Gunakan Bahasa Non Verbal Untuk Memperkuat Komunikasi Tokoh-tokoh Fiksi


Sumber: Pinterest

Kesalahan yang sering dilakukan oleh penulis pemula, mereka terlalu berkonsentrasi pada dialog dan narator untuk menjelaskan keadaan tokoh-tokohnya. Padahal diluar itu, masih ada cara untuk berkomunikasi, bahkan tanpa kata-kata, yaitu komunikasi non verbal.

Komunikasi non verbal adalah komunikasi tanpa kata-kata. Komunikasi ini terjadi lewat perantaraan-perantaraan berikut:

 

  1. Aksi Fisik
    Arman berlari secepat kilat memasuki gerbang. Orang-orang memicingkan mata tak senang. Tubuh Arman sering bersinggungan dengan mereka. Hanya karena tubuh Arman yang besar sajalah yang membuat mereka tak berani lebih dari sekedar mengeluarkan tanda-tanda tak senang. Keringatnya semakin menetes. Mula-mula hanya berupa titik. Lama kelamaan serupa banjir. Tubuhnya basah, namun dia masih belum mau berhenti juga. Tiba-tiba di menatap seorang perawat sedang berjalan ke arahnya. Arman mempercepat larinya. Dia berhenti sejenak sebelum bertanya, “Suster, ini obatnya. Saya baru menebusnya. Tolong Sus, berikan ke Ayah saya.”

    Aksi fisik bisa menyiratkan sesuatu. Orang pastilah mempunyai alasan kenapa dia berlari, bukannya berjalan. Atau berteriak daripada berbicara, atau berbisik. Berbagai kenyataan-kenyataan alamiah seperti ini bisa kita mainkan untuk mengatakan sesuatu kepada pembaca.

  2. Sentuhan
    Anda pasti pernah melihat seorang ibu menyentuh bayinya. Apa yang ada dalam pikiran Anda. Atau Anda mungkin pernah melihat seorang Ayah yang membelai anaknya? Sentuhan memang ajaib. Tidak terlalu menekan. Hanya bersinggungan sebentar, tetapi menimbulkan efek luar biasa pada seseorang. Gunakan sentuhan fisik untuk melukiskan sesuatu tanpa kata-kata.

    Contoh:

    Mereka tak mengeluarkan suara apapun. Bahkan daun-daun yang jatuh diombang-ambingkan angin terlebih dahulu agar tak seberapa bersuara ketika menyentuh tanah. Anne menyandarkan punggung pada pohon. Disebelahnya, Raki hanya saling menempelkan ibu jarinya. Dia ingin mengatakan sesuatu. Tapi, sesuatu itu sering menguap terlebih dahulu sebelum membentuk kata.

    Raki mengerling ke arah Anne. Gadis itu meletakkan telapak tangan diatas tanah. Matanya tertutup. Mulutnya berkerut. Dengan keberanian yang tersisa, Raki meletakkan tangannya diatas buku tangan Anne. Gadis itu diam. Pertahanan Raki akhirnya runtuh. “Maaf,” bisiknya. “Ini semua salahku.”

    Mata Anne masih terpejam. Dadanya naik turun. Nafasnya kadang tersendat. Raki meremas tangan Anne. Dia mengutuk kebodohannya. Kebodohan karena melakukan tindakan yang seharusnya belum boleh ia lakukan pada Anne.

  3. Gerakan Tubuh Saat-saat Tertentu
    Tak perlu diragukan, kita sering menilai orang dari gerak-gerak sesaatnya. Kita tahu ada apa dengan tokoh A, ketika dia mengetuk-ngetukkan jari pada meja. Atau tokoh B, ketika dia mondar-mandir di depan kamar operasi, saat isterinya melahirkan.

    Contoh:

    Bulan ini sudah Oktober kedua. Dia masih ingat dua tahun lalu, Edo berjanji akan datang di setiap ulang tahunnya. Dengan mata terbuka penuh, pria itu menunjukkan setangkai mawar. “Akan selalu ada setangkai mawar buat kamu di setiap ulang tahunmu. Aku pastikan itu.”

