Apakah Self Publishing Sebuah Alternatif Penerbitan?


Sudah banyak artikel di internet yang membicarakan masalah self publishing. Sudah banyak pula yang menanyakan ini-itu tentang self publishing. Namun masih tetap saja banyak orang menulis masalah self publishing. Termasuk saya! Kenapa?

Sebelum kita membicarakan self publishing, ada baiknya kita memulai dengan melihat sekilas penerbitan konvensional. Jika ada seseorang menginginkan naskah tulisnya diterbitkan, maka orang tersebut haruslah mengirimkan pada penerbit. Naskah tersebut tentu saja bertarung dengan naskah dari seluruh Indonesia. Naskah yang menariklah yang akan diterbitkan.

Beberapa penerbit mematok waktu penyeleksian naskah. Biasanya sekitar tiga bulan. Namun pada kenyataannya waktu tiga bulan kerap terlewati. Bayangkan saja, saya mendengar di sebuah penerbitan terkenal, naskah yang datang setiap hari berkisar di jumlah tujuh ratus bahkan lebih. Berapa jumlah editor di penerbitan tersebut? Bagilah jumlah naskah dengan editor. Berapa naskah jatah tiap editor?

Disamping jumlah naskah yang “horor”, editor juga mempunyai tenggat waktu yang tak lama. Sehingga editor dituntut kreatif dalam melakukan seleksi naskah. Ada editor yang mencari sinopsis cerita terlebih dahulu. Jika sinopsis menarik, barulah membaca keseluruhan naskah. Ada editor yang mencari-cari kesalahan EYD. Begitu menemukan, naskah tersebut langsung masuk tong sampah, ganti naskah lain. Ada juga yang mengutamakan penulis yang sudah pernah mengirimkan naskah. Kenapa? Sebab bukunya sudah terbukti laku, mengapa harus beresiko mencari penulis yang masih orok?

Di pihak lain, ada penulis pemula yang tidak tahu seluk beluk yang demikian sehingga resah naskahnya tidak kunjung disetujui untuk terbit. Sebagai penulis, kita tidak dapat menyalahkan editor. Industri buku memerlukan profit untuk membayar karyawan dan lain-lain. Jika buku tak laku, penerbit akan gulung tikar.

Lantas bagaimana nasib penulis pemula. Yang mungkin masih membuat sinopsis jelek? Atau tak dapat membedakan mana sinopsis? Mana blurb? Sehingga mereka menyembunyikan bagian-bagian penting suatu cerita dengan alasan “kalau tahu semua entar nggak mau baca semua’. Tetapi bagaimana penulis pemula bisa menjadi penulis senior jika tulisannya tak pernah mejeng di berbagai media? Nah, jadi lingkaran setan, kan?

Untunglah dunia penerbitan sekarang begitu maju. Ada jenis penerbitan lain yang bisa dipilih. Istilah kerennya self publishing, alias nerbitin buku sendiri. Self publishing sendiri bisa saya bagi dua, pertama on-demand, yaitu mencetak buku jika ada yang pesan. Jika Anda memakai jenis ini, pembeli butuh waktu lama untuk mendapatkan buku Anda, biasanya sekitar 10 hari kerja baru buku tersebut dikirim (belum termasuk lama pengiriman, lho). Kenapa lama? Ya, iyalah, bukunya kan tidak ready. Harus dicetak dulu dan dikemas. Enaknya, Anda tidak perlu mengeluarkan kocek terlalu dalam. Kedua, mencetak sejumlah tertentu (misal 300 kopi atau 1000 kopi). Kerugiannya dibanding on demand adalah Anda tentu harus merogoh kantong untuk membayar pencetakan buku sebanyak itu. Keuntungannya, pembaca cepat mendapat buku plus tanda tangan Anda. Apa perbedaan lainnya dengan penerbitan konvensional?

Pada self publishing penulislah yang merangkap sebagai penerbit. Apa artinya ini? Jika di penerbit konvensional penulis tinggal memberikan naskah saja, maka di self publishing tidaklah demikian. Di self publishing, penulis harus memikirkan editing, jenis font, besar font, sampul buku, lebar dan panjang novel, ISBN, serta marketing. Wow, banyak bingit. Kenapa harus? Mari kita bicarakan satu persatu.

Editing

Jika Anda berurusan dengan penerbit konvensional/mayor, maka Anda akan dipasangkan dengan editor. Mbak/Mas/Kakak Editorlah yang membantu agar naskah penulis layak terbit. Yang dilakukan editor macam-macam, misal, membetulkan EYD, memberi saran untuk menambah/mengurangi plot, memperpanjang/memperpendek naskah, atau membantu format penulisan agar layak baca. Editorlah yang mengatakan, “Oke. Siap dicetak.” Editor yang tahu tema-tema layak jual di penerbitan. Editorlah yang turut senang jika buku penulis tersebut laku.

