Resensi Novel Luruh Kuncup Sebelum Berbunga Karya Mira W


LuruhKuncupSebelumBerbungaJudul Buku: Luruh Kuncup Sebelum Berbunga

Penulis: Mira W

Penerbit : Alam Budaya

Tahun Terbit: 1988

Desain Sampul: Steve Kamajaya

Jumlah Halaman: 189

ISBN:

Kris menikahi Dewi tanpa restu dari orangtuan Kris. Tetapi kehadiran Ari mencairkan dendam orangtua Kris

Kris berbahagia. Setelah menikah selama delapan tahun, Dewi hamil dan melahirkan Ari. Mereka berusaha dengan segala cara menjaga Ari, terutama menjaga Ari agar jangan selalu bermain dengan gadis cilik buta anak tetangga bernama Pinta. Dewi takut Pinta membawa penyakit untuk anaknya karena Pinta dan saudara perempuannya yang sudah yatim piatu itu bekerja sebagai pemulung.

Dewi mulai menyemangati Kris agar mendatangi orangtuanya bersama dengan Ari. Dia berharap kelucuan Ari sanggup meluruhkan hati mereka. Tetapi Kris kecewa. Kunjungannya tak mencairkan hubungan mereka. Bahkan ayahnya tak berbicara sepatah pun pada Ari. Namun diam-diam ibu Ari mulai menyukai Ari. Dia sering datang ke sekolah Ari manakala Dewi belum datang untuk menjemputnya.

Kris yang mendapat cerita dari istrinya mengenai pertemuan ibunya dan Ari, mulai merasa gembira. Lama kelamaan, Ari mulai diajak ke rumah orangtuanya. Ari benar-benar mencairkan kekakuan ayah dan ibu Kris.

Suatu ketika Ari mulai mimisan dan muntah-muntah. Hasil dari pemeriksaan dokter menyatakan bahwa Ari menderita kanker otak. Dewi segera membawa Pinta untuk menjenguk Ari. Dewi berharap kehadiran Pinta mampu membuat Ari gembira. Ari sendiri merasa umurnya sudah tak panjang, pada Dewi. Ia mengatakan akan mendonorkan matanya untuk Pinta.

Novel kecil ini membuat pembaca berurai air mata. Bukan cinta Kris dan Dewi yang membuatnya demikian, tetapi perilaku Ari terhadap sahabatnya, Pinta dan kakek-neneknya. Bahkan pada halaman-halaman awal, saya sudah tersentuh dengan narasi tentang kehidupan Pinta. Apalagi pembukaan sudah didahului oleh foreshadowing (firasat) bahwa ada sesuatu di masa depan yang akan terjadi pada Ari.

Plot sederhana. Saya yakin Anda dapat membayangkan plot dalam benak dengan mudah. Plot utama terletak pada hubungan Kris-Dewi dengan orangtua Kris. Dua plot minor terdiri dari masalah Arie dan hubungan Arie-Pinta. Memang sangat sedikit yang bisa diceritakan pada novel berdurasi 189 halaman, tetapi Mira W memilih adegan dan kata yang tepat pada sasaran untuk menggambarkan keadaan tokoh. Hal ini bisa saya bandingkan dengan puisi. Puisi hanya terdiri dari beberapa baris. Tidak setebal novel, tetapi pujangga yang hebat dapat menyampaikan pesan-pesannya dalam beberapa baris kata saja. Dalam beberapa baris kata tersebut kita bisa menangis, tertawa, dan haru dalam waktu yang singkat.

Tensi haru di bagian akhir lebih dalam daripada bagian depan. Penutupnya juga sangat bagus. Saya sendiri masih terkenang mengenai perkataan Ari mengenai awan:

“Kalau Pinta kangen sama Ari. Bilang saja sama awan itu. Dia berjalan terus. Pasti lewat tempat Ari.”

Atau isi doa Pinta untuk Ari:

“Tiap malam Pinta minta bisa lihat lagi. Tapi malam ini Pinta minta yang lain. Kalau Tuhan cuma mau mengabulkan satu permintaan saja, tolong kabulkan permintaan Pinta! Jangan permintaan Ari! Ari selalu berdoa supaya Pinta bisa lihat lagi. Tapi Pinta sudah lama buta. Buta terus juga nggak apa-apa. Sama saja…”

Kalimat diatas memang remeh. Terkesan klise. Tetapi jika kata itu diucapkan oleh anak kecil di ujung hidupnya, maka rasa yang ditimbulkan pada pembaca jelas berbeda. Kalimat itu adalah kalimat pengorbanan. Kalimat cinta yang tulus.

Bagian akhir ini benar-benar memberikan “Bom” kepada pembaca. Mengenai bagian akhir ini, saya sempat ragu menempatkan novel ini sebagai young adult. Sebetulnya sih sangat baik bagi pembelajaran mengenai persahabatan untuk anak-anak. Tetapi mengingat ada beberapa bagian yang “bukan anak-anak” di sepanjang novel, saya akhirnya lebih menempatkan pada teenlit.

 Daftar Tokoh:

Nama Tokoh Keterangan
Kris Suami Dewi
Dewi Ibu Ari
Ari Anak dari Ari dan Dewi
Pinta Sahabat Ari. Buta karena infeksi mata
Uti Kakak Pinta
ayah-ibu Kris
Tato Kakak Dewi
Dokter Rahman Dokter yang mula-mula merawat Ari
Dokter Siswojo, Mantri Broto, Suster Tina, Suster Ning, Suster Katrin Para petugas rumah sakit yang merawat Ari di Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s