Sayangilah Hantu


Aku mempunyai seorang teman yang unik. Sebut saja namanya Anwar. Dulu dia orang miskin. Tetapi ada suatu keadaan yang membuatnya menjadi kaya. Percaya atau tidak, pekerjaannya adalah membeli rumah berhantu. Kenapa mesti berhantu? Sebab rumah berhantu harganya murah. Dia lantas membersihkan rumah tersebut dari keadaaan-keadaan mistis sehingga rumah tersebut “sembuh” dari sakitnya kemudian menjualnya kembali dengan harga tinggi. Istilah “keadaan-keaadaan mistis” ini cuma istilah dariku. Jujur saja, aku tidak mengetahui secara persis apa yang dilakukan Anwar. Ceritaku berikut ini adalah salah satu petualanganku dengan Anwar.

“Mau ikut aku?” Anwar tersenyum sambil menjajarkan dirinya agar sesuai dengan langkahku. Sore itu aku mau ke rumah temanku, mengerjakan tugas kuliah Kalkulus.

“Kemana? Aku mau kerjakan kalkulus. Mau minta bantuan Anisah.”

“Sudahlah. Ikut, aja. Dijamin kamu bakalan punya pengalaman yang luar biasa.”

Hiking? Bosan.”

“Bukan.”

“Lantas, apa?”

“Aku barusan beli rumah. Aku punya kebiasaan membersihkan rumah yang barusan aku beli sebelum aku jual lagi.”

“Yailah, War. Terus, apa menariknya? Bilang aja kalau kamu butuh jongos.”

“Kamu bilang kalau kamu mau beli komputer? Kalau kamu mau menemaniku membersihkan rumah itu. Aku kasih sedikit persenan.“

Aku menimbang-nimbang. Tawaran menggiurkan, pikirku. Waktu itu aku tidak tahu apa arti dari “membersihkan”. Kalau saja aku mengetahui sejak mula, aku tidak bakalan ikut.

“Oke.”

Anwar tersenyum cerah. “Temui aku tiga hari lagi di rumahku.”

Sekali lagi, aku tidak tahu, mengapa Anwar memintaku menemui dirinya tiga hari lagi dan bukannya sekarang. Tetapi aku patuh, tiga hari kemudian aku ke rumahnya. Kami naik mobil Anwar sampai di suatu daerah “X”. Daerah ini bukan daerah terpencil, meskipun untuk masuk ke rumah ini harus melalui jalan kecil seukuran mobil.

Rumah tidak menghadap pintu pagar depan, tetapi menghadap ke sebuah lembah nan apik di sisi kiri pagar. Sebuah tembok dibangun untuk membatasi lahan rumah di tepi lembah. Mungkin juga tembok tersebut dibangun agar orang-orang di rumah itu tidak terperosok ke jurang, mengingat dari tanah di dekat rumah, sampai ke tepi jurang mempunyai kemiringan sekitar 20 derajat. Sehingga orang sangat mudah tergelincir sampai tepi lembah.

Aku senang pemandangan di rumah ini (aku lebih suka menyebutnya sebagai vila). Aku heran, kenapa pemilik rumah ini menjual ke temanku seharga 50 juta. Terlalu murah. Aku menaksir dengan harga pasaran di daerah ini, setidak-tidaknya rumah ini berharga sekitar 500 juta (harga tahun1998). Nantinya aku tahu, kenapa rumah ini berharga murah.

Malam hari begitu dingin. Aku tidur dengan memakai jaket, tetapi tetap saja merasa kedinginan. Jam digital di tanganku menunjukkan pukul 2 dini hari ketika aku bangun. Anwar tidak berada di dekatku. Tempat penampungan air seniku ingin pecah. Aku berdiri untuk pergi ke kamar mandi.

