Tips Membagi Bab dalam Novel Fiksi


Ada dua hal yang membingungkan saya saat pertama kali menulis fiksi. Pertama, tentang pergantian paragraf. Kedua, tentang membagi bab. Saya membolak-balik novel sampai berkali-kali. Ya, Anda tidak sendirian. Kedua hal ini memang tak ada rumusannya. Ini seni.

Berikut ini sedikit tips membagi bab-bab dalam novel. Dan tentu saja bukan suatu keharusan. Setidak-tidaknya tips berikut ini memberi sedikit pencerahan. Siapa tahu timbul pengembangan dari tips berikut dari Anda.

 

Pergantian Adegan
Adegan adalah urutan aksi dalam suatu waktu. Dalam film/sinetron, Anda bisa merasakan adanya perbedaan fokus cerita setiap pergantian adegan. Misalkan, A ketemu di B, kemudian cerita berganti ketika pada esoknya, si A ketemu mantannya, si C. Cerita A dan B dapat dikatakan berbeda fokus dengan cerita A ketemu C. Perbedaan inilah yang disebut adegan.

Dalam novel, kita bisa membagi bab atas dasar perbedaan adegan seperti ini.Misal, bab pertama bercerita tentang A ketemu cewek B. A yang memang sudah patah hati sejak lama, tiba-tiba saja merasakan kehadiran cinta kembali. Kemudian pada bab dua, eh……tiba-tiba A ketemu mantannya, si C yang sudah menjadi janda.

Pergantian Sudut Pandang dan Narator
Akhir-akhir ini banyak penulis yang bermain-main dengan point of view. Novel bisa saja mempunyai lebih dari satu point of view. Bahkan berbeda narator (pembawa cerita). Nah, agar pembaca tidak bingung, Anda dapat membagi-baginya masing-masing point of view dan/atau naratornya ke dalam bab-bab yang berbeda.

Saatnya Membuat Penasaran Pembaca
Apakah Anda pernah melihat sinetron dalam keadaan seperti ini: Saat mau iklan, cerita berhenti pada keadaan yang membuat penonton penasaran. Apa maksudnya? Ya sudah jelas agar penonton mau menunggu iklan selesai untuk menonton adegan selanjutnya (karena penasaran). Orang bule menyebutnya sebagai cliffhanger. Penulis fiksi dapat menirunya pada novel. Tempatkan cliffhanger pada akhir bab agar pembaca mau membaca bab selanjutnya.

Perbedaan Waktu
Saya yakin Anda pasti pernah membaca cerita flashback. Cerita mundur seperti ini biasanya bermain-main dengan waktu. Penulis sering mengganti bab agar pembaca tidak bingung dalam membedakan waktu-waktu kejadian.

Pergantian Aliran Cerita
Cerita dalam novel tidak selalu hanya mempunyai satu cerita. Plot utama biasanya ditemani oleh plot minor. Jika masing-masing storyline ini agak panjang, atau butuh kecermatan dalam membacanya (misal, novel detektif), maka ada baiknya membagi-bagi storyline dalam bab-bab yang berbeda-beda.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s