Cerita Mini: Cinta yang Sederhana


Milla menatap kopi latte diatas meja. Andai dia tidak gundah, kopi latte ini akan selalu membuatnya merasa senang. Barista café ini menggambar panda dengan mata terbuat dari krim coklat; terasa menggemaskan.

Lima tahun lalu, café ini menjadi saksi bisu perpisahannya dengan Jody. Lelaki kurus berkacamata. Badan tak berbodi dan pecandu buku. Yang aneh, Milla memutuskan Jody tanpa alasan. Dia hanya merasa bosan. Milla heran, bagaimana bisa dia dulu jatuh cinta pada Jody. Dia bukan Rudy, lelaki pelatih Karatenya. Bukan pula mirip Damar, pelatih yoga favoritnya. Semua serba tak ideal. Ia malu ketika Rudy menyapanya di Mall saat ia berjalan dengan Jody. Pacarnya itu tampak santai, namun jelas sudah bahwa Rudy sengaja mengintimidasi Jody. Berusaha memperlihatkan kepada Milla, “Ngapain kamu punya pacar seperti anjing kurap.”

Matanya menangkap dua orang pasangan tua memasuki café. Dia menembak umur mereka sekitar enam puluhan. Si Pria tampak buta. Milla dapat melihat pandangan matanya tidak fokus kemana-mana, khas orang buta. Si Wanita, Milla menduga istrinya, tampak dengan mesra memegang tangan prianya.

Ketika makanan pesanan mereka datang, Si Wanita tampak menyuapi Si Pria. Mereka tertawa dan bercanda.

Milla merasa ngilu. Ia cepat-cepat ke toilet. Setelah menutup pintu, ia menangis di dalam. Ia sekarang ingat kenapa ia mencintai Jody. Milla keluar dari kamar mandi dan bertemu dengan Si Wanita tua di wastafel. Milla menyapanya setelah wanita itu tampak selesai mencuci tangan.

“Saya melihat Ibu dan Bapak tampak mesra tadi.”

Wanita itu menoleh, tersenyum. “Kalau kamu tahu apa yang sudah dilakukannya padaku, kamu tidak akan heran kenapa aku mencintai dia.”

Milla ingin bertanya alasannya, namun mengurungkannya. Ia merasa tidak sopan bertanya-tanya hal yang pribadi pada orang yang baru dikenalnya. Tetapi wanita itu menjawabnya. Ia bercerita bahwa dulu ia pernah kecelakaan dan mengakibatkan matanya buta. Dua minggu setelah menyadari matanya buta, dokter mengatakan padanya bahwa matanya akan sembuh. Dokter tidak mengatakan apa-apa lagi kecuali bahwa hari Senin depan ia dapat melihat lagi.

“Memang benar. Beberapa hari setelah operasi, aku dapat melihat lagi. Aku lantas menyuruh dokter untuk menelepon tunangannku. Dan betapa terkejutnya aku ketika kami bertemu, dia sekarang buta.” Wanita itu tampak mengusap buliran air mata yang mendobrak untuk jatuh. Ia lantas menepuk-nepuk lengan atas Milla dan pergi meninggalkannya.

Milla tertegun. Kisah wanita itu hampir sama dengan dirinya. Ia pernah dioperasi karena kecelakaan juga. Bedanya, bukan kornea mata yang dibutuhkannya, tetapi darah. Milla mempunyai golongan darah langka, rhesus negatif. Hanya Jody yang mempunyainya.

Hanya karena hutang budilah, ia lantas menerima cinta Jody yang mengejar-ngejarnya sejak SMP. Namun rasa malu karena ejekan teman-temannya, disertai ketidakmachoan Jody sebagai lelaki, membuat Milla harus mengatakan PUTUS! Putus dari Si Kutu Buku. Putus dari cowok kerempeng. Putus dari cowok berkacamata yang lebih cocok menjadi sasaran bully daripada sosok pahlawan bagi gadis seusianya.

Milla kembali duduk di kursinya. Jendela disebelahnya mempertontonkan hujan bulan Desember yang cukup deras. Wajahnya menelengkup pada meja. Ia tak sanggup melihat wanita dan pria tadi di meja seberangnya.

