Cerita Anak: Patil Lele


Pras, Wicaksono, dan Harsono saling berpandangan-pandangan. Pras tidak sabar menunggu pelajaran terakhir Bahasa Indonesia. Mereka berjanji akan melanjutkan permainan mereka sehari yang lalu saat pulang sekolah.

Kemarin mereka bermain patil lele. Permainan ini adalah permainan anak-anak khas Jawa Timur. Patil lele dimainkan dengan memakai dua buah tongkat. Satu tongkat berukuran lebih panjang dari yang lain. Sebelum bermain, mereka akan membuat lubang kecil di tanah. Tongkat kecil diletakkan melintang pada lubang. Pemain akan mengungkit tongkat kecil dengan tongkat besar. Saat tongkat kecil melayang di udara, pemain akan memukulnya dengan tongkat yang lebih panjang. Siapa yang dapat memukul tongkat kecil paling jauh, dialah yang menang.

Wicaksono tidak puas. Dia biasa menjadi pemenang. Tetapi kemarin, Pras mendapat angka 3, Wicaksono 2, sedangkan Harsono 2. Wicaksono mengajak mereka bermain kembali esok hari. Semula Pras tidak setuju. Dia dan Harsono berniat akan belajar bersama untuk menghadapi ujian THB dua minggu lagi. Namun wajah Wicaksono terlihat marah, sehingga Pras dan Harsono terpaksa mengiyakan. Badan Wicaksono lebih tambun dan lebih tinggi dari Pras. Sedangkan perawakan Pras dan Harsono hampir sama. Perbedaannya adalah, badan Harsono tampak sepintas lebih kecil. Hal ini disebabkan karena otot-otot yang timbul di tangannya. Bahkan urat-uratnya terlihat berwarna biru kelam di pipi dan punggung tangan.

Ting…ting…ting..Murid-murid SD Kalisari II mendengar bel tanda istirahat berbunyi. Mereka bertiga langsung berhamburan keluar. Tempat mereka bermain patil lele adalah lapangan bola volley, dekat gerbang sekolah.

Wicaksono sudah bersiap-siap dengan tongkatnya. Rupanya tongkatnya masih baru. Baru saja dia mengatakan, kalau tongkat tersebut adalah tongkat sapu ibunya yang sudah tidak terpakai. Dia percaya sekali bahwa tongkat yang baru lebih membawa keberuntungan untuk menang dibanding tongkat yang lama.

Harsono berbisik-bisik pada Pras. “Kamu mengalah saja. Sebab jika tidak, jangan-jangan besok dia menyuruh kita bermain lagi.”

Pras mengangguk-angguk. Pras memang harus setuju, nilai ujian THB yang terdahulu buruk. Dia ingin mengalahkan Harsono, juara kelas mereka.

Wicaksono mengukur jarak memakai tongkat besar. Tongkat itu diputar-putar diatas tanah, dari ujung ke pangkal, menuju tempat tongkat kecil yang terlempar karena pukulannya. “Dua puluh,” serunya girang. Ini memang rekornya. Biasanya Wicaksono hanya sampai lima belas.

Pras bersiap-siap di belakang lubang. Harsono mengedipkan mata, tanda untuk Pras agar mengalah. Pras membalas dengan tersenyum. Pras berpikir, bagaimana cara dia untuk mengalah. Tongkat milik Pras lebih ringan dari Wicaksono. Arah angin pun menuju ke arah depan. Pada keadaan seperti ini, sudah jelas kalau tongkatnya akan lebih jauh dari milik Wicaksono.

Tiba-tiba timbul ide pada diri Pras. Dia tidak akan mengarahkan pukulan ke depan, tetapi ke arah samping menuju atas.

Pras bersiap-siap memukul. Tek….suara tongkat beradu terdengar. Tiba-tiba terdengar suara tangis. Sontak mereka melihat asal suara. Di sisi kiri, mereka melihat kepala Dayat berlumuran darah. Sebuah tongkat kecil tergeletak di tanah depan kakinya.

Dayat memegang pelipis kanan dengan tangan kanan. Matanya memandang ke arah Pras, Wicaksono, dan Harsono. Sementara mereka bertiga berpandang-pandangan antarmereka sendiri. Tanpa dikomando, mereka berhamburan melarikan diri. Wicaksono meninggalkan sekolah lewat pintu gerbang. Pras menerobos pagar sekolah yang terbuat dari daun beluntas. Pagar beluntas tersebut dipotong setinggi pinggang orang dewasa. Harsono sendiri cepat-cepat mengambil sepeda di tempat penitipan sepeda.

Keesokan hari mereka bertiga menghadiri sekolah dengan ketakutan. Pras melirik bangku tempat Dayat biasa duduk. Bangku itu kosong. Kemarin dia sempat membalikkan badan. Dia melihat Bu Syaiful menolong Dayat. Bu Syaiful sendiri adalah penjual jajanan di samping belakang sekolah mereka.

“Siapa kemarin yang bermain patil lele?” Bu Sunandar bertanya dengan mata terbelalak. Semua murid diam. Wajah mereka menunduk. Beberapa diantaranya saling memandang dengan pandangan bertanya.

“Sekali lagi Ibu bertanya pada kalian. Siapa kemarin yang bermain patil lele?”

Suasana kelas menjadi tegang. “Jika tidak ada yang mengaku. Kalian tidak boleh meninggalkan kelas meskipun pelajaran jam terakhir selesai.” Bu Sunandar melipat tangan di dada.

Pras mengangkat tangan pelan-pelan.

“Ya, Pras?”

“Saya yang melakukan, Bu. Tapi saya tidak sengaja.”

Bu Sunandar tampak kesal. Beberapa saat kemudian wajahnya kembali bijak.

“Sebenarnya Ibu sudah tahu siapa yang bermain patil lele kemarin. Tapi Ibu ingin kalian jujur. Ibu tidak melarang kalian bermain. Tetapi kalian harus hati-hati. Mulai sekarang semua murid di sekolah ini tidak boleh bermain patil lele lagi. Jika sampai kedapatan bermain, Ibu akan menghukumnya.” Bu Sunandar melanjutkan pelajaran kembali.

Pras masih membayangkan wajah Dayat yang berlumuran darah. Dia merasa ngeri. Dia berjanji akan meminta maaf pada Dayat sepulang sekolah.

6 responses to “Cerita Anak: Patil Lele

  1. waktu kecil, aku suka main ini loh. baru tahu ini mainan dari Jawa Timur

    Disukai oleh 1 orang

  2. masih ada yang main kayak gini nggak ya..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s