Cerita Mini Horor: Biola


Mila berjalan tergopoh-gopoh. Saat membuka pintu, hawa AC langsung merasukinya. Badannya menggigil. Ini namanya dingin kuadrat, sebab di luar tadi dia dihajar hujan cukup deras. Untung saja papa memberi ijin untuk memakai mobil.

Cik Lien tampak cuek pada Mila. Kasir sekolah musik itu tampak asyik menghadap layar monitor. Aneh, batin Mila. Cik Lien biasanya ramah padanya. Apa karena dirinya berbasah-basah ria. Hemm, mestinya dia tahu diluar hujan. Jadi kalau ada orang basah masuk ke ruangan kan sudah biasa. Lantai basah bisa di-pel, right? Mila tak menggubris lebih dalam. Kakinya menapaki tangga menuju lantai 2 cepat-cepat dan sampai di pintu ruang les biola.

Tangannya meraba-raba rambutnya. Perfecto! Pekiknya dalam hati sambil tersenyum. Ia membuka pintu pelan-pelan dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya membawa biola.

Rudy, guru lesnya, tampak sedang bermain piano yang menghadap ke tembok belakang. Ode Joy. Ini Pasti lagu Ode Joy. Rudy membalikkan badan. Rambutnya pendek, tegak. Senyumnya selalu tampil tanpa menunjukkan gigi. Senyum yang membuat Mila sulit mengartikan apakah Rudy sedang bahagia atau sedih.

“Maaf, Ko. Aku terlambat.”

“Kita tidak bisa mengatur alam, Mila. Kenapa mesti minta maaf?”

Duh lesung pipitnya. Gak kuat pengin cubit. Boleh, gak, ya? Mila membayangkan dirinya maju ke arah Rudy.

Mila sama sekali tak keberatan bahwa hari ini dia harus les selama satu jam. Biasanya cuma setengah jam. Pada les yang lalu Mila memang tidak bisa datang karena sakit penyut. Eh…perut. Sehingga setengah jam sekarang adalah pengganti waktu dia tidak bisa datang kemarin.

Tapi Mila kesal. Rudy hanya mengiringi permainan biolanya dengan piano. Biasanya Rudy selalu aktif membetulkan letak jari-jarinya. Atau berkomentar, “Nadamu false”, “Maju’in dikit jari satumu”, “Itu kan nada Cis bukan C”.

Mila sengaja memajukan pencetan jarinya agar suara false. Maklum, biola tidak mempunyai frets seperti gitar, sehingga posisi nada hanya bisa ditekan oleh jari lewat perasaan. Tapi Rudy tetap saja memainkan pianonya. Huh, guru apa ini? Bibir Mila monyong. Kok gak dikoreksi?

Mila melirik dengan kesal ke arah jam. Tiga menit lagi les biola selesai. Tapi kesal di hatinya belum selesai. Padahal dia sudah membawakan sekotak nastar buatannya. Ia bermaksud memberikannya pada Rudy.

“Ko. Aku lagi praktek bikin nastar. Cobain, ya.” Mila menambahkan tiga sendok makan gula pada senyumnya.

Tangannya terulur menerima kotak nastar. Kesal. Rudy cuma tersenyum saja.

“Ma kasih, Me.”

What? Dia panggil aku Meme. What a cute voice.

“Kamu baik—“

Hati Mila kabur ke angkasa. Bukan Superman yang membawanya. Tapi Rudy, guru biolanya.

“—Dan cantik.”

Ihhhhh. Aku dibilang cantik.Ko Rudy sudah pacar apa belum, ya?

“Mila?”

“Hemm?”

“Aku minta maaf.”

Mila bingung. Minta maaf buat apa?

“Aku minta maaf karena membuat kamu kecewa—Aku boleh peluk kamu?”

Rudy memeluk Mila meskipun gadis itu belum mengatakan persetujuannya.

Mila senang. Ia merasa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Ko Rudy pasti menyukainya juga. Sebab pria itu memeluknya. Memangnya semua murid les biola dipeluk Ko Rudy? Hati Mila kembali ke tempatnya. Bukan….bukan Ironman yang membawanya kembali, tapi guru biolanya, Rudy. Mila bisa merasakan bahwa detak jantungnya tak beraturan saat tangan Rudy membelai atas kepalanya. Wajahnya mendongak. Mila ingin bertanya, “Ko Rudy suka sama Mila?” tapi kan itu bagiannya cowok. Cewek tidak boleh ngomong duluan.

Mila melangkah keluar ruangan dengan riang. Sebentar! Bukan melangkah. Tapi terbang. Badannya terlalu ringan untuk dikatakan berjalan. Tapi cukup aneh, sih, kalau dikatakan terbang. Aku kan manusia, bukan burung. Ah entahlah. Pokoknya hepi banget hari ini.

***

Cik Lien mengetuk pintu. Wanita setengah baya itu masih sempat melihat Rudy menghapus cairan di sekeliling matanya dengan ujung jari.

“Kamu sudah bilang ke dia?”

Rudy menggeleng. Matanya memerah.

“Kemarin Cik Silvy tanya ‘kenapa les hari Selasa jam lima sore kosong?’. Aku jawab ‘tidak ada guru yang bisa hari Selasa’. Tapi lama-lama Cik Silvy pasti tahu, Rud.”

“Beri aku kesempatan untuk mengatakan pelan-pelan.” Suara Rudy parau. “Mila bunuh diri karena dia tahu aku sudah bertunangan. Seharusnya aku memperlakukan dia seperti seorang anak SMA. Labil.  Belum dewasa.  Seharusnya sendari dulu aku mengatakannya pelan-pelan. Aku mohon sedikit waktu, Cik.” Rudy seperti berbicara pada dirinya sendiri. Semakin lama suaranya semakin menguap.

Cik Lien berbalik. Sebelum benar-benar menutup pintu, dia memutar badan untuk melihat Rudy melalui celah pintu. Guru biola Mila itu tercenung memandang ke lantai.

 Sumber gambar:  Pinterest

 

5 responses to “Cerita Mini Horor: Biola

  1. sejak awal udah nebak Mila ini hantunya, waktu Cik Lien diam saja ketika dia masuk. tapi bagus deh. suka baca blog ini, banyak tambah ilmu untuk saya belajar nulis🙂

    Suka

  2. lantainya basah?
    🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s