Letak kamar mandi di bagian belakang, dekat dapur. Dari kamarku ke kamar mandi aku pasti melewati ruang tengah, tempat aku bermain kartu dengan Anwar sampai kecapaian. Dari ruang tengah, jalan memecah ke kanan dan kiri. Kanan jalan menuju kebun samping dan gudang, sedangkan jalan ke kiri adalah ke dapur dan kamar mandi.

Lampu kamar mandi menyala. Terdengar guyuran air di jamban. Aku memegangi perutku. Tak kuat. “War. Ayo dong gantian. Kandung kemihku mau pecah, nih.”

Tak terdengar suara. Pintu kamar mandi terbuat dari plastik yang mempunyai sirip-sirip ventilasi. Orang dari luar hanya bisa melihat bayangan orang di dalam, tetapi orang di kamar mandi bisa melihat bentuk badan orang di luar.

Aku tak tahan lagi. Aku langsung memutar pemegang pintu. Pintu terbuka. Tapi anehnya tak ada orang di dalam. Lantas tadi bayangan siapa? Apalagi aku jelas-jelas mendengar suara guyuran air. Ah, masa bodoh. Aku kebelet banget.

Selesai buang air kecil aku berbalik untuk melangkah ke wastafel. Seketika itu juga aku membeku. Disamping wastafel ada meja dari beton berkeramik putih. Di meja itu duduk seorang gadis kecil. Ia mengenakan pakaian terusan berwarna putih. Pada ujung lengan baju terdapat balutan kain renda. Pada bagian rok, ada kain penutup berenda seperti celemek. Pinggangnya di kelilingi pita berwarna abu-abu agak memudar. Kulitnya putih bersih. Rambutnya panjang sebahu. Kakinya mengenakan kaus kaki berwarna putih. Sepatunya seperti sepatu yang biasanya dikenakan boneka-boneka, berwarna hitam. Mata gadis itu berwarna hitam seluruhnya.

Saat menatapku, dia meletakkan kedua telapak tangannya pada atas lutut. Dia tak berbicara apa-apa. Hanya menatap. Pelan-pelan aku memberanikan diri untuk menggeser badannku kesamping melewatinya. Ketika mencapai pintu, aku cepat-cepat membuka pegangan pintu.

Macet. Pegangan pintu macet. Keringat dingin keluar setetes demi setetes melewati alis, pinggir hidung dan tepi mulutku. Aku menoleh dengan panik ke arah wastafel. Gadis itu tetap menatapku. Kali ini dia memiringkan kepala ke kanan. Matanya pelan-pelan berubah menjadi putih. Di sekitar matanya ada ruam-ruam berwarna gelap. Bibirnya menghitam. Ia membuka mulut dan berteriak.

Telingaku berdenging-denging. Sambil menutup telingaku dengan salah satu tangan, tanganku yang lain berusaha membuka pintu. Aku mendorongkan berat badan tubuhku ke pintu. Pintu terbuka. Aku menabrak Anwar, menatap tembok di seberang pintu, kemudian jatuh terlentang.

Aku menunjuk-nunjuk kamar mandi, berusaha memberitahu Anwar bahwa ada sesuatu di kamar mandi.

Anwar cuma berdiri tenang. Tak nampak ada wajah ketakutan. Pandangan matanya malah seakan melecehkan ketakutanku.

Aku bangkit dengan harga diri terluka. Perlahan-lahan aku mengendap-ngendap ke arah kamar mandi. Aku mengintip takut-takut ke arah wastafel. Aku tidak melihat apa-apa lagi.

“Sungguh. Tadi ada—“

“Seorang gadis kecil duduk di dekat wastafel?”

Aku memutar kepala ke Anwar. “Jadi kamu sudah tahu dia? Dan tidak memberitahu aku?”

Anwar tersenyum prihatin.

“Aku pulang malam ini.” Aku bersiap-siap melangkah ke arah kamar tidur.

Tangan Anwar mencengkal pundakku. “Dengarlah dulu, Jo.”

