Cerita Mini: Penjaja Selang


Aku paling tidak suka ini. Saat aku pulang, istriku menunggu di depan pintu dan tersenyum. Bukannya aku tidak suka dia melakukan itu, tetapi ini adalah tanda-tanda dia punya maksud tertentu.

“Met sore, Sayang. Kok gak bawa laptop?”

“Jaman sekarang laptop bukan bawaan bos tetapi tablet.” Aku mengacung-acungkan tablet merek terkenal di hadapannya.

“Percaya deh. Yuk, kamu mandi dulu, entar aku buatin kopi yang paling enak.”

“Gak mandi sama-sama.” Aku mengedip-ngedipkan mata.

“Ogah. Kalau mandi sama-sama, mandinya gak bisa cepet. Tanganmu maunya kemana-mana.” Istriku mencubit daguku lantas mendorongku ke arah kamar mandi. Aku semakin curiga dugaanku benar.

Selesai mandi aku duduk dengannya di depan TV. Sekali lagi jantungku berdegup kencang. Apa yang mau diomongin sekarang?

“Mas masih ingat kita pernah membicarakan bagaimana cara kita mempunyai anak.”

Aku mengingat-ngingat pembicaraan kami sebulan lalu. Istriku tidak dapat mempunyai anak setelah rahimnya diangkat karena kanker rahim. Dia menangis selama seminggu sesudah pengangkatan itu.

Ada yang sangat kusesali saat aku menghiburnya kala itu. Aku berjanji akan melakukan segala cara agar kami mempunyai anak. Dan sebulan lalu ia menagihnya. Ia menyuruhku mencari seorang wanita untuk berhubungan denganku.

“Kamu gila, Riska.”

“Kamu sudah berjanji akan melakukan segala cara agar kita mempunyai anak.”

“Tapi bukan dengan cara begini. Kita bisa mengadopsi anak. Aku sering ke panti asuhan sejak SMA untuk bakti sosial, aku—”

“Tidak. Tidak, Mas. Aku pengin anak dari benih kita. Kalau aku tidak bisa memberikan, setidaknya benihmu ada di anak kita.”

“Benihku dan orang lain maksudmu.”

“Aku tidak perduli.” Riska menjerit. “Aku perempuan tidak sempurna. Aku tahu itu.”

Aku mendekati Riska dan memaksa memeluknya. Ia meronta-ronta untuk beberapa saat, tetapi apalah artinya tubuhnya yang kecil itu dibandingkan aku. Saat ia mulai tenang, aku mencium keningnya. Aku ingat, ia sangat suka dibelai kepalanya. Setelah tenang, dengan terpaksa aku setuju dengan ide gilanya. Riska langsung riang. Dia duduk di pangkuanku, menghadapku. “Kalau gitu, untuk malam ini kamu boleh minta gaya apa saja. Yuk.”

Riska menarikku ke arah kamar setelah membuat nafasku tersengal-sengal karena sengatan bibirnya.

***

Untuk ke sekian kalinya aku curiga. Ruang tamu terang benderang. Bau ayam bakar bumbu rujak kesukaanku tercium dari garasi mobil. Apalagi yang direncanakan Riska? Sudah seminggu ini Riska “mendidikku”. Dia mengatakan bahwa dia sudah mendapatkan wanita yang tepat. Dia menjamin bahwa aku akan menyukainya. “Percayalah sama aku. Kamu bakalan akan menyukai wanita ini.”

Senyum rahasia istriku menyambutku beberapa hari kemudian. Aku tidak perlu curiga. Aku sudah tahu pasti, sekarang adalah saat perempuan itu datang. “Mandilah dulu, nanti kita akan makan sama-sama.”

Dan sekaranglah saat itu. Aku duduk berhadapan dengan Riska, saat ia berkata agak keras, “Sayang. Kesini dong. Kita makan sama-sama.”