Tiba-tiba hidungnya mencium wangi rempah. Lengan kanannya semakin lama semakin hangat, tanda bahwa ada seseorang duduk di sampingnya. Dagunya terangkat ketika ia menoleh. Dia terkejut.

“Kamu?”

“Merasa terganggu?” tanya seseorang berambut pendek disampingnya.

Milla melihat pria memakai jas layaknya eksekutif muda. Matanya menangkap tubuh bugar pria itu seperti tubuh pria-pria yang dijumpainya di tempat fitness. Ia terperanjat setelah sadar siapa pria itu.

“Jody?” tanyanya ragu.

“Iya. Ini aku. Café ini milikku. Tepatnya, milik orangtuaku yang dihibahkan ke aku. Sekarang aku yang mengelolanya. Aku sering melihat kamu disini.”

“Jadi waktu itu kamu sengaja membawa aku kesini saat kita…”

“Ya. Saat itu aku tidak uang. Kalau aku mengajak kamu kesini, aku tidak perlu keluar uang, kan ini punya orangtuaku.”

Milla tertawa. Beberapa saat kemudian mereka berdua cuma berdiam diri. Jody mendekatkan diri pada wajah Milla. Ia berbisik, “Punya pacar?”

Ia menggeleng. Dua bulan lalu dirinya baru saja memutuskan Satria karena mendapati pria itu berjalan mesra dengan teman sekantornya.

“Kamu mau jadi ibu anak-anakku?”

Milla terperanjat. Ibu anak-anakku? Ia mengulangi kata-kata itu di hatinya.

“Rasanya aku tidak pantas, setelah apa yang sudah aku lakukan ke kamu waktu itu.” Bibir Milla terasa kering. Jantungnya terasa berdetak dengan tekanan tak tentu.

“Aku lebih perduli pada apa yang terjadi di depanku daripada di belakangku,” jawab Jody tegar. “Aku sudah berubah, lho.” Candanya. “Lihat.” Jody menarik kemejanya. Milla sempat melirik perut berotot tiga tingkat. Cepat-cepat ia menyapu pemandangan di sekitarnya, kuatir jika ada yang melihat tingkah Jody.

“Sudah. Tutup perutmu.” Milla masih melirih kanan-kiri.

“Nah, sekarang apa jawabmu?”

“Apa kamu punya tempat pribadi di café ini?”

Jody mengangguk. “Setiap Bos pasti punya tempat pribadi.” Ia bangkit berdiri diikuti Milla. Mereka berdua masuk ke sebuah ruangan dekat kasir.

Milla masih berdiri membelakangi pintu yang baru ditutupnya. Disandarkan punggungnya dengan nyaman sambil menatap Jody. Pria itu lantas berbalik lagi ketika merasa Milla tidak mengikutinya.

“Kenapa?” Jody berjalan mendekati pintu.

“Kamu serius dengan tawaranmu?”

Jody mengangguk. Kedua tangannya diulurkan pada dinding disamping kanan dan kiri Milla. Gadis itu merasa terperangkap dilindungi benteng hidup. Kiri-kanan oleh tangan Jody, sementara di depannya adalah badan Jody yang tampak lebih berisi.

“Aku minta maaf.” Milla mengatakan dengan nada lirih. Matanya terpejam. Ia merasa tak pantas menerima tawaran pria ini, tetapi dia juga tak mau melepas Jody.

“Aku selalu mencintaimu, Milla. Tidak perduli berapakali aku harus meminta, aku tetap akan lakukan, sepanjang kamu masih belum bersuami. Dan sekarang tolong jawablah untuk kesekian kalinya. Apakah kamu mau menjadi istriku?”

Milla diam. Ia memejamkan mata agar kilauan air matanya tak nampak oleh Jody. Sekali lagi ia merasa ada sesuatu yang hangat mendekatinya. Kali ini bukan cuma lengannya yang merasakan, tetapi bibirnya. Kehangatan itu bermula dari sisi kiri, lantas menyapunya perlahan-lahan. Jody meraih pinggang Milla, dan memeluknya erat-erat. Gadis itu tak kuasa menahan air matanya. Kedua tangannya mengembang untuk menerima dekapan Jody. Sekarang ia menyadari sesuatu. Bahwa cinta itu sederhana saja. Cinta itu hanya perlu saling memiliki.

2 responses to “Cerita Mini: Cinta yang Sederhana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s