Cara-cara Menyambung Antarkalimat


Sumber: Pinterest

Dalam dunia fiksi, kalimat adalah jiwa. Kalimat bukanlah benda mati. Memakai kalimat dengan tepat akan menjadikan komunikasi antara penulis dan pembaca menjadi mesra. Salah satu keahlian yang harus dimiliki oleh penulis adalah meramu kalimat, contohnya menghubungkan antarkalimat.

Seperti yang kita ketahui, kalimat-kalimat digunakan untuk menyampaikan makna (amanat) tertentu. Kumpulan kalimat yang digunakan untuk menyampaikan makna tertentu disebut wacana. Penyampaian makna tadi dapat bersifat eksplisit dan implisit.

Kehadiran “eksplisit” ditandai dengan adanya kata penghubung atau frase penghubung.
contoh:
Anaknya meninggal sehari yang lalu. Oleh karena itu dia sangat sedih saat ini.

Sedangkan wacana “implisit”ditandai dengan tidak adanya kata penghubung.

contoh:
Gunung Semeru akan meletus dalam waktu dekat. Penduduk di lereng Semeru mengungsi ke tempat penampungan terdekat.

Kalimat-kalimat dapat dihubungkan dengan cara-cara berikut agar dapat menyampaikan amanat

  1. Penunjukkan
    Kalimat dapat dihubungkan dengan cara mengulang di bagian kalimat lain dengan kata-kata tertentu.

    • Kata ganti ia, dia, nya, dan mereka digunakan sebagai pengganti dari orang yang disebutkan lebih dulu

      Contoh:
      Julia sangat menggemari nasi goreng, bakso, dan ayam goreng. Dia tak akan pernah melewati hari tanpa memakan salah satu darinya

    • Ini/ini dipergunakan sebagai pengganti dari maksud kalimat sebelumnya
      Contoh:
      Saat itu langit mendung. Bulan tampak lari dari peraduannya. Malam gelap tanpa bintang. Keadaan ini sangat menguntungkan bagi pasukan Kerajaan Majapahit untuk menyerang musuh-musuh mereka.
  2. Kata Hubung
    • Kata-kata yang dihubungkan dengan “sebab itu”, “karena itu”, “oleh karena itu”,  dan “itulah sebabnya” adalah kalimat yang mempunyai hubungan sebab-akibat. Kalimat-kalimat yang dihubungkan tidak bersifat intrakalimat tetapi antarkalimat.
      Contoh:

      1. Hari ini adalah hari Minggu. Oleh karena itu, kita tidak perlu masuk sekolah
      2. Nilai ulangan sekolah kita menurun.
        Sebab itu, kita harus belajar lebih keras.
      3. Adiknya dibunuh pada pertempuran 10 Nopember. Itu sebabnya, dia begitu dendam pada Belanda.
    • “Jadi”,”maka”,” kalau begitu”, “jika demikian”, “begitulah”, dan “jika begitu” dipergunakan dalam kalimat untuk menyatakan kesimpulan
      Contoh:

      1. Makanan yang Anda pesan adalah soto ayam, rawon, dan sate. Jadi, total yang harus Anda bayar adalah seratus dua puluh lima ribu rupiah.
      2. Orangtuamu sudah membesarkan kamu sampai seperti ini. Maka, sudah seharusnya kamu membalas jasa mereka
      3. Saya rasa masalah di tempat ini sudah selesai. Kalau begitu, saya mohon diri.
      4. Hanya ada dua orang yang mempunyai kemungkinan menjadi pembunuh. Anton sudah meninggal di tanah pengasingan. Jika demikian, hanya Maya yang patut kita curigai.
      5. Candra dibenci teman-teman sekolahnya. Begitulah, nasib orang yang sombong.
      6. Kamu sudah berlatih karate selama tiga tahun. Jika begitu, kenapa bukan kamu saja yang mewakili kita di turnamen tahun depan?
    • “Sebelum itu”, “sesudah itu”, “sementara itu” dipakai untuk menyatakan urutan waktu dalam kalimat.
      Contoh:

      1. Kami sudah menggempur musuh di Surabaya. Sebelum itu, kita sudah merobek bendera Belanda di Hotel Yamato.
      2. Tinggal satu pekerjaan lagi. Sesudah itu, kita dapat berlibur selama seminggu.
      3. Nina menyiapkan hidangan malam. Sementara itu, Jaimah sedang menyiapkan minuman.
    • “Itu pun”, “lagi pula”, “apalagi”, “selain itu”,  dan “tambahan lagi” dipergunakan untuk menegaskan maksud dari kalimat
      Contoh:

