Silkworm


SilkwormJudul Buku: Silkworm (Ulat Sutra)
Penulis: Robert Galbraith
Jumlah halaman: 536
Alih bahasa: Siska Yuanita
Alih bahasa kutipan: M. Aan Mansyur
Desain Sampul: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-0981-1

Semula Cormoran Strike menganggap kasus hilangnya Quine hanya kasus biasa, sampai dia menyadari bahwa kematian Quine ada hubungannya dengan naskah novel miliknya

Cormoran Strike menerima kasus dengan bayaran yang meragukan. Namun dia tak menyesal setelah menyadari bahwa kasus hilangnya Penulis Owen Quine bukan kasus biasa. Owen Quine dibunuh di sebuah rumah, berlokasi di Talgarth Road nomor 179. Rumah ini adalah milik Joe North yang diwariskan pada Owen Quine dan Michael Fancourt setelah dia meninggal karena AIDS.

Uniknya, cara kematiannya sama persis dengan cara kematian tokoh utama di novel buatannya sendiri, bombyx mori. Penulis itu diikat kedua tangannya. Usus perutnya diambil. Tubuhnya disiram dengan zat asam.

Strike menyadari bahwa Bombyz Mori bukan novel biasa. Novel ini diduga menggambarkan orang-orang yang dikenal Owen Quine. Sayangnya orang-orang tersebut digambarkan dengan cara buruk. Lantas timbul sebersit ide pada dirinya, “Apakah Quine dibunuh karena balas dendam dari orang-orang tersebut?” Tak heran apabila Strike memusatkan penyelidikan pada orang-orang tersebut: Leonora Quine, Kathryn Kent, Pippa Midgley, Elizabeth Tassel, Jerry Waldergrave, Michael Fancourt, dan Daniel Chard.

Polisi tidak menyukai kedatangan Strike. Anstis memperingatkan Strike akan hal ini dan mencoba membatasi informasi darinya ke Strike. Tetapi Strike tidak perduli. Lagipula, Strike menganggap Polisi keliru karena mencurigai Leonora sebagai pembunuh suaminya. Dengan kaki cacat yang menghalanginya dalam penyelidikan, ditambah masalah pernikahan Charlotte, serta masalahnya sendiri dengan Robin, Strike tetap menyelidiki. Dia meminta bantuan Robin untuk membantunya mencari informasi dan meminta bantuan temannya untuk mendapatkan bukti yang dibuang di laut. Semua itu demi menjebak pelaku untuk terakhir kalinya.

Setelah Cuckoo’s Calling, novel Silkworm adalah novel kriminal kedua yang ketebalannya membuat tangan saya agak cidera apalagi jenis kertasnya juga tebal. Saya sering hanya mempunyai kesempatan membaca buku saat di mobil, sehingga pergelangan tangan saya sering agak linu jika menyangga buku yang terlalu berat. Sayangnya ketebalannya bukan hanya karena cerita kriminal tetapi juga sedikit roman. Ini memang hanya masalah selera. Tiap orang mungkin berbeda. Tetapi saat saya membaca cerita detektif, saya hanya ingin menghadapi cerita kriminal, bukan roman. Kecuali roman tersebut memang ada sangkut pautnya dengan cerita kriminal.

Karena roman dan kisah kriminal menjadi satu. Baik roman maupun cerita detektif-nya menjadi kurang berasa. Meskipun saya akui, bahwa saya tidak bisa menebak pembunuhnya, tetapi rasa “mencekam”, “penasaran”, dan “berdebar-debar” dinetralkan oleh fokus cerita. Tensi dalam menunggu langkah Strike dalam penyelidikannya, tiba-tiba dinetralkan oleh senandika dari Strike tentang hubungannya dengan charlotte. Namun…Silkworm ditulis dengan penggambaran background yang bagus. Saya tidak meragukan ini. Sebagai penulis cerita Harry Potter, JK Rowling alias Robert Galbraith memang piawai. Saya serasa mengenal London dan dapat meraba penggambaran benda-bendanya.

Novel ini dibangun dengan satu plot utama, pembunuhan Quine dan tiga plot minor, cerita mengenal Strike-Charlotte, alur mengenai Robin-Matthew-Strike, dan masalah Strike-Robin. Jujur saya akui, tiap plot cukup menarik. Hanya saja, kehadiran plot minor terlalu banyak. Ah, ini lagi-lagi mengenai selera. Saya terlalu sering membaca Agatha Christie dan Sir Arthur Conan Doyle, sehingga belum terbiasa membaca kisah detektif dengan model semacam Silkworm dan Cuckoo’s Calling.

Saya memberi nilai delapan untuk penggambaran tokoh. Hemm…tidak mengherankan, penulis sekelas Tante JK Rowling sudah mahir dengan hal ini. Saya tak merasa tokoh-tokohnya fiksi, sebaliknya, tokoh-tokoh tersebut terasa bernyawa. Keunikan masing-masing karakter, ke-konsisten-nan terhadap skenario tokoh tersebut, dan reaksi karakter adalah biang utama penilaian saya. Penulis sekelas beliau sudah seharusnya mempunyai keterampilan seperti ini.

Penerjemah novel ini juga pantas mendapat acungan jempol. Saya tidak merasa membaca buku asing. Sangat membumi. Bahkan ada beberapa kata yang sangat lokal. Saya menduga penerjemah novel ini adalah orang Jawa? Namun JK Rowling banyak menggunakan bahasa yang kasar dan berbau dewasa. Saya tidak menyarankan novel ini untuk remaja.

Akhirnya, dengan tensi cerita normal, tiga plot minor, penggambaran background dan tokoh yang bagus, disertai selipan roman, menjadikan buku ini masih layak dipertimbangkan oleh penggemar cerita kriminal.

Daftar Tokoh:

Nama Tokoh

Keterangan

Cormoran Strike Tokoh utama. Detektif swasta
Robin Ellacott Sekretaris Cormoran Strike
Dominic Culpepper Wartawan. Terman Cormoran Strike
Leonora Quine Istri Owen Quine
Elizabeth Tassel Agen penulis Owen Quine
Matthew John Cunliffe Pacar Robin Ellacott
Kathryn Kent Selingkuhan Owen Quine
Christian Fisher Pemilik Penerbitan Crossfire Publisher
Jerry Waldegrave Editor Owen Quine di penerbit Roper Chard
Michael Fancourt Penulis buku.
Daniel Chard CEO Penerbitan Roper Chard
Ralph Pelayan Elizabeth Tassel
Nina Lascelles Adik Dominic Culpepper
William Baker Klien yang didepak oleh Cormoran Strike
Shannon Salahsatu pengurus tempat retreat penulis, Bigley Hall
Orlando Anak pasangan Owen Quine dan Leonora Quine
Richard Anstis Penyelidik dari Kepolisian Metropolitan dan Cadangan Angkatan Darat.
Dave Polworth Sahabat lama Cormoran Strike
Pippa Midgley Murid Quine. Pengagum Quine, tetapi kecewa dengan naskah Bombyx Mori. Dia menganggap Quine mengkhianatinya.
Alexander Rokeby Adik tiri Cormoran Strike

2 responses to “Silkworm

  1. Namun JK Rowling banyak menggunakan bahasa yang kasar dan berbau dewasa.

    — wah jadi pengen beli dan baca secepatnya…
    😀😀😀😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s