Resensi Novel Dakwaan dari Alam Baka Karya Mira W


DakwaanDariAlamBakaJudul Buku: Dakwaan Dari Alam Baka

Penulis: Mira W

Penerbit: Gramedia

Tahun Terbit: 1988

Gambar Sampul: David

Jumlah Halaman: 189

ISBN: 979-403-403-7

Farida tidak puas dengan keputusan pengadilan. Hanya tujuh bulan hukuman bagi pemerkosa? Dan jalan pun terbuka untuk memperberat hukuman ketika si Pemerkosa naik banding

Rindang hamil. Tanpa sengaja ia melahirkan di WC sekolah. Guru sekolah yang menghamilinya tidak mengakuinya. Setelah menyerahkan anak tersebut pada salah satu gurunya, Iksan, Rindang bunuh diri.

Farida tumbuh sebagai gadis tanpa lengan. Cita-citanya menjadi sarjana hukum kesampaian. Kasus pertamanya sesuai dengan keinginannya semula, membela kaumnya sendiri.

Dia kecewa karena Sabdono hanya dihukum tujuh bulan. Karena iba terhadap gadis korbannya, Linda Ramelan, Farida berusaha memperkarakan lagi Sabdono di tingkat banding.

Jalannya tak mulus. Yunisar, salah seorang saksi, berkeberatan menjadi saksi. Alasannya cukup masuk akal. Dia sudah bersuami dengan orang berpangkat tinggi. Linda sendiri juga datang ke rumah Sabdono secara sukarela. Sabdono berujar bahwa hubungan mereka suka sama suka. Farida terpaksa harus mencari cara lain untuk menjebloskan Sabdono lebih dalam ke penjara.

Farida menemukan benang merah di semua sekolah tempat Sabdono bekerja. Selalu terjadi tindakan asusila. Bahkan dia mendapatkan informasi, sebuah sekolah di Surabaya, seorang siswi bernama Rindang bunuh diri setelah dirinya diketahui hamil. Waktu kejadian itu berlangsung, Sabdono menjadi guru disana.

Iksan, ayah angkat Farida, termenung setelah mendapat penuturan tentang kasus terbaru Farida tersebut. Dengan sebuah surat yang ditujukan pada Pak Anwar, kepala sekolah di Surabaya, Farida berhasil mendapat kepastian bahwa Pak Anwar bersedia menjadi saksi di pengadilan.

Judulnya benar-benar menarik: Dakwaan dari Alam Baka. Seperti judul novel horor. Tapi jangan takut, ini bukan novel horor, kok. Gambar sampulnya juga menarik. Oleh karena itu saya membelinya di…pasar loak. Cerita awalnya juga cukup menarik, menggambarkan Rindang sedang melahirkan di WC sekolah. Awalan cerita yang menggoda pembaca untuk terus membaca.

Untuk ukuran novel. Dakwaan dari alam baka terbilang cukup mini dalam jumlah halaman. Tetapi isinya penuh dengan cerita. Gaya berceritanya mungkin agak tak biasa, karena sering flashback disana-sini. Untung saja ceritanya tak banyak, sehingga saya tidak sebingung ketika membaca sekuntum nozomi karya Marga T.

Point of view orang ketiga juga membuatnya mampu memaparkan kejadian diluar sepengetahuan Farida sebagai tokoh sentral. Meskipun demikian saya cenderung merasa bahwa ceritanya seperti sudut pandang orang pertama, karena ceritanya memang berputar sekitar Farida. Dan dapat dikatakan Farida adalah round character satu-satunya.

Seperti biasa, Mira W banyak memakai bahasa lugas. Agak kurang “sastra” untuk ukuran sekarang. Coba Anda saksikan kutipan berikut:

…pahanya terpampang mulus mengusik mata.

Mungkin kalau novel sekarang, kalimat tadi bisa menjadi panjang karena diputar-putar dahulu agar sopan (tapi tak semua penulis seperti ini), semisal

…bagian atas lututnya terbuka lebar, kulitnya seperti kapas, tak bercacat. Mata siapa yang tak ingin melihatnya….

Tetapi bagi saya justru “bahasa yang mendekati” bahasa sehari-hari seperti ini membawa aroma seakan-akan kejadian yang diceritakan tersebut nyata. Namun demikian, bagi remaja sekarang, bahasa dialog di novel ini tak se-gaul sekarang. Masih lebih “bahasa indonesia”. Ya, iyalah bahasa gaul dulu dan sekarang beda.

Akhir cerita bisa saya tebak. Bagaimana tidak. Siapa lagi gadis tanpa lengan sepanjang cerita. Sehingga menghubungkan Rindang, Farida dengan Sabdono memang tidak sulit. Meskipun tak ada twist. Saya tetap menganggap cerita disini cukup baik. Pesan moral, bahwa pelaku kejahatan harus menghadapi konsekwensi perbuatannya meskipun sang korban, Rindang, telah mati, dapat saya tangkap. Kegeraman karena diawal cerita Sabdono tidak mau bertanggung jawab karena perbuatannya pada Rindang terbalas di akhir cerita.

Daftar Tokoh:

Nama Tokoh Keterangan
Farida Iksan Pengacara yang menuntut Sabdono
Rindang Ibu kandung Farida
Sabdono Lesmono Guru sekolah. Sering berbuat tak senonoh.
Iksan Ayah angkat Farida
Linda Ramelan Korban Sabdono
Sultan Teman kuliah Farida dan partner dalam biro hukum
Mahmud Calon suami Farida
Suster Ani Suster yang melayani kelahiran Farida
Anwar Kepala Sekolah tempat Sabdono menjadi guru di Surabaya
Ismail Paman Farida
Yanti, Nana, Dodi Anak Ismail
Winda Anak tertua Iksan
Faisal Adik Winda
Hans Dosen di tempat Farida kuliah
Yuniarti Istri Mahmud
Endang Puspita, Iin Sekaryani, Riko Teman kuliah Farida

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s