Resensi Novel Segurat Bianglala di Pantai Senggigi


SeguratBianglala-MiraWJudul Buku: Segurat Bianglala di Pantai Senggigi

Penulis: Mira W

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: 1993

Jumlah Halaman: 288 Halaman

ISBN: 979-511-681-9

 

Asri, Lindung dan Lestari pergi ke Pulau Lombok untuk mencari orangtua Asri tetapi mereka malah berjumpa dengan kisah asmara.

Trio ALL yang terdiri dari Asri, Lindung dan Lestari telah lulus SMA. Mereka bertiga sepakat mencari ayah Asri di Pulau Lombok.

Pencarian ternyata tak mudah. Untuk menghemat ongkos, mereka menginap di penginapan kecil yang dijaga oleh paman Lestari, bernama Waliki. Di penginapan itu pula lah mereka bertemu dengan Volker dan Gustav, pemuda Jerman yang sedang berlibur. Lestari tertarik pada Gustav, meskipun sudah memiliki Tomy di Jakarta. Tetapi perhatian Gustav benar-benar membuat Lestari menyukainya.

Suatu hari Waliki mendatangi keponakannya. Dia menyuruh Lestari dan teman-temannya mengajak Volker dan Gustav pergi dari cottage-nya. Paman Lestari tersebut mengakui, bahwa sebenarnya cottage tersebut milik pribadi Pak Muluk, bukan untuk disewakan. Jika sampai Pak Muluk tahu masalah Volker dan Gustav, maka Pak Waliki terancam dipecat. Lestari dan teman-temannya mengajak Volker dan Gustav untuk mendaki Gunung Rinjani.

Sebelum pendakian, mereka menginap di sebuah losmen kecil, di dekat kaki Rinjani. Mereka menyewa segala perlengkapan pendakian di losmen itu termasuk laki-laki pemandu bernama Segara.

Teman-teman Asri segera tahu jika Asri menyukai pemuda tersebut. Jadilah Lindung merasa was-was dengan keadaan teman-temannya. Baru saja kemarin Lestari menyukai Gustav meskipun sudah punya Tomy, sekarang ditambah dengan Asri yang menyukai Segara, meskipun dia sudah memiliki Norman.

Celaka dua belas. Saat mereka selesai mendaki dan bersantai di losmen, Lindung berjumpa dengan Norman dan Tomy. Lindung terpaksa mengantar mereka menemui Asri dan Lestari karena Lindung tidak mempunyai cara untuk mengingatkan Lestari dan Asri. Norman menerima pemutusan sepihak dari Asri, tetapi tidak dengan Tomy. Pemuda itu tetap berjuang merembut cinta Lestari dari Gustav.

Masalah bertambah dengan kehadiran ayah Asri. Teman-temannya dan Asri terkejut, ternyata Asri mempunyai saudara kembar bernama Asih.

Saya bolak-balik ketawa saat membaca novel ini. Dialog antara Lestari, Asri, Asih dan Lindung benar-benar lucu dan konyol, khas remaja. Dialog di novel ini mengingatkan saya akan novel Lupus karya Hilman. Namun novel ini tetap mempunyai perbedaan dibanding Lupus. Pada Lupus, saya hanya merasakan aroma komedi saja. Pada novel ini, saya bisa merasakan lucu, bahagia, sedih, dan menyentuh secara bergantian.

Tokoh-tokohnya sering melucu tetapi tetap “berkarakter”. Pribadi tokoh-tokohnya jelas berbeda satu sama lain. Bahkan Mira W tidak sekedar memaparkan lewat dialog, tetapi juga lewat narasi dan narator. Lengkap sudah.

Plot-nya tidak sulit untuk diikuti. Masalah tokohnya juga tak rumit, sehingga novel ini sangat “teenlit” sekali. Alurnya juga mengalir, sehingga penambahan plot minor sama sekali tidak merusak plot utama.

Pemakaian bahasa juga sangat apik. Bahasa sehari-hari remaja di era 90-an. Saya masih dapat mengikutinya. Beda dengan Marga T, saya sering mengerutkan dahi karena ada beberapa kata yang tidak saya ketahui artinya. Oh, ya, ngomong-ngomong bahasa, saya juga tertarik dengan cara Mira W memaparkan dialog bahasa inggris. Jika penulis seperti Marga T, menuliskan bahasa asing, kemudian diikuti dengan terjemahan. Pengarang satu lagi menuliskan bahasa inggris tanpa terjemahan. Dan ada lagi penulis ANU menuliskan terjemahan sebagai catatan kaki. Atau penulis ITU menuliskan tetap dalam bahasa indonesia dengan huruf miring. Dan Mira W?–tetap menuliskan dalam bahasa indonesia. Tentu saja dengan menjelaskan kapan bahasa indonesia itu adalah terjemahan bahasa inggris (tanpa memiringkan tulisan). Sangat praktis.

Pembaca era 2000-an mungkin akan mengalami atmosfer yang berbeda di novel ini. Saya tak menjumpai syair lagu. Pun pula dengan puisi. Juga tak ada kata-kata dari pujangga tertentu. Namun demikian, novel ini tetap menarik untuk dibaca. Saya heran, bagaimana mungkin bahasa, plot, karakter, masalah yang sederhana bisa membuat saya betah membacanya?

Daftar Tokoh:

Nama Tokoh Keterangan
Asri Ayahnya meninggalkannya sewaktu Asri masih kecil
Asih Saudara kembar Asri
Lindung Teman Asri dan Lestari. Jago makan
Lestari Teman Asri dan Lindung. Anak bungsu
Volker Turis jerman yang menginap di pondok Pak Waliki
Gustav Turis jerman yang menginap di pondok Pak Waliki
Pak Waliki Paman Lestari
Tomi Pacar Lestari
Norman Pacar Asri
Pak Muluk Pemilik pondok tempat Pak Waliki bekerja
Segara Pemuda Pemandu di Gunung Rinjani
Akira Pria jepang yang menggoda Asri. Pendaki dari Jepang
Takeda “Tak Ada Renovasi” Pria pendaki dari jepang
Tawamura “Murah Tawa” Pria pendaki dari jepang

6 responses to “Resensi Novel Segurat Bianglala di Pantai Senggigi

  1. novel bacaan saya waktu masih SMP.. bener2 nostalgia🙂
    ada yg tau versi PDF nya??

    Suka

  2. dulu pernah baca novel ini …dan skrg pngen baca lgi tpi susah nyari bukunya …
    mau baca online tpi gak nemu” T__T
    sya suka banget novel ini ….

    Suka

  3. Kayaknya novel ini bagus untk nostalgia generasi 90an😉

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s