Cerita Mini Horor: Warung


Aku dan ketiga temanku, Amroso, Bligo dan Victor sudah ada dalam mobil. Kami akan pergi ke Cepu. Aku benar-benar malas mengikuti mereka sebab aku capek. Aku sendiri baru saja datang dari Probolinggo. Hanya demi pertemanan, aku akhirnya ikut dan tidur di jok belakang.

Aku mulai bangun ketika teman-temanku sedang berbincang-bincang. Amroso merasa lapar. Dia berulangkali meminta Bligo, yang memegang stir mobil, untuk berhenti apabila ada warung yang masih buka di tepi jalan. Victor tentu saja merasa terganggu setiap kali Amroso merengek. Victor memang ingin cepat-cepat sampai Cepu. Tetapi sebagai orang yang mengajak kami semua, dia merasa bertanggung jawab memberi konsumsi. Victor menjawab ya.

“Nah, itu dia,” seru Amroso ketika melihat ke arah depan mobil ada sebuah warung kecil dengan lampu petromak menyala terang.

Amroso bergegas turun. Mereka memesan mie goreng, mie kuah instan dan kopi. Aku sendiri malas makan sebab masih sangat mengantuk. Sedangkan untuk minuman, aku sudah membawanya dari Surabaya. Aku cuma duduk di lincak paling ujung; menyadarkan lenganku ke arah tiang bambu di sebelah kiriku.

Di depanku ada lincak dengan ukuran lebih besar. Dua anak kecil sedang duduk berhadapan. Sebuah boneka ada di tangan anak perempuan paling kecil. Sedangkan perempuan yang besar memegang piring. Aku mengira-ngira umur mereka tidak lebih dari usia kelas lima SD.

Aku merasa terkejut ketika Si Ibu membawakan pesanan temanku. Aku melihat pada mie instan serta kopi. Aku ingin mengatakan sesuatu pada teman-temanku tetapi mulutku seperti direkatkan dengan kuat.

Rasa kantukku hilang. Dengan penuh rasa ingin tahu aku melihat teman-temanku makan. Samar-samar aku mencium bau seperti karet terbakar dan bensin. Aku melirik ke kanan-kiri untuk memastikan apakah Si Ibu juga berjualan bensin eceran. Tapi aku tak melihat tanda-tanda tempat penjualan bensin eceran.

Dengan sedikit keberanian, aku menatap Si Ibu. Wanita beruban itu tak malu-malu membalas menatapku. Matanya membulat. Bibirku terkatup. Tetapi aku mendengar seakan-akan ada suara erangan keluar dari mulutnya. Kepalaku terasa berputar-putar. Rambut kudukku meremang, memberikan tanda waspada. Mataku beralih melihat anak kecil tadi. Si Anak terkecil memegang boneka dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya tak bergerak sama sekali. Si Anak dewasa hanya memegang piring. Dia tak pernah bergerak sedikit pun.

Aku melihat teman-temanku. Mereka tak terganggu sekalipun. Mie Instan mereka hampir tandas. Aku bangkit dari tempat duduk dan berkata pada mereka, “Aku ke mobil dulu.” Mereka hanya menjawab,”Hemmmmm..” Sambil terus mengunyah mie.

Aku menyeka dahi. Dulu aku merasa lucu dengan kata-kata “Keringat dingin”. Aneh. Mestinya keringat itu keluar saat panas bukan dingin, sehingga kata-kata “keringat dingin” sangat berlebihan. Namun sekarang aku mengalaminya. Aku berkeringat meskipun cuaca dingin. Dengan tak sabar aku menunggu teman-temanku masuk kedalam mobil.

Aku tetap menahan diri ketika teman-temanku baru masuk ke dalam mobil. Setelah berjalan beberapa menit, aku angkat bicara.

“Kalian tidak merasa aneh dengan warung tadi?”

Amroso dan Victor bertukar pandang.

“Tidak ada, tuh. Malah kopinya lumayan enak untuk ukuran kopi jalanan,” sahut Victor.

