Cerita Horor itu yang Bagaimana, sih?


Penulis horor yang pertamakali saya kenal adalah Abdullah Harahap. Saya banyak membaca buku beliau diiringi film-film Nenek Suzanna. Abdullah Harahap dan Suzannah-lah yang membentuk “bayangan” apa itu horor. Mengherankan untuk ukuran saya yang masih bocah saat itu, saya sudah melihat seperti Malam Jumat Kliwon, Bayi Ajaib, Sundel Bolong atau Malam Satu Syuro.

Seiring dengan waktu, film-film amerika seperti zombie dan “teman-temannya” mulai membentuk imjinasi horor gaya baru. Film-film semacam Evil Dead, Dracula Lovers atau Children of the corn adalah beberapa contoh diantaranya. Sampai saat ini imajinasi horor saya masih terkunci di dua jenis horor tadi. Horor indonesia yang lebih ke urban legend dan horor barat yang lebih ke arah ke-iblis-iblis-an. Kedua horor inilah yang mempengaruhi saya dalam membaca novel-novel horor sampai sekarang. Dan hasilnya? Saya kurang puas.

Adegan dalam film Evil Dead. Sumber: Pinterest

Hantu kok tertawa? Memangnya jadi setan itu happy, ya? Ini adalah suatu pikiran yang muncul di benak saya. Pikiran ini membuat saya justru rileks ketika melihat film-film horor. Jadi tidak seram! Hantu kok pakai bedak tebal? Mungkin maksudnya untuk menimbulkan efek pucat, tetapi yang saya lihat justru tampak seperti memakai bedak.

Memang! Ini hanya masalah selera. Mungkin juga diluar saya ada pembaca horor yang merasa sudah puas. Bagi saya horor itu tidak sekedar “bikin takut”. Jika ada cerita tentang hantu penasaran, maka saya lebih tertarik bagaimana tragisnya masalah mereka serta bagaimana tokoh-tokoh di dalamnya mendeteksi masalah itu dan menyelesaikannya, bukan tentang cara bagaimana akhirnya sang hantu diusir sehingga tidak mengganggu lagi.

Sebagai veteran pembaca cerita-cerita horor, saya sudah agak kebal terhadap “keseraman” cerita (mungkin juga karena disebabkan cerita horor cuma itu-itu saja?) tetapi saya heran, saya tidak kebal terhadap beberapa game-game horor. Salah satunya adalah Silent Hill. Game horor ini begitu mencekam. Begitu mengitimidasi. Saya lantas berpikir-pikir, “Cerita yang bagaimana yang membuat kisah horor begitu memuaskan saya?” Saya mulai membanding-bandingkan game-game tadi dengan novel-novel horor untuk mencari tahu apa horor itu.

Tokoh paling mengerikan di game Silent Hill. Sumber: Pinterest

Horor itu adalah Sendirian

Banyak orang yang menjadi berani ketika bersama-sama orang lain. Bagaimana jika mereka cuma “alone-alone” saja. Apakah mereka tetap berani? Horor begini seru banget. Tokoh-tokoh dalam game-game horor semacam Silent Hill atau The Thing kebanyakan sendirian. Ini lebih mencekam. Tak ada yang berkata, “Nggak ada apa-apa, kok. Itu cuma kucing lagi senewen.” Kita tidak akan peka terhadap sekitar kita jika kita berada di keramaian. Tetapi kita bahkan dapat merasakan “ditemani” semut saat kita sendirian. Meng-isolasi tokoh dari kerumunan sehingga dia harus sendirian menghadapi sesuatu itu bikin horor.

Horor itu adalah Tidak Tahu

Bayangkan ketika Anda berjalan di jalan sepi dan panjang. Anda tidak tahu ada apa di depan Anda. Suasana gelap. Hanya terdengar suara jengkerik. Hanya Anda dan udara malam. Kita harus berjalan ke arah depan, tetapi kita tidak tahu apakah jalan di depan itu aman. Apakah jalan di depan itu tidak ada “apa-apa”. Maka suasana horor lebih tercipta. Merasa tidak tahu itu bikin frustasi saat kita seharusnya tahu demi keamanan kita. Cerita klise akan membuat pembaca bisa menebak akhir cerita. Horor yang beginian enggak seru banget.

Hantu Selalu Salah?

Kebanyakan film-film horor jaman baheula di Indonesia selalu diakhiri dengan perlawanan seorang tokoh agama dengan hantu. Dan bisa ditebak, hantunya kalah. Cerita seperti ini bagi saya kurang berasa. Selain karena terlalu biasa, cerita beginian membuat cerita justru “kurang bercerita”. Seperti yang saya tulis di paragrap ke-4, background cerita lebih membuat kisah horor lebih horor. Para pembuat game horor tahu ini, sehingga tidak ada game horor tanpa muatan cerita di dalamnya. Saya takut bukan karena harus berhadapan dengan hantunya, tetapi karena latar belakang cerita. Lagipula, menceritakan detil hantu itu lebih membosankan daripada merasakan cerita tragis sang hantu.

Perlahan-lahan Tersiksa

Anda mungkin sering mendengar ungkapan, “Kematian terlalu enak bagi dia. Hidup akan lebih membuatnya menderita.” Ungkapan ini juga berlaku bagi cerita horor. Ungkapkan misteri perlahan-lahan. Sedikit demi sedikit tambah rasa horor-nya. Banyak cerita horor yang saya baca diam di tempat. Artinya, ada suatu keadaan narasi yang tidak membuat plot berjalan, tetapi tetap di titik itu. Biasanya narasi ini berhubungan dengan keinginan penulis hanya untuk menakut-nakuti saja tampa membuat cerita berkembang ke bagian akhir. Setelah selesai menakut-nakuti, tiba-tiba cerita ditutup begitu saja. Dalam game-game, kengerian selalu ditambah perlahan-lahan. Karena justru disini letak game horor dan game action. Game semacam Silent Hill tidak sekedar memukul atau takut dengan penampilan dan kekuatan hantu tetapi juga menikmati cerita yang digelar.

Lemah itu Horor

Kita mungkin tidak takut saat maju ke medan pertempuran dengan senjata lengkap. Tetapi bagaimana perasaan Anda jika Anda tahu musuh begitu kuat sedangkan Anda lemah? Rasa horor juga timbul apabila kita menghadapi sesuatu yang lebih kuat. Tokoh terlalu sakti dan pintar dalam menghadapi sesuatu itu enggak seru. Dengan kata lain, dukun/paranormal bukan tokoh yang baik dalam menghadapi sumber horor. Tokoh yang tidak tahu “dunia lain”, tidak percaya kepada hantu dan teman-temannya, bahkan yang mempunyai kehidupan jauh dari dunia gaib lebih seru dijadikan tokoh.

Game dan film memang tidak bisa dibandingkan dengan novel. Tetapi bukankah justru disitu letak kehebatan penulis. Game dan film harus membayar mahal ahli kustom, ahli musik, special effect dan kru-krunya untuk membuat produk mereka tampil hebat, sedangkan penulis cuma bermodal kata-kata. Saya selalu mengagumi ketrampilan penulis seperti ini.

4 responses to “Cerita Horor itu yang Bagaimana, sih?

  1. fuyefuye @fuyefuye

    baru baca ini mas, bagus sekali

    Disukai oleh 1 orang

  2. Waaw
    Bisakah sampean memberi kritik pada tulisan2 saya yang bergenre horor?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s