Penggunaan Tanda Kutip pada Dialog


Tanda kutip dalam dialog mungkin adalah “EYD” yang sering dipakai pada tulisan fiksi. Saya pribadi sering salah menggunakan saat saya masih bersekolah, padahal saya sudah mempelajari Bahasa Indonesia sejak SD. Mungkin Anda juga? Kita tidak boleh salah lagi dalam menggunakannya saat kita menjadi penulis. Jangan biarkan diri kita didepak Editor gara-gara EYD yang memalukan. Berikut ini adalah beberapa contekan penulisan-penulisan menggunakan tanda kutip.

  1. Harus memakai huruf kapital pada huruf pertama di kata pertama.
    Contoh:

    • Kamu mau kemana?”
    • Jangan begitu. Itu tidak baik.”
  2. Harus menggunakan koma untuk memisahkan kutipan langsung dan “siapa yang berbicara”
    Contoh:

    • Anjasmara berkata, “Siapa kamu? Berani-beraninya kamu menatapku seperti itu.”
    • Angga berbisik di telinga Amanda, “Aku mencintaimu.”
  3. Tidak menggunakan tanda koma jika “siapa yang berbicara” diletakkan di belakang dan didahului tanda seru dan tanda tanya
    Contoh:

    • “Aku muak melihatmu!” jerit Amanda sambil berlari.
    • “Siapa wanita itu?” tanya Ibu kepada Ayah.
  4. Kita menggunakan koma jika “siapa yang berbicara” diletakkan di belakang kutipan dan tidak ada tanda tanya dan tanda seru.
    Contoh:

    • “Jangan pulang kalau kamu tidak menang,” kata Pak Ali tegas dan mantap.
    • “Aku mencintaimu,” jerit Adi dari kejauhan.
  5. Kita tidak perlu memakai koma jika tidak ada unsur “siapa yang berbicara”
    Contoh:

    • “Aku memang pelacur.” Amanda menangis tersedu-sedu. “Tapi aku tetap wanita biasa.”
    • “Entahlah, Bu.” Pak Bardi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Aku sendiri juga bingung menghadapi dirinya.”
  6. Kita memakai koma, jika “siapa yang berbicara” diapit oleh bagian pembicaraannya jika “siapa yang berbicara” diikuti oleh gerakan-gerakan dan awal kata pada kutipan kedua tidak memakai huruf kapital.
    Contoh:

    • “Aku memang pelacur, “ Amanda berkata sambil menangis tersedu-sedu, “tapi aku tetap wanita biasa.”
    • “Entahlah, Bu,” kata Pak Bardi pelan ketika menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, “aku sendiri juga bingung menghadapi dirinya.”
  7. Kita tidak memakai koma, jika “siapa yang berbicara” diapit oleh kutipan, tetapi kutipan berikutnya bukan merupakan bagian dari kutipan terdahulu.
    Contoh:

    • “Majulah kalau kamu berani,” kata Bandi. “Kamu pikir aku takut sama kamu.”
    • “Jangankan Nancy. Bahkan Monica bisa aku jadikan pacar dengan mudah,” seru Christop sambil menepuk dada. “Siapa, sih, yang tidak tidak tahu Christop. Playboy cap tangan tiga.”

 

 

Iklan

2 responses to “Penggunaan Tanda Kutip pada Dialog

  1. terima kasih atas infonya, sangat membantu dalam belajar menulis

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s