Mengenal Teknik Montase untuk Membuat Cerita Fiksi


Saya memiliki teman, seorang chef.  saya kadangkala sering memperhatikan bagaimana dia memasak. Dia pernah mengatakan pada saya, “Jangan dikira bahwa masakan yang enak selalu terdiri dari bumbu bermacam-macam atau yang belum kamu kenal. Memasak itu lebih sering bagaimana memberikan komposisi bumbu dan cara menyajikan.”

Saya selalu ingat pendapat ini saat membuat cerita fiksi. Bagi saya, cerita fiksi bekerja dengan cara yang sama. Cerita fiksi tidak sekedar membuat orang tahu suatu cerita. Cerita fiksi haruslah membuat orang “mengalami sesuatu” seakan-akan dia melakukan. Padahal sebenarnya dia hanya membaca/mendengarkan saja.

Pada dunia film ada sebuah teknik yang disebut montase (inggris: montage). Teknik ini dilakukan dengan memotong-motong dan menyambung-nyambungkan film kembali dengan urutan tertentu untuk mendapatkan efek tertentu. Tetapi istilah montage sendiri berasal dari bahasa perancis yang berarti merakit.

Teknik montase adalah bagian dari teknik narasi arus kesadaran. Saya telah menulis artikelnya pada blog ini dengan judul Mengenal Teknik Arus Kesadaran dalam Novel.

Ada beberapa teknik di dalam montase. Teknik yang sering digunakan pada fiksi adalah:

Multiple View. Memaparkan satu kejadian pada berbagai sudut pengambilan gambar

Slow-Ups. Memperlambat adegan.

Fade-Outs. Berangsur-angsur menghilang

Cutting. Menghentikan tiba-tiba suatu kejadian dan berpindah ke kejadian lain

Close-ups. Menampilkan detil dari suatu hal. Dalam film, bisa dilakukan dengan menyorot jarak dekat sesuatu, misal, wajah seseorang, bangunan, atau keunikan seorang tokoh.

Flash-black. Memaparkan suatu kejadian yang terjadi sebelum saat ini (past time diceritakan saat present time).

Agar dapat lebih memahami, Anda dapat membaca sedikit cerita dibawah ini:

Alisah berjalan perlahan menuju jendela. Burung-burung camar tampak beterbangan di permukaan laut. Bibirnya tersenyum, ingatan tentang burung membawanya kembali ketika dia masih seorang bocah dua belas tahun. Di usia itu ia sering memotret burung-burung di sekitar villa-nya. Di tangannya cuma ada sebuah kamera saku berharga murah, tetapi ia sangat menyukainya. Ayahnya pernah mengatakan, bahwa dia harus menyayangi burung-burung. “Jangan bunuh mereka. Kita masih punya banyak jenis makanan, mengapa harus membunuh mereka.” Alisah sedih. Senyum papa-nya sudah hilang. Besok adalah hari pemakamannya. Alisah masih bersyukur, kini, disampingnya telah ada Jatmiko. Calon suaminya itu sungguh anugerah terbesar. Alisah tiba-tiba tertawa. Jatmiko melamarnya dengan berpakaian apa adanya. Tidak ada bunga, sebagai gantinya, ia menyewa sepuluh becak. Hatinya kembali mendung. Ia ingin ayahnya ada disampingnya kini. Mendung diluar sana sungguh menyakitkan. Baru kali ini ia tak menyukai hujan.

“Hai.” Entah mulai kapan Jatmiko sudah ada disampingnya.

Alisah berbalik. “Ngagetin, aja.” Suaranya merajuk.

Jatmiko memeluknya. Pria itu tahu apa yang ada dalam pikiran Alisah. Tunagannya itu memang begitu mengasihi ayahnya. Bagaimana tidak, ibunya sudah meninggal sejak Alisa berumur tiga tahun.

Cerita diatas dibuka dengan kejadian saat ini (present time). Cerita masuk ke flashback ketika Alisah ingat bahwa ia suka memotret burung ketika dia masih kecil. Cerita diteruskan dengan close-up sewaktu Alisa mengingat pesan ayahnya (past time). Multiple view terjadi saat Alisah menyoroti ayahnya, baik saat ayahnya memberikan petuah dan saat ayahnya hendak dimakamkan. Alisah tiba-tiba teringat Jatmiko. Namun tak lama, suasana hati Alisah kembali fade out. Jatmiko sudah ada disampingnya tanpa disadari oleh Alisah. Dialog Alisah dengan dirinya sendiri mengalami cutting. Adegan berganti dengan perlambatan, slow-up, karena adanya narasi perasaan Jatmiko dan dialognya dengan Alisah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s