Cerita Mini: Jangan Pergi


Sebenarnya Deni ragu-ragu. Ia pernah berjanji untuk tidak mengganggunya lagi. Tapi ini penting. Dia akan pergi esok. Sebuah tawaran beasiswa dari Amerika diterimanya. Deni ragu, apakah ia akan pernah kembali lagi. Jika memang itu terjadi, dia ingin melihat Martha untuk terakhir kali.

Deni tak punya alasan untuk tetap tinggal di Indonesia. Ibu dan nenek adalah keluarga terakhirnya. Mereka berdua tewas saat letusan Gunung Kelud baru-baru ini. Ayahnya? Entah! Sejak kecil ia tak pernah mengucapkan kata Ayah karena Ayahnya sudah pergi selama-lamanya saat ibunya mengandung Deni di usia tiga bulan.

Bunyi bel rumah, romance d’amor hanya terdengar beberapa detik saja ketika seseorang muncul di balik korden. Mama Martha tersenyum. Mama Martha memang mengetahui kalau Deni pernah berpacaran dengan anak gadisnya.

“Apa kabar, Den. Ayo masuk. Sudah lama kamu gak kesini.”

Deni merasakan suara mama Martha bergetar. Sedih? Tapi kenapa? Apa mama Martha masih berharap bahwa dirinya dan Martha kembali seperti dulu.

“Ibu mau buat minum dulu.”

“Tidak usah, Bu. Saya cuma sebentar.”

“Cuma air putih, kok.” Mama Martha berlalu ke arah dalam. Tak berubah. Mamanya Martha ramah seperti biasa. Tidak seperti anaknya. Martha galak, jago masalah cemburu tapi herannya Deni tak terusik dengan tingkah laku Martha.

Gadis itu memutuskan hubungan mereka setelah berkenalan dengan seorang pria di tempat Gym. Badannya yang kekar, perut sixpack, dan tingginya yang menjulang memang sosok sempurna seorang pria. Bandingkan dengan badannya yang kurus dan kulit sewarna buah sawo. Saat Martha meminta mereka putus, Deni cuma menjawab oke. Memangnya apalagi yang harus dikatakan? Pacaran adalah urusan dua hati, jika cuma seorang hati yang mengusahakan, itu namanya pemaksaan. Inilah yang diyakini Deni.

“Hei.” Deni masih memandang dengan kagum pada Martha. Mereka memang putus dalam keadaan Deni masih sangat mencintai Martha. Gadis itu keluar dari arah yang sama dengan mamanya masuk kedalam.

Martha cuma tersenyum. Bau sabun yang dipakai Martha memenuhi ruangan. Martha duduk dan diam.

“Aku minta maaf. Aku melanggar janjiku untuk tidak ketemu sama kamu. Tapi aku tak punya keluarga. Rasanya tidak enak kalau mau pergi tapi gak pamit siapa-siapa.” Deni tersenyum. Senyum yang semu karena sebenarnya ia tidak sedang ingin tersenyum.

“Aku sudah menganggap keluargamu sebagai keluargaku.” Deni menambahkan. Martha tetap diam. Matanya terarah pada jendela di belakang Deni.

“Aku mau ke Amerika. Ada beasiswa disana. Aku cuma mau pamit.” Tangannya kemudian mengeluarkan sebuah kotak dengan bungkus biru kelam bertali pita berwarna biru muda. “Kalau kamu menikah nanti, mungkin aku tak bisa datang, jadi aku berikan sekarang saja. Ini hadiah buat pernikahanmu nanti. Meskipun aku bukan” Matanya memandang Martha. Tapi mata Martha mengarah pada jendela di teras. Deni tak meneruskan kata-katanya. Dia meletakkan kotak tadi di meja, di depan Martha.

