Alangkah Sulit Bertahan pada Cita-cita (menulis)


Masih ingatkah kita, ketika masih kecil, guru-guru kita selalu bertanya, “Apa cita-citamu?” Atau masih ingatkah kita, saat kita menyebut, “Menjadi guru.”

“Menjadi Presiden.”

”Menjadi Insinyur.”

“Menjadi astronot.”

Sampai berapa persen dari anak-anak tersebut yang masih memegang cita-citanya ketika dewasa? Saya tidak pernah mengadakan penelitian, tetapi entah kenapa saya berpikiran tak banyak dari mereka yang masih mencita-citakannya ketika dewasa.

Sejak kecil saya sering mendengarkan sandiwara radio Brahma Kumbara dengan Kerajaan Madangkara. Angan saya sangat melambung. Saya membayangkan diri saya Brahma. Saya membeli buku tulis dan menulis angan-angan saya. Saya juga ingin bisa Bahasa Inggris gara-gara serial Lima Sekawan di TV. Saat itu, pemeran Anne cantik sekali dengan bandana di kepala. Saya membayangkan suatu ketika ngobrol dengan Anne. Tentu saja hal itu membutuhkan Bahasa Inggris.

Buku-buku cara menanam tanaman pertanian di perpustakaan SD saya juga mulai mempengaruhi. Saya ingin menanam tanaman sebagai sumber penghasilan. Enak rasanya kalau mau membuat sambal tinggal memetika di kebun/sawah.

Waktu SMP, keinginan saya akan Kimia mulai menjadi-jadi. Saya mulai bercita-cita menemukan produk-produk kimia. Saya ingin membuat bau masakan buatan dan nantinya ditawarkan di restauran-restauran sebagai cara promosi hidangan mereka.

Dan sekarang. Saya menjadi apa? Jauh. Sangat jauh dari cita-cita saya terdahulu. Saya masih berusaha mengejar cita-cita saya yang terlupakan. Namun tentu saja dengan jatuh bangun.

Menjadi penulis adalah cita-cita yang sampai sekarang tetap saya lakukan. Hobi? Ya! Tetapi bukan berarti tidak ada pasang surut. Saya selalu mencari cara agar dapat bertahan terhadap semua cita-cita saya sendari mula. Pada artikel ini saya akan berbagi mengenai bertahan pada salah satu cita-cita saya, menulis.

Surut dalam segala hal adalah neraka. Tidak ada kemauan. Tidak inspirasi. Dan yang paling meng-kanker-kan keadaan adalah tidak berbuat apa-apa alias Do nothing. Kalau sudah begini apa wujud dari cita-cita?

Kunci dari bertahan terhadap segala sesuatu itu cuma cinta. Coba bayangkan saat Anda bertemu dengan pacar/istri/suami Anda untuk pertama kalinya. Apa yang Anda lihat adalah pandangan pertama alias hello effect. Bohong jika Anda mengatakan bahwa Anda jatuh cinta pada pasangan untuk pertama kalinya saat bertemu karena hatinya. Bagaimana Anda tahu dia orang baik? Kan baru bertemu pertama kali.

Begitu juga dengan dunia literasi. Saat Anda melihat novel di rak toko buku, Anda mungkin akan berpikiran, “Ah betapa enaknya jadi penulis. Terkenal, disanjung, dikagumi, kata-katanya selalu di dengar.”

Ingat ini hello effect. Anda masih belum menghitung berapa jumlah keringat dan air mata yang mereka perlukan untuk menghasilkan karya seperti itu. Anda masih belum tahu bagaimana mereka mungkin begitu frustasi atau marah saat dokumen naskah mereka hilang atau diremehkan editor. Anda cuma memandang kilat sampul buku mereka saat segala upaya mereka menjadi emas.

Selayaknya saat Anda jatuh cinta dan mulai membuktikan kata cinta Anda. Perasaan suka Anda mulai dihadang kebiasaan-kebiasaan buruk pasangan Anda. Suka kentut, datang terlambat, tubuh mulai gemuk, mulai marah-marah atau mungkin dari pihak orangtua? Jika Anda sanggup menghadapi itu semua, bolehlah Anda berbangga mengatakan pada orang lain bahwa Anda sungguh mencintai pasangan Anda.