Aku menoleh dengan malas. Menunggu kata-kata Anwar selanjutnya.

“Aku kesini justru untuk membersihkan rumah ini dari hal-hal seperti tadi. Ingat! Aku menggunakan kata membersihkan. Bukan mengusir. Ketika ada gangguan seperti ini, ada dua hal yang seharusnya ada di pikiran kita. Pertama, mungkin asalnya dari roh jahat, yang kedua, mungkin dari arwah orang yang sudah meninggal.

“Orang yang sudah meninggal dibagi dua. Pertama, yang binasa di neraka, sedangkan yang kedua, orang-orang yang mati dalam keadaan tidak tentram. Atas nama Tuhan, kita bisa menyuruh pergi roh jahat, tetapi tidak dengan arwah yang tidak tentram. Tuhan masih menutup pintu keabadian untuk mereka. Mereka tidak sedang di alam baka dan juga tidak sedang di dunia. Mereka terjebak, Jo.

“Adalah hal yang salah jika kita takut terhadap mereka. Sebab yang harus kita lakukan justru berbelas kasihan terhadap mereka. Mari kita bantu mereka agar mereka segera menerima kematian mereka.

“Aku membantu meminta pengampunan pada Tuhan. Aku meminta Tuhan agar membukakan pintu keabadian untuk mereka. Itu yang aku lakukan selama ini.”

“Apa yang menyebabkan mereka terjebak?”

“Banyak.” Anwar membimbing aku ke ruang tengah. “Ada yang tidak rela karena dibunuh, diperkosa, ataupun karena mereka sendiri masih ada keterikatan dengan hal-hal duniawi. Contohnya, ada orang yang tidak rela mati karena mereka sayang terhadap harta mereka atau masih punya janji yang harus ditepati.”

“Lantas apa masalah gadis kecil ini?”

“Aku belum tahu. Semalaman aku berusaha mencari tahu. Sekarang tidurlah lagi. Tidak usah takut. Jika menemui gadis kecil tadi lagi, doakan saja dia agar Tuhan mau menerimanya dalam keabadian.”

Aku masih takut tidur di kamar. Aku memboyong kasur busa di ruang tengah. Dari tempatku, aku dapat melihat Anwar di kebun karena sisi tembok antara ruang tengah dan kebun dibatasi kaca.

Anwar sedang bersila. Dia memegang semacam kalung yang menyatukan biji-biji dari kayu. Sepanjang malam ia memutar-mutar kalung itu sambil berkomat-kamit perlahan-lahan.

Di hari kedua, aku juga tidur di ruang tengah. Bahkan aku tidur sejak sore karena capek berenang di kolam rumah seharian.

Entah pada pukul berapa aku terbangun. Aku melihat Anwar di kebun lagi. Aku merasa hawa terasa dingin campur hangat. Di dekat pintu aku melihat sebuah bayangan di sebuah pintu. Bayangan itu begitu jelas membentuk raga seorang anak karena sinar di belakangnya membuat warna kontras pada bentuk badannya. Sosok kecil itu memiringkan kepala, kemudian berjalan mendekatiku.

Aku panik dan mengosok-gosok mataku. Mataku kabur karena tidak memakai kacamata. Mulutku terasa terkunci. Aku melirik pada Anwar di kebun. Temanku masih dalam posisi seperti tadi.

Aku pasrah saja ketika ia berada di hadapanku. Tiba-tiba aku ingat apa yang dikatakan Anwar. Berdoa bagi mereka. Berdoa bagi mereka. Aku hanya mengucapkan doa singkat. Tuhan terimalah mereka dalam keabadian. Aku mengulanginya berkali-kali. Waktu berjalan sangat lambat.

Lenganku terasa dingin. Ada tangan yang menyentuh disana. Nafasku memburu. Udahlah. Kalau dia mencekikku. Cekik saja cepat-cepat. Aku mengerutkan otot-ototku, menanti kematian.