“Maaf, sekali lagi maaf kalau aku mengganggumu.” Deni berdiri dengan perasaan tak enak. Tiba-tiba Martha ikut berdiri dan berbalik menuju ke dalam rumah. Deni hanya menatap kelambu yang bergoyang-goyang di terpa tubuh Martha. Matanya menatap kotak tadi kemudian berjalan kearah pintu dengan desahan nafas berat.

Deni masih termangu-mangu setelah membuka pintu pagar. Tadi ia berharap setidak-tidaknya Martha berbicara beberapa kata. Ia masih rindu mendengar suara gadis itu. Dia tak berharap banyak pada kembalinya hubungan mereka. Deni hanya ingin jika tidak menjadi kekasih, dia berharap mereka menjadi saudara.

Mama Martha keluar dari balik kelambu sambil membawa kopi hangat diatas baki. Ia terheran-heran mendapatkan ruang tamu kosong. “Lho, Deni kemana? Kenapa tidak pamit?”

***

Deni duduk di sebuah kursi. Pesawatnya akan berangkat satu jam lagi. Berulangkali matanya menatap orang-orang yang akan berpisah dari keluargannya. Setiap kali ia melihat mereka memeluk satu sama lain, hatinya perih. Seharusnya sekarang Martha disini memeluknya. Mungkin mereka saling bertukar janji. Janji bahwa ia akan kembali untuk menikahi Martha. Mungkin saja Martha saat ini menangis dan mereka akan saling berjanji untuk saling menelpon.

Saat matanya terpejam, sebuah tangan menyampir pada pundaknya. Deni tiba-tiba merasa senang. Ia berharap bahwa itu adalah Martha.

“Hai, lama gak ketemu.”

“Ei, Gede.” Deni kecewa, tapi rasa riangnya kembali muncul. Gede adalah temannya semasa SMA.

Gede melihat Deni dengan prihatin dan duduk di sampingnya. “Aku tahu kenapa kamu kelihatan tidak bersemangat.”

Deni cuma tersenyum. Seluruh teman SMA-nya memang tahu kalau dia berpacaran dengan Martha. Mereka selalu mengatakan kalau Deni dan Martha  seperti Galih dan Ratna di film percintaan remaja tahun 1979, Gita Cinta dari SMA. Mereka juga tahu kalau pada akhirnya hubungan mereka kandas.

“Aku turut berduka cita.”

Suara Gede membuatnya tubuhnya menegang. “Berduka cita?” Kedua alis Deni naik.

Gede semakin sedih melihat Deni. Ia merasa Deni mencoba untuk menipu dirinya sendiri dengan berpura-pura tak ada masalah.

“Kalau maksudmu adalah nenek dan ibuku, kamu sudah terlambat beberapa tahun.”

“Maksudku Martha.”

Nafas Deni langsung berhenti. “Ada apa dengan Martha?”

Gede memandang Deni dengan pandangan tak mengerti. “Kamu tidak tahu kalau Martha sudah meninggal?”

“Apa!” Deni mencengkeram lengan Gede. “Bli Gede. Jangan bercanda yang bukan-bukan. Aku tahu kalian semua menyalahkan Martha karena hubungan kami putus, tetapi aku tetap tidak senang kalau ada orang yang mengolok-ngolok Martha.”

“Martha memang sudah meninggal. Aku tidak bercanda.”

“Tidak mungkin.” Deni berteriak keras. “Kemarin aku ketemu sama dia di rumahnya. Itu T-I-D-A-K  M-U-N-G-K-I-N.”

“Den. Ayolah. Kamu tidak akan bisa pulih kalau kamu tidak bisa menerima kenyataan.”

Deni mengambil tas ranselnya dan bergegas pergi.

Dengan tidak sabar Deni membunyikan bel rumah Martha. Mama Martha muncul. Senyumnya masih sama seperti kemarin. “Kok kemarin gak pamit, Den.”

Deni tidak menunggu sampai pintu pagar terbuka. Ia menatap tajam-tajam pada mata mama Martha, “Katakan pada saya, Bu. Apakah Martha meninggal?”