      1. Pencopet itu menyerahkan semua yang diambilnya. Itu pun, tidak semua.
      2. Jangan cemas. Tak ada orang yang sanggup masuk ke markas kita. Lagipula, semua prajurit sudah bersiaga 24 jam.
      3. Para ahli di tempat ini saja tak mampu memecahkan rumus itu. Apalagi dia yang baru saja lulus setahun lalu.
    • “sebaliknya” dipergunakan untuk menyatakan pertentangan antarkalimat
      Contoh:
      Sebagai seorang karateka, dia sangat berani menghadapi musuh. Sebaliknya, dia sangat takut terhadap tikus
  3. Sinomini
    Sudah jelas dari kata “sinomini”. Kalimat yang  menggunakan sinomini berarti menggunakan penghubung-penghubung yang mempunyai kesamaan arti.Perhatikan, kata “Wiro Sableng”,”Pendekar Sakti”, dan “pemilik kapak naga geni 212” menunjuk pada orang yang sama. Inilah contoh sinomini.
    Contoh:
    Wiro Sableng sering melakukan kekonyolan terhadap musuh-musuhnya. Setelah melemparnya dengan pisang, Pendekar sakti itu melucuti pakaian Si Muka Tengkorak. Tak heran pemilik kapak naga geni 212 itu sering membuat lawan-lawannya malu.
  4. Paralelisme
    Paralelisme adalah kalimat-kalimat yang isinya berbeda tetapi mempunyai maksud yang sama. Paralelisme bukan sekedar cara menghubungkan kalimat tetapi juga termasuk gaya bahasa.
    Contoh:

    1. Cintailah aku dengan segala jiwamu. Miliki aku dengan
      segala kepenuhanmu. Bukankah aku adalah istrimu sekarang?
    2. Jangankan datang. Memikirkan aku saja dia tak mau
  5. Kesamaan Tema
    Kesamaan tema bukan sinonim. Kata-kata yang menghubungkan antarkalimat ini mempunyai suasana yang berdekatan. Misal kata banjir selalu dihubungkan dengan sampah pada sungai. Maka kata-kata ini dapat digunakan untuk menghubungkan kalimat. Seperti contoh dibawah ini.
    Contoh:

    1. Akhir-akhir ini kita mendengar adanya banjir di berbagai tempat di ibukota. Sudah seharusnya masyarakat mulai tertib dengan tidak membuang sampah di sungai-sungai
    2. Setiap tanggal 10 Nopember kita memperingati Hari Pahlawan. Pertempuran yang terjadi pada hari itu telah mengakibatkan banyak pejuang gugur
  6. Hiponimi
    Hiponimi adalah kata yang termasuk himpunan kata yang lain. Sebagai contoh, kata Andi, Karmila, Basuki termasuk kata orang. Kata-kata Indonesia termasuk kata negara. Disamping untuk menyatakan suatu bagian kalimat, hiponimi juga dapat digunakan untuk menghubungkan kalimat.
    Contoh:

    1. Pak Adi, Pak Rahmad, Pak Dodik, dan Pak Burhan beramai-ramai melakukan protes terhadap Kepala Desa. Orang-orang itu dengan penuh emosi membawa pentungan dan senjata tajam lainnya.
    2. Ayah Budi memelihara Perkutut, Cucak Rawa, dan Love Bird. Burung-burung itu dia pelihara pada sangkar terpisah
    3. Pada hari Minggu, sepeda motor, mobil, dan angkutan umum tidak boleh melewat jalan ini. Kendaraan itu harus memutar karena pada hari tersebut ditetapkan sebagai Hari Tanpa Asap Motor
  7. Antonimi
    Menggunakan lawan kata untuk menghubungkan kalimat juga memperindah suatu tulisan.  Perhatikan contoh berikut ini:
    Contoh:
    Hidup ini seperti kopi manis. Pahit kopi saat menderita. Manis gula kala sampai di puncak.
  8. Elipsis
    Kalimat elipsis digunakan untuk menjawab pertanyaan secara singkat, namun secara tersamar, kalimat pertanyaan terkandung di dalamnya.
    Contoh:

    1. Anton: Jika pacarmu bukan Keyzia, lantas siapa?
      Budi: Floriana!
    2. Sonya: Masa, sih, Papa tidak bisa membelikan aku mobil? Memangnya Papa orang miskin
      Papa: Memang!

3 responses to “Cara-cara Menyambung Antarkalimat

  1. Saya belajar byk dr blog ini
    Terimakasih byk~

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s