Lantas bagaimana bertahan di dunia tulis-menulis? Ini sepenuhnya tergantung dari motivasi Anda sejak semula. Saya pribadi menganggap dunia literasi sebagai langkah mengaktifkan sisi otak saya yang jarang saya sentuh. Sejak kecil saya sangat menyukai ilmu eksak. Sejak kelas 2 SMP saya mulai mempelajari bahasa program komputer, andai saya tak mengimbangi sebelah otak saya, mungkin saya menjadi orang yang berpikiran timpang.

Saya juga membutuhkan menulis untuk mempromosikan dunia baca yang sangat jarang disentuh oleh orang Indonesia. Silakan googling di internet, berapa rata-rata jumlah buku yang dibaca orang Indonesia. Sangat sangat sangat kecil.

Di kemudian hari, saya juga ingin membuat novel-novel untuk anak-anak dan remaja muda. Ya, seperti punya Enid Bylton-lah atau HC Anderson. Saya berharap sejak kecil mereka terbiasa membaca bacaan-bacaan bermutu di perpustakaan-perpustakaan di setiap Kecamatan di seluruh Indonesia.

Saat saya sudah menemukan motivasi, saya mulai berpikir untuk memikirkan cara bertahan di dunia menulis. Saya mulai mengoleksi foto-foto di pinterest dan tumbler. Saya juga mempelajari musik-musik dan lagu-lagu. Dari foto, novel, musik, lagu, berteman dengan sesama penulis, jalan-jalan, dan psikologi, saya memperoleh banyak informasi yang berguna.

Anda pun bisa memakai cara Anda pribadi. Masih banyak yang dapat kita gunakan sebagai bahan menulis dan memotivasi diri kita sendiri. Dan yang terpenting, jika Anda sudah mengatakan “Saya suka menulis” maka Anda harus “Menulis”. Jangan takut dengan mencoba. Jangan hanya mengikuti seminar-seminar kepenulisan. Baik-baik saja, sih. Tetapi jika Anda terlalu sibuk belajar, terus kapan prakteknya?

17 responses to “Alangkah Sulit Bertahan pada Cita-cita (menulis)

  1. wuih keren bgt ini tlsn. kalo liat buku2 di gramed gt sy srg terkagum2/ngiri ama nama2 yg tertls di buku2 itu. thx mas atas inspirasinya🙂

    Disukai oleh 1 orang

  2. Cita-cita ketika kecil adalah dokter.. sekarang saya ngambil Akuntansi.
    Cita-cita dan kenyataan belum tentu sesuai. ahahaha
    Tapi, di tengah-tengah kuliah akuntansi saya ingin jadi penulis.🙂

    Disukai oleh 1 orang

  3. Iya mas, apalagi kalau pembacany sedikit (seperti blog saya, haha)
    Jadi tambah semangat ni. Trims ya mas

    Suka

  4. Menjadi penulis tidaklah sulit dewasa ini di Indonesia. Karena menjadi seleb blog maupun seleb tweet pun sudah merupakan golden ticket untuk menembus dunia penerbitan. Efeknya genre metropop dan teen lit banjir dimana-mana. Penulis muda muncul seperti jamur dimana-mana walau kadang dengan kualitas yang biasa-biasa saja.

    Pertanyaan yang paling cocok adalah apakah menjadi penulis sebagai profesi untuk pegangan hidup itu sulit apa mudah?

    Nah disini baru jawabannya adalah sulit. Mengapa? Tentu karena market share pembaca di Indonesia sangat rendah sekali bila dibandingkan dengan negara negara lain seperti USA, inggris, Jepang, Australia dimana kegiatan membaca buku sudah menjadi budaya dalam keseharian. Tentu efeknya menjadi penulis di negara-negara tersebut lebih terjamin karena memiliki market share yang luas.

    Disukai oleh 1 orang

  5. Gimana caranya maksa nulis saat ide dan inspirasi seolah menghilang sama sekali…

    Suka

  6. Memang mas. Suka hilang tiba2 di tengah.😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s