Mama Martha terdiam. Dari bahunya, Deni tahu kalau mama Martha sedang menahan gemuruh pada dadanya. Mulanya begitu kecil. Semakin lama bahunya bergetar dengan hebat.

“Bu, tolong jawab saya. Apakah Martha memang meninggal?”

Mama Martha mengangguk.

“Tapi kenapa Ibu memberi saya undangan pernikahan?”

Mama Martha kembali menguasai diri. Ia tengadah sebentar sebelum berkata, “Waktu itu dia masih hidup, Den. Tapi seminggu setelah kami membagikan undangan

Aliran deras air mata mama Martha kembali terurai tapi suaranya masih cukup jelas mengatakan, “Dia mengalami kecelakaan dengan calon suaminya di Claket.”

Deni merasa seluruh tenaganya langsung sirna. Badannya melorot pelan-pelan. Dia terduduk di depan pagar. Kedua tangan Deni berusaha mendapatkan kekuatan dengan mencengkeram besi pagar erat-erat, tapi percuma. Kakinya serasa lumpuh. “Tidak, Bu. Seharusnya tidak seperti ini. Ini tidak mungkin. Kemarin saya menemuinya di ruang tamu. Tidak mungkin dia meninggal.”

Tangis mama Martha semakin dalam.

***

Tangannya menabur rontokan bunga mawar bercampur kenanga. Pelan-pelan, gundukan tanah yang masih basah itu tertutupi petikan bunga-bunga. Mulut Deni terkunci. Matanya nanar memandang pada nisan. Ayah, ibu dan kakak laki-laki Martha berada di seberangnya.

Ayah Martha menghampirinya. “Maafkan kami, Den. Ada yang harus kami sampaikan sekarang.”

Ayah Martha duduk di tanah, samping Deni. “Sebenarnya, putri kami masih mencintai, Nak Deni.”

Deni langsung mencegah. “Saya sudah tak mempermasalahkan, Pak. Saya mohon jangan dibahas lagi. Itu sudah berlalu.”

Tidak Den. Ini penting buat nama adikku dan kamu. Apalagi adikku sudah meninggal.” Kakak Martha angkat bicara.

Ayah Martha melanjutkan,”Anakku dinodai calon suaminya ketika diantar pulang dari gym. Martha ingin bunuh diri setelah itu, tetapi kami sekeluarga berhasil menasehatinya. Kami sekeluarga berusaha menghubungi keluarga pria itu dan mereka akhirnya mau menikahkan anak mereka. Martha mau menikah dengan pria itu dengan syarat bahwa kami tidak boleh memberitahukan peristiwa itu ke Nak Deni. Itu alasan dia memutuskan hubungan kalian.”

Mata Deni masih memandang nisan Martha. Nama Martha cukup indah, Alexia Martha Adidarma. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Dalam beberapa hari ini, dia menerima peristiwa-peristiwa lampau yang tak diduganya bertubi-tubi.

Kalau saja Martha mau memberitahu saya waktu itu. Saya sudah pasti mau menikahinya, Pak. Saya benar-benar mencintai putri Bapak.”

Maafkan kami, Nak Deni. Kami hanya tidak ingin Martha bunuh diri. Dia terlalu mencintai, Nak Deni. Harga dirinya runtuh setelah peristiwa itu.”

Martha, bisik Deni dalam hati, “Apakah aku terlambat jika mengatakan ‘jangan pergi’?”

6 responses to “Cerita Mini: Jangan Pergi

  1. Aku bner2 tersentuh setelh baca… makasih atas ceritanya… udh lma gak baca fiksi asli…

    Disukai oleh 1 orang

  2. bagus banget sih… gimana caranya bikin cerita bagus kayak gini🙂

    Suka

  3. boleh ngomentari gambarnya? … kereeen
    bikin sendiri ya?, berarti multi talented sampeyan, siiip

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s