Aku menunggu dengan berdebar-debar. Seorang wanita keluar dari kamar. Ia memakai tanktop warna coklat. Rambutnya lebat jatuh di sepanjang bahu. Wajahnya oval sama dengan Riska. Pipinya tampak selalu merona, apalagi ketika matanya bertatap denganku. Ia lebih pendek dari Riska tetapi mempunyai dada yang sama—Ya ampun, aku baru sadar, kelihatannya Riska sengaja mencari wanita yang mirip dengannya. Tanktop itu milik Riska. Hotpant itu juga. Bahkan bau parfumnya adalah bau parfum Riska. Istriku pintar. Dia berusaha dengan segala cara agar aku cepat nyaman dengan wanita ini.

Jantungku semakin berdebar ketika acara makan selesai. Riska mengedipkan mata kearahku. Aku tahu maksudnya. Ia menyuruhku mengajak wanita itu ke kamar. Tetapi aku masih merasa jengah. Ini benar-benar gila. Aku, pria beristri, berhubungan dengan seorang wanita di rumahku sendiri dan istriku menyetujuinya. Apakah aku harus meneruskan perbuatan gila ini? Tetapi jika aku menolak, Riska pastilah tak mau berbicara denganku lagi.

Aku berpikir-pikir, apakah Riska benar-benar tersenyum saat ini. Ataukah sebenarnya hatinya hancur. Apakah rasa ketidakberdayaannya membuat berbuat gila seperti ini. Riska memang tidak pernah menunjukkan rasa cemburu. Tetapi bukan berarti dia tidak waspada jika ada seorang wanita mendekatiku.

Bau kamar sesuai seleraku. Warna rempah wangi dari bauan aromatik yang dibakar pada lilin kecil dekat nakas. Ia duduk di tepi ranjang. Wajahnya menunduk. Aku ikut duduk di dekatnya.

“Namamu siapa?”

“Sinta.”

“Namaku Dodi,” ujarku. “Kenapa kamu mau melakukan ini?”

“Saya—” Sinta memain-mainkan kedua jempol. Aku tahu, dia mungkin tidak ingin meneruskan pembicaraan ini. Tapi aku sendiri juga malu untuk langsung ke tujuan kita masuk ke kamar ini, rasanya aku seperti mengalami malam pertama lagi.

“Saya sudah tidak suci sejak kecil, Mas. Tetangga saya yang melakukan. Waktu itu Ibu dan Bapak semuanya bekerja. Saya dititipkan di tetangga.” Sinta mengusap-usap air matanya. “Bagi saya tidak ada bedanya apakah saya melakukannya atau tidak.”

“Jelas ada bedanya, Sinta. Kamu tahu, kan, kalau istriku ingin kamu hamil dan anak yang kamu kandung nantinya akan jadi anak kami—Kamu masih belum menjawab pertanyaanku, Sinta. Kenapa kamu mau melakukan ini.

Sinta mengangkat dagu. Dengan takut-takut ia memandangku. Matanya terasa teduh. Aku jadi ingin berenang-renang di matanya. Warna malam di tengah matanya seperti rasa wanita yang ingin bersandar pada seseorang. Apakah beban hidupnya terlalu berat? Aku jadi tidak tega melakukannya. Haruskah aku merusak seseorang seperti dia?

“Saya ingin punya sawah di desa, Mas. Saya tidak mau tinggal di kota.”

“Kalau cuma itu, aku bisa kasih kamu, tanpa kamu melakukan ini.”

“Tidak, Mas. Lebih dari itu, saya ingin merasakan jadi ibu. Saya sudah tidak mungkin menikah dengan pria baik-baik. Jika saya nekat, dia pasti meninggalkan saya ketika tahu bahwa saya sudah tidak perawan di malam pertama. Dengan melakukan dengan Mas—” Sinta tersipu-sipu. “Setidak-tidaknya saya pernah merasa melakukan dengan pria baik-baik dan punya anak.”

Pertahananku semakin goyah. Aku semakin tidak tega. Sinta sepertinya tahu keenggananku. Setelah kami terdiam untuk beberapa lama. Ia menoleh padaku, “Apa Mas sekarang jijik sama Sinta?”

“Tidak.” Aku menatapnya. Jemariku menyeka sisa-sisa air mata di sekitar matanya. Aku mendekatkan bibirku ke arahnya bibirnya. Bau istriku semakin mempengaruhiku. Bau ini pasti bau vitamin rambut milik istriku. Ia sudah mengusapkan pada rambut Sinta. Bibirnya dingin, tetapi sebagai lelaki aku tidak mungkin membiarkan dia yang melakukan terlebih dahulu. Aku mengusap belahan bibirnya. Butuh beberapa menit agar membuat bibirnya mulai merona panas dan ia mulai membalas belitan lidahku.

