Cerita Mini: Sebut Aku Pecundang


Aku baru saja selesai membaca cerita yang aku tulis. Tidak ada kesalahan ejaan. Tidak ada kesalahan tanda baca. Seluruhnya sudah sempurna. Hanya satu yang tidak, bagian akhir cerita. Andai saja tidak berakhir seperti ini, mungkin aku akan dengan senang hati menulisnya. Semuanya berawal dari permintaan temanku, Malik Hadi.

“Kamu mau menulis apa yang aku alami sampai aku seperti ini?”

Aku menggeleng. Bukannya tidak mau, tetapi lebih ke enggan. Aku tidak suka menulis cerita dengan akhir seperti yang dialami temanku. Tetapi temanku itu gigih. Dan dengan memandang kulitnya yang mulai melekat di tulang dan mata cekungnya, akhirnya aku menjawab Ya.

Malik Hadi menambahkan, “Biar seluruh dunia tahu bahwa ada pria bodoh seperti aku. Begitu bodohnya sampai tidak bisa melihat malaikat seperti Clarissa.” Ia batuk-batuk kecil. Tangannya meremas dada sambil mengeryitkan dahi. Aku buru-buru menghampiri ranjang dan menekan tombol pemanggil suster jaga di dekat bantal. Tak sampai semenit, dua orang suster datang.

***

Dua bulan bukan waktu yang lama untuk merubah hubungan persahabatan menjadi sepasang kekasih. Itulah yang terjadi pada Malik dan Clarissa. Aku sebetulnya heran akan cara pandang Clarissa terhadap Malik. Ini jujur. Meskipun tidak jelek-jelek amat, tapi Malik hanya berwajah rata-rata. Bukan murid pandai pula. Justru ini yang mendekatkan Malik pada Clarissa. Malik berkali-kali mendapatkan peringatan dari Kepala Sekolah. Sang Boss SMA kita ini akan mengeluarkan Malik dari sekolah jika nilainya sama dengan wajahnya. Cuma rata-rata. Bisa dimaklumi, sekolah kita adalah sekolah bertaraf internasional. Semua murid disini adalah saringan dari seluruh SMP di seluruh kota kita.

Malik ketakutan. Jika sampai ia dikeluarkan dari sekolah, hidupnya bakalan lebih susah. Ia masuk di sekolah ini karena beasiswa. Dikeluarkan berarti penghentian beasiswa. Jika demikian dia harus mulai bekerja atau ibunya yang mulai bekerja lebih keras, sementara ayahnya sudah meninggal sejak dia kelas satu SMP.

Entah angin darimana, tiba-tiba Clarissa menawarkan dirinya untuk membantunya belajar. Aku dan semua para pengagum Clarissa terkejut. Sudah banyak cowok di SMA ini berusaha menaklukkan Clarissa. Terlalu banyak yang jatuh. Kecewa. Ujung-ujungnya mereka memberikan stigma. Clarissa cewek sombong. Angkuh. Percuma mengejar-ngejar dia sampai mampus. Matanya cuma tertuju pada sekolah dan piano. Lama kelamaan adegan “percuma” ini berhenti. Laki-laki di SMA ini sudah capek.

Dari sekedar saling basa-basi, kedekatan mereka makin bertambah. Mula-mula cuma Clarissa yang berinisiatif ngomong. Lama kelamaan Malik ketularan. Dia juga mulai berani bercanda. Lantas keduanya saling bertatapan. Aku begitu cemburu. Apalagi kadang-kadang pandangan Clarissa tertumbuk pada mataku. Kalau sudah begitu aku cuma berusaha tersenyum kecil.

Jantungku berhenti berdetak ketika Malik mengatakan padaku kalau ia baru saja mengajak Clarissa jadian.

“Apa jawab Clarissa?”

“Aku pikir kamu lebih cerdas dari aku, Han. Kalau aku ngomong sambil senyam senyum gini itu artinya dia terima aku.”