“Kamu ngapain?”

Aku membuka mata. Anwar tersenyum melecehkan. Aku menggunakan hidungku untuk menghirup nafas dalam-dalam. Mataku terasa sakit karena Anwar menyalakan lampu. Aku tidak mengatakan apa-apa pada Anwar. Paling-paling dia tahu apa yang aku alami baru saja.

Malam ketiga aku tetap tidur di ruang tengah. Menjelang tengah malam Anwar membangunkanku.

“Ayo ikuti aku. Ada sesuatu yang mau aku tunjukkan ke kamu.”

Aku menyingkirkan sarung dari atas badanku. Aku dan Anwar berjalan menuju kebun rumah.

“Ada apa?” tanyaku curiga.

“Dia mau mengucapkan selamat tinggal.”

“Dia siapa?”

“Anak kecil itu?”

Aku terkesiap. “Jadi anak itu sudah tenang.”

Anwar mengangguk. Aku menyapu seluruh kebun dengan mataku. Aku tidak melihat apa-apa.

“Mau aku bukakan matamu agar bisa melihat?”

Aku mengangguk ragu. Tangan Anwar menutup mataku dengan telapak tangannya. Ia diam sejenak. Kemudian perlahan-lahan ia menurunkan telapak tangannya.

Aku melihat seorang gadis kecil berpakaian sangat putih di dekat pohon besar. Warna kulitnya sangat berkilauan. Sulit untuk melukiskan dengan kata-kata. Putihnya adalah putih jernih. Seperti kristal. Bayangkan saja kalian menghancurkan berlian dan menaburkan pada kulit kalian, kemudian arahkan sinar pada kulit tadi. Aku rasa itu adalah bayangan yang mendekati dari apa yang aku lihat. Aku tidak tahu, apakah semua makhluk surgawi seperti itu.

Gadis itu tersenyum. Ia mengangkat tangannya. Tanpa dikomando, aku juga mengangkat tanganku. Senyumnya begitu cerah. Seiring dengan berlalunya waktu. Badannya semakin transparan dan menghilang.

Pandanganku kembali gelap. Aku menoleh pada Anwar. “Apa yang terjadi pada gadis ini?”

“Dia anak seorang Belanda. Ketika Jepang menyerbu ke tempat ini, Jepang membantai semua keluarganya. Anak itu lagi tidur sendirian di kamar belakang ditemani pembantunya, orang Jawa penduduk sini. Jepang-jepang itu memperkosa pembantu itu di tempat lain, kemudian memukul anak tadi dengan popor senapan sampai kepalanya pecah. Arwah anak itu tak tahu keluarganya sudah mati. Dia masih menunggu orangtuanya sampai saat ini.”

Tak terasa aku meneteskan air mata. Andai aku ayahnya, aku juga sudah pasti menghantui tempat ini juga karena dendam pada orang jepang itu. Temanku menepuk punggungku. Kami kembali lagi ke arah dalam.

Keesokan hari, aku dan Anwar meninggalkan tempat itu. Dia mengantar aku ke tempat kos, sambil tak lupa menyerahkan amplop coklat,

“Ini bayaranmu. Bilang ke aku kalau lain kali kamu mau ikut.”

Aku termangu memandang mobil temanku pergi. Anganku kembali membayangkan wajah gadis itu. Semoga kamu bertemu dengan keluargamu disana, Dik.

8 responses to “Sayangilah Hantu

  1. serasa kisah nyata, pengalaman seseorang ya?

    Suka

  2. Mirip cerita-ceritanya Teh Risa Sarasvati soal hantu-hantu kolonial yg masih punya dendam kesumat gara-gara Jepang.

    Suka

  3. Kasian ya kalau anak yang tidak bersalah seperti itu jadi korban perang.😦
    Tapi, entah kenapa saya jadi takut juga karna di kos sendirian.. hihihihi

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s