Di self publishing, penulis harus merangkap menjadi editor. Tapi jangan bermuram durja. Jika Anda merasa tidak mampu menjadi editor, Anda dapat memanfaatkan jasa editor freelance. Bahkan ada self publishing yang menawarkan jasa editing. Tentu saja ada ongkos kerja. Ada editor freelance yang mematok harga Rp 10.000 per lembar kertas. Oleh karena itu, saya sarankan mulai sekarang Anda, yang berniat menjadi penulis, untuk belajar EYD dengan sepenuh hati. Gampang kok. Buku-buku tentang EYD bertebaran dimana-mana. Begitu juga dengan format naskah. Perhatikan novel yang Anda baca. Ya itulah format yang disukai penerbit tertentu.

Font
Font juga faktor penting pembaca betah membaca buku Anda. Ada penerbit self publishing yang mempunyai font khusus, namun ada juga yang mengharuskan Anda yang menentukan sendiri. Lantas font apa yang sering dipakai di buku-buku? Tipe standar adalah Times New Roman. Anda suka? Silakan dipakai. Saya pribadi tak menyukai Times New Roman. Terlalu kaku untuk ukuran saya. Diluar itu font-font yang lain adalah Garamond, Book Antiqua, dan Bookman Old Style. Untuk font judul novel, saya menyarankan Anda mencoba Liberation sans, Optimus princeps, Shonar Bangla, Trajan pro, English gothic, open sans, Lato atau Pandama. Jangan norak dengan memakai Courier New, Arial, apalagi Comis Sans MS. Font-font tadi benar-benar horor untuk penerbitan (ini pendapat saya pribadi). Anda benar-benar harus mempertimbangkan jenis font berdasarkan apakah buku Anda fiksi/non-fiksi? Buku anak-anak atau bukan? Dan lain-lain.

Gambar Sampul Buku
Gambar sampul buku dapat Anda rencanakan sendiri atau dapat juga meminta bantuan ahlinya. Apalagi jika Anda membuat buku untuk anak-anak. Menurut pengalaman saya, harga jasa pembuatan jasa gambar sampul sekitar 400-500 ribu, bisa juga lebih. Saran saya, jangan main-main dengan sampul. Yang dilihat dari buku Anda pertama kali adalah sampul. Jika Anda tidak profesional dengan dunia gambar-menggambar, alangkah baiknya Anda memakai jasa pembuat sampul buku. Sampul menarik, kemungkinan orang membeli buku Anda semakin besar.

Perhatikan masalah hak cipta. Jangan mengambil sembarangan gambar dari internet. Gambar-gambar tersebut bisa saja mempunyai hak cipta. Apabila perlu, mintalah ijin terlebih dahulu dari si Empunya gambar.

Lebar dan Panjang Buku
Lebar dan panjang buku bermacam-macam. Ada self publishing yang sudah mempunyai template sendiri. Misal 13 x 19 Cm. Jika tidak carilah novel di toko buku dan ukurlah. Sesuaikan font dan besar font dengan ukuran buku Anda.

ISBN
ISBN adalah kependekan dari International Standart Book Number. ISBN biasa tertulis dibagian belakang buku, sebelah kanan bawah. Anda tidak harus mengurus ISBN. Namun jika Anda ingin lebih keren. Anda bisa mengurusnya sendiri. Biasanya sekitar dua minggu doang. Jika tak mau repot, serahkan pada tempat Anda ber-“self publishing”. Biasanya mereka menyediakan jasa pengurusan ISBN. Sekali lagi pasti tidak gratis.

Marketing
Marketing? Ini baru seru. Setelah buku Anda dicetak. Anda tentu harus memasarkan buku Anda. Bagaimana? Ini sih tergantung kreatifitas Anda. Beberapa cara yang dipakai penulis adalah: mengadakan kuis buku, membuka blog pribadi (wordpress, blogspot, detik) tentang buku tersebut, memasarkan pada sosial media seperti Facebook, Twitter, Instagram, Path, Pinterest, Stumbleupon, Tumblr, Goodreads atau lain-lain. Berbaik-baiklah dengan para penulis, siapa tahu Anda butuh endorsement dari mereka (he…he…he). Eh belum tahu endorsement? Endorsement itu adalah kata-kata pujian untuk buku. Biasanya diletakkan di belakang buku.