    Wulan hanya tersenyum bahagia saat itu. Bahagia karena setelah menanti selama tiga tahun, pria itu menyatakan cintanya.

    Tetapi sekarang sudah dua tahun dia tak datang, pikirnya. Dia lantas meletakkan kedua tangannya di atas pangkuan. Ia memutar-mutar sebuah cincin bermata berlian di jari manisnya. Pandangannya menembus kaca. Sedikit demi sedikit, sebuah aliran hangat beralur dari sudut matanya sampai ke pipi.

  4. Tampilan Tokoh
    Tokoh cowok yang biasanya rapi, tiba-tiba membiarkan kumis dan janggutnya tumbuh lebat dan rambut acak-acakan adalah bahasa yang cukup untuk menggambarkan pikiran yang kacau. Ya, penampilan seperti keadaan rambut, pakaian, kuku yang kotor, cat rambut sanggup menggambarkan keadaan tokoh di satu saat.

    Contoh:

    Yana berhenti sebentar di depan pintu. Dia mempertimbangkan lagi keputusannya tadi malam bahwa dia akan menjumpai Ardi, mantannya, untuk meminta maaf, atau membiarkan masalah itu berlalu seperti yang sudah-sudah.

    Batinnya memberikan pilihan dalam setengah menit kemudian. Pilihan untuk meminta maaf.

    Sebelum tangannya mengetuk, pintu itu terbuka tiba-tiba. Yana memekik dan mundur dua tapak kaki. Di hadapannya berdiri seorang pria. Kancing-kancing pada kemejanya terbuka semua. Rambutnya panjang tak beraturan. Kumis dan janggutnya tumbuh lebat. Sorot matanya setengah tertutup oleh kelopak mata. Bau keringatnya memasuki hidung Yana dan membuatnya mual. Sosok itu mengangkat botol dan menunjuknya sambil berkata, “Hei—kamu? Sejak kapan—“

    Tubuh pria itu terjungkal tepat di hadapan Yana.

  5. Jarak Antarorang
    Jarak antarorang bisa menyebabkan masalah serius. Saya tidak bercanda. Anda bisa mencoba dengan cara seperti ini. Berdirilah pada jarak kurang dari satu meter dari orang yang baru saja Anda kenal. Saya ingin mengetahui, apakah Anda ditampar atau Si Dia tiba-tiba berlari? (Jika Anda laki-laki dan orang tersebut adalah perempuan). Percobaan kedua, gendonglah bayi yang baru Anda kenal. Apa reaksi bayi tersebut.Jarak menentukan seberapa erat hubungan kita dengan orang tersebut. Jarak juga menentukan seberapa “menerima”-kah orang tersebut terhadap orang lain. Jarak itu berhubungan dengan keintiman/kedekatan. Orang-orang di Barat sana mempelajarinya dalam suatu ilmu yang disebut Proxemics

    Contoh:

    Anak kecil itu terpaku di tempatnya. Matanya menatap pada pria di depannya. Tubuhnya sedemikian jangkung, sampai-sampai anak kecil itu merasakan kesakitan saat mendongak. Laki-laki itu tersenyum. Ia menjaga jarak, kemudian berjongkok sambil melebarkan tangan. “Hai.” Tangannya mengacung-acungkan boneka beruang.

    Anak kecil itu berbalik dan lari. Ketika mengetahui ibunya ada di belakangnya ia pun memeluknya keras-keras. “Tasya kok takut. Itu Papa, Sayang.”

  6. Ekspresi Wajah
    Ada pepatah mengatakan bahwa mata adalah jendela hati. Dalam fiksi, saya akan memperluas dengan “Wajah adalah jendela hati”. Penerjemahan ekspresi wajah lebih universal di berbagai tempat dibandingkan dengan gerak-gerik tubuh lain. Ekspresi wajah juga sudah sering digunakan oleh penulis-penulis dibanding gerak badan lain. Anda tentu tidak kesulitan bagaimana menerjemahkan tanda-tanda di wajah menjadi marah biasa, marah besar, sedih, sangat sedih, gembira atau takut.

