Apakah Kamu Mencintaiku?


“Apakah kamu mencintaiku?” Keiko tersenyum mengembang. Giginya terlihat kecil dan tertatah rapi. Matanya berbinar-binar. Sesekali rambutnya terbang ke belakang. Angin di pantai saat itu sangat kencang.

“Hei. Pertanyaan macam apa itu?” Hendra meletakkan umpan yang akan dipasangnya. Disandarkan pancing di karang yang berdiri lebih tinggi dari karang lainnya. Ia berlutut di depan Keiko. “Kamu kekasihku. Sudah jelas, kan jawabannya? Emangnya ada orang yang membenci pacarnya?”

Keiko melengos. Tawanya segera berganti senyum kecil. “Semua cowok akan ngomong kayak gitu kalau masih pacaran. Coba deh kalau entar sudah menikah, ceritanya jadi lain.”

Hendra meraih tangan Keiko. Diciumnya beberapa saat sebelum berkata, “Kita sudah pacaran selama lima tahun. Coba hitung, berapa kali aku marah sama kamu?”

“Kamu memang enggak pernah marah sama aku. Tapi bukan berarti tidak ada masalah.”

“Oke, Keiko. Katakan padaku sekarang, apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya kalau aku benar-benar mencintai kamu?”

“Aku pengin tahu, apakah kamu tahan tidak ngomong sama aku sehariiiiiiiiii saja. Tidak ada BBM, tidak ada SMS. Tidak ada ucapan selamat tidur, atau pertanyaan, ‘Kamu sudah makan apa belum?’ Jika kamu bisa tahan, aku akan percaya kalau kamu benar-benar mencintai aku.”

Hendra mengernyit. Dahinya membentuk tiga garis lipatan kulit. Matanya meraba-raba wajah Keiko kalau-kalau gadis di depannya ini sedang bercanda. “Bukankah justru cinta harus sering ngomong satu sama lain.”

Keiko menyentuh pipi Hendra. Baru kali ini Hendra merasa bahwa mata Keiko bisa membuatnya tenggelam di dalamnya.

“Kamu harus bisa membedakan mana cinta dan mana posesif, Hendra sayang. Bagiku cinta adalah seberapa bisa aku tinggal dalam hatimu. Jika kamu merasa aku di dekatmu terus, kamu tak akan berani melirik gadis lain meskipun aku tidak sedang bersamamu. Kamu tak akan menjadikan aku sebagai alasan kamu tidak bisa belajar hanya karena kita berjauhan. Cinta seharusnya menjadikan diri kita menjadi lebih baik.”

Keiko memegang tangan Hendra. “Aku pengin cinta seperti itu. Apa kamu bisa memberikan?”

Hendra terdiam. Ia masih tak mengerti, tetapi tak urung Hendra mengangguk.

***

Hendra memacu sepeda motornya agak cepat. Dia sudah tak sabar melihat muka Keiko menyambutnya. Sudah sehari berlalu sejak mereka berjanji untuk saling tidak berbicara.

Hendra terkejut. Rumah Keiko ramai. Beberapa kursi tak beraturan dipasang di depan rumah. Ada dua orang menyambut tamu-tamu yang datang di dekat pagar. Seorang ibu berpakaian hitam tampak menyerahkan beras ke orang yang menyambutnya. Kerudung hitam mendominasi pakaian ibu-ibu yang datang.

Dia memarkir sepeda motor agak jauh. Ketika hampir sampai pagar, Hanna melihatnya. Kakak Keiko itu berjalan mendekati Hendra.

“Ada apa, Mbak?”

Hanna menyerahkan lipatan kertas pada Hendra. Air matanya tampak mengalir. Dengan tergesa-gesa, Hendra membaca lipatan kertas itu.

“Aku yakin kamu sanggup tidak berbicara sama aku dalam sehari. Aku tahu kamu sangat mencintaiku. Bisakah kamu melakukannya tiap hari?”

Hendra mempunyai perasaan tidak enak. Dia berlari kesetanan ke arah dalam rumah. Lututnya lemas ketika melihat Keiko dalam sebuah peti. Ia berbaring dengan memakai pakaian putih. Tangannya memakai sarung tangan. Sebuah buket bunga dipegangnya.

Hendra jatuh terduduk. Tangannya mencengkeram kuat-kuat tepi peti. Dahinya menempel pada tepi peti dengan mata terpenjam. Hendra sudah tidak dapat mendengar dengan baik ketika Hanna menjelaskan pada Hendra, bahwa Keiko menderita kanker getah bening. Ketika diketahui untuk pertama kalinya, kanker tersebut sudah pada tingkat 4.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s