Aku melongo sejenak, kemudian buru-buru mengucapkan selamat pada Malik. Hari itu pupus sudah harapanku memacari Clarissa. Tapi aku senang karena Clarissa membuat Malik menjadi juara kelas meski masih tetapi di bawahku. Sebenarnya Malik bisa saja mengalahkan peringkatku di kelas. Hanya saja, kecanduannya akan gitar membuatnya lupa waktu. Dia tidak mungkin punya waktu belajar kalau memainkan gitar hampir delapan jam sehari.

Malik ingin sekali bisa membelikan sesuatu buat Clarissa. Terutama coklat, jenis dark chocolate. Karena ia tak pernah diberi uang saku oleh ibunya, ia mulai mencari pekerjaan. Kali ini bakat gitarnya menjadi dewa penolong. Sebuah pub menawarinya agar ia dan band-nya menghibur disana.

Temanku satu ini benar-benar bunglon. Ia bisa memainkan gitar model apa saja. Mulai dari rock, bossanova, country ataupun pop. Penonton disana sangat menyukainya. Setiap menandatangani kontrak perpanjangan, nilai kontraknya selalu naik.

Hubungan mereka makin oke-oke saja. Tiap malam minggu mereka berdua selalu pergi bersama. Sebelum kedatangan Clarissa, aku selalu mengajak Malik bermain play station sepak bola di hari Sabtu malam. Aku merasa semakin ditinggalkan.

Suatu saat, Clarissa datang ke rumahku sambil menangis. Ia bercerita bahwa hubungan mereka sudah berakhir. Malik tidak hanya menggunakan uangnya untuk menyenangkan Clarissa. Ia mulai menjarah gadis-gadis pemujanya, obat-obatan terlarang dan minuman keras. Malam itu, Clarissa menangkap basah Malik sedang bermesraan dengan seorang gadis di lantai ruang tamu. Bukannya merasa bersalah, Malik malah mengumpat dan mengusir Clarissa.

Aku mulai tidak suka pada Malik. Sejak saat itu hubungan antara aku-Clarissa merenggang dari Malik. Akhirnya aku dan mereka tak pernah bersama-sama lagi, apalagi kami sibuk dengan ujian akhir dan les bimbel untuk masuk ke perguruan tinggi negeri.

***

Aku tidak ikut masuk. Aku lebih suka membiarkan Malik bertemu Clarissa tanpa gangguan dari rasa cemburuku. Dari tempatku berdiri, aku melihat Clarissa dan Malik berpelukan. Mereka tidak tampak seperti sepasang kekasih. Malik bak anak SD, sedangkan Clarissa lebih mirip seorang ibu. Gadis yang kukagumi itu tampak tegar. Penuh kasih. Aku tidak melihat air mata menggenangi matanya yang teduh. Malik meletakkan kepala pada pangkuan Clarissa. Adegan yang lebih membuatku cemburu.

Aku duduk dekat jendela. Masih diluar kamar. Entah berapa jam aku memejamkan mata, tiba-tiba sebuah tangan menjamahku.

“Malik tidur.” Clarissa duduk disampingku. Aku menegakkan badan. Sudah lima tahun aku meninggalkan masa SMA, tetapi jantung ini tetap tak berubah. Ia selalu berdetak lebih cepat ketika Clarissa disampingku.

“Terima kasih sudah mau datang.” Aku berbasa-basi. Jujur. Aku lebih suka jika Clarissa menolak untuk datang.

“Kejadian Itu sudah lama berlalu. Lagipula dia mungkin akan pergi tiba-tiba. Jika aku menundanya, mungkin aku akan menyesal. AIDS masih belum ada obatnya, kan?”

Aku menikmati hembusan aroma parfumnya. Lembut. Membuat hidungku terlena. Clarissa lebih kurus. Rambutnya lebih pendek dengan lengkungan di bagian samping. Wajahnya tirus. Bibirnya tipis. Aku pernah membayangkan menyentuhnya dengan bibirku. Badannya tiba-tiba bergerak menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Sekarang kami duduk sejajar. Posisi yang membuatku terbius untuk mengatakan sesuatu yang bodoh.

“Aku dulu suka sama kamu.”