Anda dapat juga memakai media promosi berbayar, contoh AdWords punya google, atau punya facebook. Beberapa tempat self publishing juga menyediakan jasa marketing juga. Tentu saja tidak gratis. Ada yang sampai sejuta.

Apakah Saya Harus Self Publishing?
Kita tiba pada sesi terakhir tulisan saya. Apakah saya harus self publishing? Banyak alasan untuk menjawabnya. Saya cuma turut sumbang-sarang.

  1. Dendam pada Penerbit
    Dendam itu adalah api. Maka panas. Dendam itu adalah negatif, padahal sebagai penulis Anda membutuhkan energi positif. Dendam membuat Anda tidak tenang. Mengacaukan. Bahkan membuntu kreatifitas. Tiap penerbit pasti mempunyai tema-tema tertentu yang menurut mereka laku dijual. Itu hak mereka. Jika tema Anda tidak sesuai dengan harapan mereka, hak mereka dong menolak naskah Anda. Bacalah buku dari penerbit tersebut, maka Anda tahu tema-tema kesukaan mereka. Jangan self publishing jika Anda sekedar dendam pada penerbit.
  1. Dendam pada Editor
    Dendam pada penerbit saja terlarang, apalagi pada individu tertentu. Dalam hal ini editornya. Jika Editor menolak Anda, maka itu adalah waktu bagi Anda untuk mengoreksi diri. Perhatikan EYD Anda. Cari tahu format-format, bahasa, dan gaya tulis yang enak dengan membaca buku-buku dari penerbit tersebut. Periksa juga plot, bikin bosan, nggak plot Anda? Kalau perlu cari First reader. Bisa orangtua, pacar, kakak, adik atau teman terpercaya Anda. Perhatikan komentar mereka setelah membaca naskah Anda? Jangan self publishing jika Anda sekedar dendam pada Editor.
  1. Punya Tema Unik?
    Semua penerbit suka tema horor (misalnya, sih), tetapi naskah Anda bertipe Fantasy? Tentu saja naskah Anda ditolak. Jika demikian saatnya Anda self publishing. Tunjukkan pada dunia, Anda mempunyai tema unik.
  1. Ingin Berbagi pada Dunia
    Otak anda penuh imajinasi? Penuh dengan cerita? Otak Anda akan meledak kalau tidak ditulis di buku? Tunjukkan pada dunia imajinasi Anda. Saatnya Anda self publishing jika imajinasi Anda sering ditolak penerbit, sementara Anda sayang membuang imajinasi Anda.
  1. Mempelajari Dunia Penerbitan
    Apabila Anda cuma penulis yang menyodorkan naskah, Anda tak akan pernah tahu ruwetnya dunia penerbitan. Dengan self publishing Anda harus mengurus ISBN, gambar sampul, dan tetek bengek yang lain. Siapa tahu setelah lama di self publishing, Anda ingin mempunyai penerbitan sendiri. Saya doakan.

Nah, bagaimana? Apakah Anda sekarang sudah memutuskan untuk mencoba self publishing?

16 responses to “Apakah Self Publishing Sebuah Alternatif Penerbitan?

  1. mas octa, thx berat sudah mampir dan meresensi fiksi saya. wow, cepets ekali, gak ngira secepat itu he he he. saya catat deh untuk revisi selanjutnya. btw, sy sgt suka blogmas octa ini, sangat mmbantu banget bg saya yang sdg belajar menulis fiksi. thx berat sekali lagi mas octa😀

    Disukai oleh 1 orang

  2. terimakasih akhirnya ada tulisan self publishing disini
    semoga tulisan2 terkait topik ini segera bermunculan

    Disukai oleh 1 orang

  3. Syamsudin Putra Riau

    Hai kak!!!saya Syamsudin….Sayakan ingin mengirimkan novel saya kepada penerbit….cara membuat sinopsisnya lebih menarik, bagaimana kak?

    Suka

  4. kalaupun memilih self publishing ya harus dengan alasan yang tepat ya mas. jangan karena dendam hehehe.
    terus benar2 harus fight untuk marketingnya.

    Disukai oleh 1 orang

  5. Betul, Mas. Menerbitkan secara indie bisa menjadi awal yang bagus untuk mengasah kemampuan menulis, membangun keprcayaan diri, dan menambah portofolio menulis. Ada sahabat saya yang begitu. Memperbanyak menulis buku lewat indie lalu sesekali mencoba mengirimkan ke penerbit mayor. Ternyata beberapa naskahnya diterima. Sampai sekarang dia masih menulis untuk indie dan mayor.

    Disukai oleh 1 orang

  6. mas, bersediakah mas membaca karya cerita saya? sudah saya publish di wattpad sih tapi saya tidak tahu bagaimana kualitas tulisan saya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s