    Contoh:

    Marah Mata melotot, Menatap tajam, bagian bawah mulut menegang, alis mata hampir membentuk garis vertikal
    Bahagia Sudut bibir tertarik ke belakang, pipi mengembang, membuat kerutan dari hidung luar ke bibir luar
    Sedih Sudut bibir tertarik ke bawah, bibir terkatup rapat-rapat

     

  7. Perubahan Intonasi Suara
    Orang tidak pernah mengatakan bahwa mereka marah. Kita dapat merasakan dari intonasi suara. Anda juga dapat menunjukkan tokoh Anda marah dengan mengatakan pada pembaca bagaimana intonasi suara mereka meninggi atau bertambah keras.

    Contoh:

    Dina dan Doni berkeringat. Lampu di ruang tamu padam. Pagar digembok. Tangan Dina baru saja terangkat untuk mengetuk-ngetuk pagar menggunakan gembok ketika sebuah suara terdengar.

    “Jam berapa sekarang?”Suaranya begitu keras. Kucing yang sedang mencari makan di tong sampah langsung lari tunggang langgang.

    Pria itu berjalan menuju tempat yang lebih terang. Mereka melihat pria bertubuh gendut berdiri tegak. Suaranya merendah ketika mengatakan, “Dina! Kamu masuk. Dan kamu Doni! Masuk ke dalam dulu. Bapak ingin berbicara dengan kamu sebentar.”

  8. Postur

    Saya pernah mendengar bahwa wanita yang bungkuk berarti kuat di “ranjang”? Atau Anda mungkin pernah mendengar bahwa orang tersebut berjalan seperti bebek? Ini adalah postur. Segala cara yang dilakukan orang untuk “membawa” tubuhnya sendiri disebut postur. Tingkah postur mempunyai arti yang beraneka ragam. Di berbagai daerah bahkan diterjemahkan secara berbeda dari daerah lain. Perhatikan gerak punggung, cara berjalan, cara mengangkat tungkai kaki, cara berdiri. Kesemuanya akan menandakan sesuatu pada orang tersebut.

    Contoh dibawah ini saya buat, untuk memberikan contoh bahwa si Bima adalah tipe cowok tradisional. Perhatikan kalimat-kalimatnya. Saya sama sekali tidak memberitahukan kepada pembaca secara eksplisit tetapi implisit.

    Contoh:

    “Kamu tidak tertarik dengan mereka?” Tangan Budi menjuntai di samping badan. Dia berkeinginan membantu Bima untuk mencari pacar. Tapi tak sedetik pun rasa ketertarikan ada di mata Bima.Bima tak menjawab.

    Matanya menjelajahi taman di kampus Budi. Seorang mahasiswi tampak mengenai kulot sedang berjalan dengan tangan terayun ke atas. Bajunya tampak berkibar-kibar karena ayunan tangan. Di sebelah kiri mereka duduk dua orang gadis. Gadis di sebelah kiri menumpangkan kaki. Sebuah ote-ote tampak berkali-kali mampir ke mulutnya. Teman di sebelah kanannya tertawa keras. Suaranya benar-benar seperti kaleng kerupuk di lempar ke tembok.

    Bima membayangkan hari-hari ketika dia masih bocah. Yu Sri, penjual jamu langganan ibunya selalu tampak cantik berkebaya. Rambutnya yang tak mengenal salon tergelung menggantung. Bibirnya tampak basah tapi ia tak pernah membuka mulut lebih dari setengah kemampuan rahangnya.

3 responses to “Gunakan Bahasa Non Verbal Untuk Memperkuat Komunikasi Tokoh-tokoh Fiksi

  1. selama ini aku menulis non-fiksi, aku mengalami kesulitan saat mulai menulis fiksi, makanya aku berterima kasih banyak atas postingannya, sangat membantu. great job!

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s