Cerita Saya Jelek, Lantas Saya Harus Bagaimana?


Tidak percaya-diri adalah musuh utama dari keberhasilan. Ungkapan seperti judul artikel saya in “Cerita Saya Jelek, Lantas Saya Harus Bagaimana Supaya Baik?” sering disampaikan oleh penulis mula. Ujung dari sikap ini adalah “tidak menulis”, “tidak mau mencoba mengirimkan ke penerbit/media massa”, dan akhirnya karir kepenulisan mereka berhenti.

Saya ingin mengatakan kepada Anda yang bersikap seperti ini. Saya pun mengalami masa-masa seperti itu. Dulu saya membutuhkan waktu berhari-hari untuk menulis sebuah cerpen berjumlah 1500-an kata. Sekarang? Saya sering menyelesaikan tidak kurang dari sejam. Seperti yang Anda lihat di blog saya ini, saya mengumumkan bahwa saya menerima jasa ghost writer. Saya sering harus menyelesaikan lima cerpen per hari. Dan saya bukan pengangguran. Saya juga tetap bekerja di kantor. Keterampilan ini tidak tumbuh dalam sehari. Saya sudah menulis bertahun-tahun.

Saya mempunyai sedikit tips agar dapat bertahan dalam dunia tulis-menulis. Hal-hal berikut selalu saya pegang saat “jiwa penulis saya mengalami badai”

1. Selalu Selesaikan yang Anda Tulis

Menusia dapat dibentuk dari kebiasaan. Kebiasaan dibentuk dari sesuatu yang dilakukan berulang-ulang. Jika Anda mengulang kebiasaan baik, maka suatu ketika nanti, kebiasaan baik tersebut akan Anda jalankan secara otomatis, tanpa perlu dipikir lagi. Anda tidak percaya? Baiklah, sering-seringlah mengumpat, saya yakin, suatu ketika nanti Anda akan otomatis mengumpat tanpa Anda sadari.

Jika saat ini Anda mempunyai ide, maka tulislah. Tidak perduli seberapa sedikit tulisan Anda, selesaikan. Jika Anda tidak dapat menulis 1000 kata, tulislah 100 kata saja. Pokoknya selesai. Di lain waktu, Anda dapat memperpanjang cerita Anda tadi.

2. Banggalah Saat Mempunyai Tulisan

Jangan sampai Anda mengatakan diri Anda penulis kalau Anda tidak mempumyai tulisan sama sekali. Malulah jika sampai saat ini Anda hanya mempunyai sertifikat menulis. Buat apa? Sertifikat hanya pernyataan Anda mengikuti kegiatan menulis, bukan bukti Anda menulis. Banggalah kita menyebut diri kita penulis dan MEMPUNYAI TULISAN.

3. Tingkatkan Kemampuan Menulis

Semakin Anda banyak menulis, semakin meningkat keterampilan Anda. Sekarang perbaiki perlahan-lahan kemampuan Anda. Ambil salah satu tulisan Anda. Mulailah memperbaiki tulisan Anda. Misal, mulailah dengan berlatih menulis pembukaan yang baik. Bagaimana saya tahu itu pembukaan yang baik? Pertama-tama tanyalah kepada diri Anda sendiri. Jujur, apakah Anda masih ingin membaca tulisan selanjutnya setelah membaca kalimat-kalimat pertama tulisan tersebut. Jika Anda pernah mengikuti kursus menulis, mulaikah terapkan teori menulis disini. Kedua, tanyalah kepada orang lain. Apakah mereka puas?

4. Belajarlah Menjadi Seorang Editor

Anda bermaksud menjual tulisan Anda? Berarti tulisan Anda untuk orang lain. Apabila demikian, maka aturan-aturan penulisan harus sesuai dengan standar bersama, antara orang tersebut dan Anda. Jika tulisan Anda ditujukan pada orang indonesia, maka haruslah tulisan Anda mengikuti kaidah Bahasa Indonesia. Belajarlah menjadi editor. Pelajari EYD, cermati format tulisan agar enak dibaca, perbanyak perbendaharaan kosakata Anda, baik Bahasa Indonesia, bahasa slank, bahasa gaul, bahasa daerah. Jangan lupa, supaya membumi, kita juga mempelajari ungkapan-ungkapan khas remaja, waria, dewasa, dan lain sebagainya. Dan ini juga perlu: bahasa asing. Hal-hal begini dibutuhkan editor untuk membentuk dialog yang alamiah, menghindari salah persepsi dan kebingungan pembaca.

5. Rajin Mengarsipkan Karya Anda

Jangan biarkan karya-karya Anda tercerai-berai di folder-folder komputer. Kumpulkan dalam salah satu tempat. Ada keuntungan dari pekerjaan ini. Pertama-tama Anda dapat membuat Anda bangga saat melihat kumpulan karya tadi. Kedua, Anda dapat mencari karya-karya Anda dengan mudah saat Anda menggunakan karya-karya tadi sebagai porto folio untuk penerbit, atau media massa. Nah, ini adalah saat bagi Anda dengan bangga mengatakan “Saya Penulis. Lihat nih karya saya.” Kebanggaan membentuk percaya-diri. Dan kepercayaan diri membuat Anda bertahan untuk terus menulis.

6. Dan, Ini yang Terakhir

Teruslah membaca karya orang lain, melihat film dan membaca puisi. Syukur-syukur Anda mau mencoba membuat resensi karya orang lain. Dengan demikian Anda terlatih untuk melihat kelemahan dan kelebihan karya orang lain. Jika Anda tahu kelemahannnya, buatlah menjadi kekuataan Anda. Jika Anda tahu kelebihannya, berusahalah agar diatasnya.

 

Iklan

6 responses to “Cerita Saya Jelek, Lantas Saya Harus Bagaimana?

  1. Masih suka gak konsisten dengan satu tulisan Pak. Struggle nian kegiatan yang satu ini he he
    Salam kenal dari blogger pemula 😀

    Suka

  2. matur tengkyu buat tulisannya, saya jadi pengen nulis lagi 😀

    Suka

    • Hehehhe… Hamba salah satu pengagum dirimu, Kak Ie. Cara Kak Ie membuat sebuah kalimat ciamik banget

      Disukai oleh 1 orang

      • :p

        beberapa waktu lalu diajak seorang penulis ‘senior’ untuk bikin ‘buku’ yang tak wajar… tapi begitu ‘jadi tulisan komplit’ dan masuk ke penerbit… ternyata penerbitnya bilang ‘jenis ini susah laku’… ini lagi dicoba ke penerbit lain… ga tahu nih lolos atau nggak…

        *hitung2 uji nyali pamer tulisan :p

        Disukai oleh 1 orang

      • Nah… ini dia baru mental baja. Siiip deh… entar kalau ada bedah bukunya, jangan lupa hamba diberitahu, ya. Asal jangan di luar negeri aja

        Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s