Riska…Riska… Aku membayangkan istriku. Seakan-akan semua kulit Sinta terangkat dan digantikan dengan milik Riska.

Keringatku terasa menetes tanpa putus ketika ada sesuatu yang menggelora dari diriku. Aku menyebut nama Riska sekali lagi.

***

Riska memaksaku setiap dua hari sekali melakukannya dengan Sinta. Ia beralasan bahwa benihku matang tiap dua hari sekali dan ia sudah menghitung masa subur Sinta. Jika bulan ini gagal, berarti aku harus mengulanginya bulan depan. Dengan wajah seram ia mengancamku, “Jangan coba-coba sengaja membuatnya gagal, ya! Aku tidak suka Sinta kalamaan sama kamu.”

Sementara itu, Sinta dan aku semakin akrab. Sebelum melakukannya, ia sering bercerita ini-itu. Aku baru tahu bahwa Sinta senang bercanda juga sama seperti istriku. Pada hari ketiga, entah angin darimana, tiba-tiba pembicaraan kami sangat serius. Sinta mengatakan kalau ia menyukaiku. Ia benar-benar berharap aku akan menikahinya. Ia tidak perduli harus menjadi istri ke-4 sekalipun.

“Aku tidak bisa, Sinta. Kamu tahu, aku sangat mencintai istriku. Kalau bukan karena terlanjur berjanji dengan istriku, aku tidak mau melakukannya.”

“Jadi Mas Dodi melakukannya denganku tanpa perasaan apa-apa? Apa Mas Dodi cuma menganggap saya cuma penjaja selang?”

“Penjaja selang? Maksudmu apa?”

Sinta mendekati aku, matanya menangkap mataku. Sekali lagi berkata, “Apa Mas Dodi cuma menganggap aku penjaja selang…kangan?” Sebuah aliran air hangat jatuh dari kedua matanya. Sinta cepat-cepat menyapu dengan punggung tangan, tetapi telaga air matanya tak mau kering.

Tidak Sinta. Bukan ini maksudku, keluhku dalam hati. Tak ada timpalan kata yang sanggup aku temukan untuk meredakan rasa hina dari Sinta. Aku cuma memeluknya. Semakin lama semakin erat. Sinta tak membalasnya seperti biasa. Kedua tangan Sinta tetap menggantung disamping tubuhnya. Wanita ini terluka, aku tahu. Tetapi mestinya dia sudah tahu sejak semula resikonya. Dia seharusnya sudah tahu bahwa apa yang aku dan dia lakukan cuma sekedar bisnis. Aku tak mencintai Sinta sama sekali. Aku membela diri. Namun cuma di hati. Aku tak punya keberanian mengatakan terus terang pada Sinta.

“Aku hanya minta satu hal untuk malam ini.”

“Apa itu?”

“Maukah Mas Dodi menyebut namaku saat puas nanti.”

Aku cuma mengangguk. Malam itu aku menyebut namanya ketika saat itu datang.

***

Aku terkejut. Suara dari ponselku berdering cukup keras. Kemarin malam Sinta sudah bukaan tiga. Dokter menyuruhnya pulang. Tetapi jam sembilan tadi Riska mengantarnya ke rumah sakit.

“Mas. Cepat ke rumah sakit.” Aku merasakan suara Riska sangat bergetar.

“Ada apa? Kok kelihatannya ada yang tidak beres.”

“Sudahlah, Mas. Cepat datang kesini.”

Ternyata aku datang cuma menjemput kelu. Sinta mengalami pendarahan hebat. Dokter cuma bisa menyelamatkan bayi Sinta.

Aku memeluk bayi itu dengan hati yang teraduk campuran bahagia dan sedih. Untuk pertama kalinya sepanjang sembilan bulan ini, aku menyadari betapa aku begitu kejam terhadap Sinta.

Tuhan, maafkan dosaku dan istriku.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s