Resensi Novel Gerhana Kembar Karya Clara NG


GerhanaKembarJudul Buku: Gerhana Kembar

Penulis: Clara NG

Jumlah Halaman: 358

Tahun Terbit: 2015, cetakan ketiga

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-602-03-1878-5

 

Fola baru menyadari bahwa dia memilik cinta untuk Henrietta. Hanya saja keduanya adalah sama-sama perempuan

Fola cuma guru taman kanak-kanak biasa, berjumpa dengan Henrietta. Hanya sebuah pertemuan tanpa kesan. Kemudian Fola menyadari bahwa ketertarikannya pada Henrietta tidak biasa. Ini ketertarikan seorang kekasih

Fola semakin bingung dengan masalahnya saat ibunya mengenalkannya pada seorang laki-laki bernama Erwin. Fola tahu maksud ibunya. Tapi dia sama sekali tidak menyukai pria ini. Sakit kanker ibu-nyalah, yang mau tak mau membuatnya menerima Erwin agar ibunya bahagia sebelum meninggal.

Henrietta tidak memaksa Fola untuk hidup bersamanya. Dia tahu, ukuran masyarakat di sekitarnya tak akan menerima cinta jenis ini. Dia cuma menunggu, sampai suatu saat mereka dapat bersama.

Sesudah Fola melahirkan Eliza, dia berkeinginan untuk hidup bersama dengan Henrietta di Paris. Tetapi, Henrietta tidak setuju. Keadaan ini berulangkali terjadi, sampai Lendy, anak Eliza tumbuh besar.

Lendy tanpa sengaja menemukan sebuah naskah cerita di lemari milik neneknya. Timbul rasa penasaran pada dirinya, siapakah penulis cerita tersebut. Dan rasa penasaran ini sedemikian membengkak ketika dia tahu bahwa cerita cinta dalam naskah itu bukan cerita biasa. Cerita dengan nama inisial FDS tersebut adalah cerita cinta sesama jenis.

Saya masih belum menerima sinyal-sinyal “suka” ketika membaca prolog. Andai Clara NG tidak membocorkan jenis cerita di awal buku (saya jenis pembaca petualang, suka membaca buku yang tidak biasa), mungkin saya mengurungkan membacanya sampai habis (tetapi ini menyalahi hukum peresensi, BACA TUNTAS apapun jenis bukunya, he..he..he). Adegan pertama perkenalan Fola dan Henrietta tidaklah istimewa. Standar. Tetapi tidak ketika di bab satu. Gaya penulisan Clara NG, entah pakai bumbu apa, membuat saya langsung bangkit. Kanker. Mungkin kata “keramat” di berbagai novel ini yang membuat orang untuk menurunkan standar penilaian mereka untuk sekedar turut merasa prihatin.

Banyak novel terkesan membuat metafora secara berlebihan. Bahkan salah tempat. Clara NG tidaklah demikian. Dia membuat metafora itu sealamiah kita berbicara. Saya bahkan tidak menyadari bahwa itu metafora, karena bahasanya membuat saya memikirkan sesuatu. Saya mencuplik bagian dari contoh bahasa Clara NG yang begitu indah.

Fola, Fola, Fola. Selalu kuucapkan nama itu di hatiku dan kubisikkan pada angin musin dingin yang membekukan tulang agar mungkin angin itu bisa berubah menjadi angin tropis dan mampir mengetuk jendela kaca rumahmu….

Agar cahaya bintang dapat menyinari pipi susumu pada malam hari dan menyampaikan rinduku pada mimpimu….

(Halaman 286, 287)

Gambaran seksual digambarkan secara sopan. Tidak terkesan porno. Penulis menggunakan analogi. Bandingkan dengan ke-vulgar-an Fifty Shades of grey atau Bilangan Fu karya Ayu Utami. Kesan erotis lebih kentara dari kesan sastra. Mungkin juga ini terjadi karena saya tidak dapat menangkap simbol/image dalam karya tersebut(?) atau Mbak Ayu Utami dan E L James sendiri yang tahu?

Ada dua buku lainnya tentang cerita sesama jenis yang sudah saya baca, Ashmora Paria; Herlinatiens dan The Sweet Sins; Rangga Wirianto. Tetapi di buku Clara NG ini, saya merasakan aroma yang lain. Pertama-tama, pertentangan dunia homoseksual tidak terlalu kental. Sepertinya sudah sejak semula penulis mendukung dunia ini sehingga memihak tokoh utama. Saya pribadi lebih menyukai jika penulis berdiri di tengah dan biarkan tokoh-tokohnya berperang sendiri.

Namun demikian tidak mengurangi saya untuk mengacungkan jempol kepada penulis. Gambaran mental dan keadaan kejiwaan tokohnya yang sangat menderita karena cinta benar-benar tertangkap. Fola tidak memberontak namun juga tak mau menyerah. Henrietta tahu problema Fola jika memilih dirinya, namun juga bukan berarti dia ikhlas melepas Fola. Dan gambaran ini juga sama dengan roh novel secara keseluruhan. Saya tidak bisa mengatakan novel ini mendukung lesbian seratus persen karena ada adegan Lendy dan Philip yang begitu mesra dengan “heteroseksual” mereka. Namun juga tak dapat dikatakan anti homoseksual karena jelas-jelas tergambar dari dialog tokohnya

Ketika Lendy menengadah, Philip sedang menatapnya. “Bagaimana jika dia menjadi homoseksual?” gumamnya pelan.

“Kita akan terbang ke Kanada atau Belgia, mencatatkan pernikahan anak kita disana…..

(Halaman 346)

Saya rasa novel ini mencoba membuat jembatan pengertian antara pro dan kontra mengenai dunia gay dan lesbian. Di satu sisi, masyarakat masih belum menerima keadaan mereka, tetapi di sisi lain, kita juga tak bisa melarang cinta menghinggapi kita. Jika kita jatuh cinta terhadap seseorang dan tak bisa bersamanya, bukankah itu memang perih. Tetapi apakah cinta selalu seiring dengan seksualitas? Apakah cinta selalu diakhiri dengan sebuah pernikahan? Sebagai manusia, adalah lumrah jika kita lebih menghayati sesuatu dengan panca indera kita. Kita membutuhkan raga untuk mencurahkan cinta. Bukankah untuk itu panca indera diciptakan?

 

Daftar Tokoh

Nama Tokoh Keterangan
Fola Tokoh utama.
Henrietta Kekasih Fola
Lendy Anak Eliza, cucu Fola
Eliza Anak Fola
Erwin Suami Fola
Lily Ibu Erwin, mertua Fola
Prity Teman sesama editor Lendy
Tamara Teman sesama editor Lendy
Philip Kekasih Lendy

 

 

 

2 responses to “Resensi Novel Gerhana Kembar Karya Clara NG

  1. ceritanya emang keren ini😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s