Clarissa bergeming. Ia tidak terkejut. Wajahnya datar. Matanya memandang lurus ke arah taman rumah sakit.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

“Aku—“ tiba-tiba aku menyadari, aku tidak punya alasan untuk menunda mengatakan perasaanku. Kenapa juga tidak dari dulu aku mengungkapkan.

“Aku tidak enak sama Malik.”

“Tidak enak atau takut?”

Ya, Clarissa benar. Aku takut. Takut kalau dia menolakku.

“Kamu tahu alasanku tiba-tiba mendekati persahabatan kalian?”

“Kamu ingin membantu Malik?”

“Tidak! Tapi aku menyukaimu.”

Aku lemas. Jadi selama ini Clarissa juga menyukaiku? Aku melonjak kegirangan. Ini artinya sekarang aku ada kemungkinan untuk—

“Berminggu-minggu aku menunggu kamu untuk memintaku jadian sama kamu. Tapi kamu tidak pernah melakukannya. Aku sudah berusaha memberi kamu tanda agar kamu tahu aku juga suka sama kamu. Tapi kamu tidak pernah mengerti.” Clarissa menarik nafas panjang.

Aku masih ingat kejadian bertahun-tahun yang lalu. Clarissa memang sering memberikanku senyum terindahnya. Dia sering memintaku mengantar ke les piano, ke toko buku bahkan pernah kita merayakan ulang tahunnya cuma berdua denganku. Bodoh! Kenapa aku baru menyadarinya sekarang. Sebentar. Aku meralat tulisanku tadi. Aku tidak bodoh tetapi pengecut. Aku tidak punya nyali. Setiap pulang ke rumah setelah selesai berduaan dengannya, aku selalu mempunyai keinginan “Ah, besok aku akan bilang cinta ke dia.” Sayangnya itu tidak pernah terjadi. Mulutku selalu terkunci. Dia terlalu indah untuk bersamaku. Aku terlalu kecil untuk keanggunannya.

“Clarissa—“ Aku menelan ludah. “Aku tahu saat ini tidak tepat. Tapi aku tidak ingin seperti dulu. Apa kamu masih mau jadi kekasihku?”

Clarissa memejamkan mata. Rahangnya terkatup rapat-rapat. Aku tahu, dia dalam keadaan sedang bergelora. Tapi aku tidak tahu apa yang membuatnya bergelora. Api? Atau air?

Cukup lama aku menunggunya membuka mata. Ada guratan-guratan samar merah pada matanya. Ia mengusap-usap matanya dengan punggung tangan.

“Kita pulang sekarang Clarissa?”

Aku terkejut dengan suara bas dari samping Clarissa. Saat itu aku tertunduk. Aku melihatnya memakai sepatu bermerek mahal. Ketika mendongak aku melihat pria memakai hem putih dan dasi hitam bergaris coklat tersenyum padaku.

Clarissa menggapai-gapai tas tangan disampingnya. Ia batuk kecil. Sontak aku berdiri.

“Kenalkan. Ini tunanganku, Arya Pangkahila.” Pria itu tersenyum menjabat tanganku, sedangkan tangan yang lain merangkul punggung Clarissa. Ia seperti berkata, “Jangan macam-macam. Clarissa ini milikku.”

Wanita itu lantas menoleh dengan mesra pada pria itu. “Bang. Kenalkan. Ini Handoko. Temanku SMA.”

Keduanya berlalu dengan bergandengan tangan. Aku cuma melongo. Ketika mereka sudah hilang dari pandanganku, aku duduk kembali. Tenagaku seakan sirna. Aku mencari-cari rokok di saku dan menyalakannya. Segudang amarah dan perasaan terbanting menghempas-hempasku.

Apakah Albert Einstein sudah berhasil membuat mesin waktu? Jika ya, aku akan membelinya. Berapapun harganya. Aku akan jual rumahku, tanahku bahkan kalau perlu perusahaanku. Aku ingin kembali di saat itu, ketika Clarissa mungkin menjadi milikku.

4 responses to “Cerita Mini: Sebut Aku Pecundang

  1. Duh coba aja dulu berani bilang ya

    Suka

  2. gelo tibo mburi ki kudune judule..:p

    apik oq mas😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s