“Kalian tidak memperhatikan seberapa cepat dia menyajikan mie?”

Bligo tertawa ngakak sambil memegang perut. “Emang gue pikirin. Yang penting kenyang.”

Aku mendesah kesal. “Tolong, sekarang kalian balik lagi. Kita ke warung itu lagi.”

Victor langsung protes. “Aku ingin cepat-cepat sampai Cepu, Bro.”

“Ibu itu membuat mie instan dalam hitungan tak sampai lima detik. Bagaimana mungkin?”

Amroso tersenyum. “Apa jadi masalah kalau dia bisa sulapan?”

“Aku tidak bercanda. Demi Tuhan. Ayo ke warung tadi. Setidak-tidaknya aku tidak penasaran lagi.”

Amroso meminta persetujuan pada Victor lewat tatapan mata. Victor mengangguk dengan menarik nafas berat. Aku tahu, dalam hatinya, dia pasti mengumpat.

Kami sudah berulangkali menapaktilasi jalan kami. Tetapi tak satupun warung yang berdiri. Sepanjang perjalanan dari ujung kota terdekat sampai tempat kami berhenti terakhir kali tak ada cahaya samasekali. Tiba-tiba mataku melihat pembatas jalan yang menunjukkan kota terdekat. Aku ingat, warung tadi dekat dengan penunjuk jalan ini.

“Berhenti disini!” suaraku keras. Aku langsung turun diikuti teman-temanku. Dari pinggir jalan, kami mendaki tanah miring sampai ke atas. Disanalah aku dan teman-teman terkejut. Di depan kami terdapat bekas bangunan dari kayu. Di depan reruntuhan tadi kami melihat tiga sosok. Sosok paling tengah lebih tinggi dari yang lain. Kepalanya hanya setengah. Darah kental tampak membual anyir sampai ke hidung. Sisa mata di sebelah kanan menggantung di ujung urat mata.

Anak di sebelah kiri membawa boneka sedangkan tangan yang lainnya tinggal separuh di siku. Anak disebelah kanan memegang perutnya yang terburai. Sisa-sisa ususnya menggantung sepanjang belahan perut. Lambat-lambat aku menyadari bahwa ketiganya mulai berjalan mendatangi kami.

Kami terbirit-birit kembali menuju mobil. Amroso masuk di bagian kiri mobil setelah terguling-guling di kemiringan tanah, sehingga terpaksa Victor yang menyetir, kakinya menekan gas keras-keras.

Beberapa kilometer dari tempat itu, kami berhenti. Aku melihat Victor tampak mendesis. Ia membuka mulut. Dengan jempol dan telunjuk ia mengambil sesuatu dari sela giginya.

Pada jepitan jari-jarinya tampak sesuatu berwarna putih mengeliat. Victor langsung menutup mulut. Ia membuka pintu, melempar belatung dan muntah. Menyadari apa yang ada di mulut Victor, Amroso dan Bligo juga melesat ke luar mobil. Mereka muntah-muntah lebih hebat dari Victor. Aku sendiri hanya terdiam merenungi kejadian yang baru kami alami.

Aku mencari lewat google tentang jalan itu saat berada di Cepu. Beberapa tahun sebelumnya ada sebuah warung disana. Warung itu ringsek ditabrak truk kontainer oleh supir yang mabuk. Saat ini bekas warung tersebut tidak terlihat karena hilang saat ada proyek pembuatan tanggul di sepanjang sungai.

Iklan

12 responses to “Cerita Mini Horor: Warung

  1. Wah, jadi skeptis deh kalau mau jajan di warung pinggir jalan. Haha

    Suka

  2. Yang jadi pertanyaan, itu uang buat bayar mie instannya disimpen sama ‘mereka’ ya?

    Suka

  3. merinding aku… merinding…

    Disukai oleh 1 orang

  4. aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa………. medeniiiiiiiiiiiiiiiiii…. dan nggilaniiii

    Disukai oleh 1 orang

  5. hiiiiiii
    eh cerita mini ama cerpen bedaya apa?
    http://t.co/8khjk7O4gH

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s