Cerita Mini Horor: Penjaga


Darman terkantuk-kantuk ketika Cipto datang. Dia duduk di kursi. Di depannya terdapat empat monitor CCTV. Masing-masing monitor menampilkan empat video yang memonitor ruang-ruang berbeda.

“Kalau Pak Junet tahu kamu tidur waktu jaga, besok kamu pasti dipecat.”

Darman langsung berusaha membuka mata dan diraihnya gelas kopi di sisi kiri.

“Malam ini giliran kamu cek sisi kiri.” Cipto menyerahkan Watchman Clock, sebuah alat terbuat dari logam. Pada alat ini terdapat lubang kunci yang dapat dibuka pada kunci khusus. Kunci pasangannya biasanya diletakkan di suatu ruang tempat yang dia harus datangi. Jika Watchman Clock terbuka, berarti orang tersebut sudah sampai pada ruangan tersebut. Dengan alat ini, bisa dipastikan bahwa Satpam tersebut sudah patroli di dekat ruang tadi.

Darman enggan meraih alat itu, sebab kunci alat ini ada di lantai lima, lantai paling atas di Universitas ini, sedangkan pos jaga Satpam ada di lantai pertama. Tapi apa boleh buat. Pekerjaan apa sih yang bisa di dapat dengan Ijazah SMA? Darman mengalungkan alat tadi di leher dan dia mulai beranjak dari pos keamanan.

Andai kunci alat ini bukan di lantai 5, dia tidak akan pernah pergi kesana. Lima bulan lalu ada seorang mahasiswi yang dibunuh di toilet kamar mandi pada lantai 4. Sampai sekarang pembunuhnya masih belum tertangkap. Untuk sementara lantai 4 telah ditutup. Tombol lift pada lantai 4 telah dimatikan.

***

Darman memejamkan mata saat di dalam lift. Dia memang masih mengantuk. Sepanjang pagi dan siang, dia menemani anaknya di rumah sakit.

Lift berhenti. Tanpa melihat lantai berapa, Darman memastikan bahwa itu adalah lantai 5. Sebab dia sudah memencet tombol 5 sewaktu di lantai 1 dan pintu lift terbuka dengan sendirinya. Sudah pasti itu lantai 5, pikirnya.

Lantai 5 adalah ruang multimedia. Banyak ruangan-ruangan diisi oleh komputer dan server yang berukuran besar. Darman sering melihat beberapa mahasiswa masih sibuk menyelesaikan tugas dari dosen sampai larut malam. Dan juga malam ini…

Seorang tampak sedang mengetik pada komputer. Bagian barat ruangan komputer adalah tembok gedung, sementara dibagian timur, setengahnya adalah kaca. Darman benar-benar mengagumi mahasiswa ini. Dia berani seorang diri berada di gedung ini.

Keningnya berkerut. Sudah menjadi peraturan, mahasiswa yang memakai ruang di kampus harus minta ijin Satpam setempat. Namun seingatnya, dia tak merasa ada seorang mahasiswa minta ijin memakai ruangan sampai larut. Satu-satunya ruangan yang boleh dipakai dua puluh jam tanpa ijin hanya ruang senat di dekat lobby lantai satu.

Darman mengambil walkie talkie.

“Apakah Pak Cipto mendapat ijin dari mahasiswa untuk memakai ruangan, Pak?”

“Tidak, Man. Kenapa?”

“Disini ada mahasiswa sedang memakai ruang komputer.”

Cipto langsung terkejut. Buru-buru dia menjawab, “Darman, cepat pergi dari situ. Cepat!”

“Lho, ada apa, Pak? Saya tidak takut mengusirnya kalau memang dia belum meminta ijin.” Darman merasa harga dirinya sebagai seorang Satpam direndahkan.

“Kamu, kan tahu, Darman. Sekarang hari Minggu. Mahasiswa hanya diberi ijin memakai kampus sampai Sabtu jam 12 siang.”

Cipto tidak mendapat jawaban. Suara di walkie talkie tiba-tiba ribut. Beberapa detik kemudian suaranya berganti dengan suara berisik radio. Sesekali Cipto mendengar suara seperti desisan. Cipto tak berani membayangkan apa yang terjadi pada Darman. Dia mengontak Polisi. Cipto bersama-sama Polisi memasuki Lantai 5. Tapi mereka tak menemukan apa-apa. Beberapa Polisi dan Cipto saling berpandang-pandangan.

Tiba-tiba Cipto merasa badannya dingin. “Apa mungkin di lantai 4, Pak?”

Mereka bergegas kesana. Tetapi karena tombol pintu lift di lantai 4 dimatikan, mereka melewati tangga darurat di samping gedung.

Cipto langsung lemas saat pintu lantai 4 terbuka. Di depan ruangan agak tengah, ia melihat serpihan-serpihan seperti daging dan genangan darah. Tak ada sosok tubuh Darman yang masih utuh. Pandangan Cipto mengelilingi seluruh lorong. Tak ada satu pun ruangan yang lampunya masih menyala. Semuanya gelap gulita.

Dua bulan dari peristiwa itu, seluruh penghuni kampus disuguhi berita yang mengejutkan. Bagian forensik menemukan ada bagian kulit dan darah di balik kuku gadis yang terbunuh. Hasil dari pemeriksaan genetika menyatakan, bahwa darah dan kulit itu adalah milik dari Darman. Tak ada penjelasan lain. Pihak Universitas menutup lantai 4 untuk selama-lamanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s