Cerita Mini Horor: Jangan Menangis, Nak


Lusi menarik era-erat ujung jaket. Hawa di Blitar saat musim hujan amat menggigit. Dia menyesal tidak menuruti nasehat mamanya. Ibu Lusi melarangnya untuk pergi ke rumah nenek saat musim hujan karena Lusi menderita asma. Tapi Lusi nekat. Seminggu yang lalu dia baru putus dari pacarnya, dia ingin menyegarkan pikirannya biarpun hanya sesaat. Syukur-syukur kalau dia mendapat ide balas dendam terhadap mantannya.

Benar juga. Omongan orangtua sering bertuah. Neneknya tak ada di tempat.  Kerabat Nenek yang tinggal di Kediri meninggal, salah satu tetangga Nenek memberitahu Lusi. Nenek melayat kesana dan tak tahu kapan pulangnya. Yang parah, Nenek mengunci semua pintu rumah dan membawa kunci rumah. Padahal biasanya Nenek selalu meninggalkan kunci di tetangga. Sepertinya Nenek sudah mulai pikun, batin Lusi kesal.

Untungnya, Yu Darmi, tetangga sebelah kiri Nenek menawarkan pada Lusi agar mau menunggu nenek di rumahnya.

Jam menunjukkan pukul delapan malam ketika Yu Darmi menawarkan makan malam. Lusi dengan girang mengangkat pantatnya dari kursi. Dia memang sudah lapar dari tadi.

Bau masakan Yu Darmi memang benar-benar sedap. Sayur lodeh, ikan asin, dan ini dia, Uceng. Lauk Uceng cuma ada di Blitar. Uceng adalah ikan-ikan kecil yang didapat dari sungai dan digoreng dengan balutan tepung.

Sambil melahap makanannya, tanpa sengaja dia melihat tangan Yu Darmi. Tangan perempuan muda itu agak kotor. Kuku-kukunya tampak menghitam. Hidung Lusi menangkap bau seperti tanah dan lumpur bercampur air. Orang Jawa mengatakan bahwa bau seperti ini adalah bau ampo.

Lusi heran bukan baru kali ini. Sejak Yu Darmi menemaninya ngobrol beberapa jam lalu, ia sudah agak jengah karena Yu Darmi sering pamit sebentar ke belakang. Lusi mendengar suara tangisan sangat keras. Kadang tangisan itu melengking khas anak kecil. Mungkin Yu Darmi pamit sebentar untuk menenangkan anaknya, Lusi menduga-duga kalau anak Yu Darmi sedang sakit.

“Adik sakit, Yu?” tanya Lusi sewaktu Yu Darmi kembali menemaninya.

“Nanik takut sama petir. Setiap kali ada petir seperti ini, Yu Darmi harus menenangkan dia berulangkali.” Yu Darmi hanya tersenyum kecil. Sepertinya ia malas membicarakan anaknya. Lusi tahu diri, dia tak berusaha membicarakan anak itu lagi, apalagi hujan turun sangat deras disertai petir. Sesekali petir itu membuat kaca-kaca jendela Yu Darmi bergetar.

Bahkan saat mereka berdua makan, Yu Darmi sering pamit ke belakang. Lusi jadi tahu kebiasaan Yu Darmi pamit. Janda itu pamit setelah ada sebuah petir menyambar, sebab saat petir selesai menyambar, tangisan anak itu kembali terdengar.

Lusi merasa tak enak hati. Dia tak melakukan apa-apa untuk membantu Yu Darmi, padahal Yu Darmi sudah banyak berbuat kebaikan pada dirinya, dari menawarinya tinggal, menemaninya ngobrol, sampai memasakkan makanan untuknya.

Tapi juga bukan salah Lusi.  Sejak tangisan pertama, Lusi menawarkan diri untuk menemani Si Kecil. Bahkan saat Yu Darmi masak, Lusi sudah berkali-kali menyatroni di depan kamar Yu Darmi, tetapi Yu Darmi tak merespon. Sepertinya Yu Darmi tak ingin merepotkan Lusi.

Dan kali ini, saat makan malam, untuk ke sekian kalinya Yu Darmi pamit. Namun detik ini Lusi sangat terheran-heran. Yu Darmi pergi ke luar lewat pintu belakang saat mendengar Si Kecil menangis. Kalau Si Kecil tidak di kamar Yu Darmi, lantas dia ada dimana? Apakah Yu Darmi punya rumah yang terpisah dari rumah utama?

Lusi penasaran. Ketika Yu Darmi pergi keluar rumah. Diam-diam Lusi mengikutinya. Dia menjaga jarak sekitar lima meter di belakang Yu Darmi.

Perempuan berpakaian sederhana itu berjalan menuju kebun belakang rumah. Ia membawa senter dan payung. Tangisan itu semakin keras saat petir menyambar.

Lusi terbelalak melihat pemandangan di depannya. Nafasnya tersengal-sengal. Dia lupa kalau menderita asma. Gabungan antara dingin dan rasa terkejut membuat Lusi susah menghirup oksigen. Ia mendongak, badannya bergetar hebat sebelum jatuh ke tanah.

Beberapa meter dari tempat Lusi, Yu Darmi sedang jongkok menghadapi gundukan tanah. Dua bilah kayu ditancapkan di kiri dan kanan gundukan. Salah satu kayu bertuliskan:

Nanik Arthakusuma
Lahir: Kamis Wage, 12 Desember 2010
Wafat: Rabu Legi, 3 Maret 2014

Dengan pandangan sedih, Yu Darmi menepuk-nepuk kepala nisan dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya digunakan untuk bertumpu agar dirinya tak jatuh.

“Udah, ya, Nik. Bobok. Bobok. Cup. Cup. Emak disini.”

Tangis Nanik semakin surut dan berhenti.

 Sumber gambar: thistheplace.org

5 responses to “Cerita Mini Horor: Jangan Menangis, Nak

  1. Ga kebayang gimana ekspresinya Lusi.😯

    Suka

  2. Iiiiiii…… Pasti Bu Yu darmi merasa kehilangan sekali ya dalam ceritanya mas. Kaya nya gimana gitu anak yang telah kita lahirkan pergi dengan begitu cepat.😥

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s