itu hanya saya saja yang tersenyum, teman-teman saya yang lain tidak. Dalam bahasa inggris memang “Hi Jack” mirip dengan Hijack. Namun jika diterjemahkan ke bahasa indonesia, menjadi tidak lucu. Salam Kenal. Senang punya teman pegawai perpustakaan di Belanda

      Disukai oleh 1 orang

  4. belum sempat baca bukunya. tapi suka sama lay out bagian dalamnya. cantiik

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s