Beberapa Pembukaan Cerita yang Gagal


BayiBaca

Sumber: Tumblr.com

  1. Format Tulis Berantakan
    Saya pernah iseng mempunyai keinginan untuk meresensi sebuah buku dari self-publishing dan langsung menyerah. Banyak diantara buku-buku tersebut dibuat dengan tidak memperhatikan kaidah bahasa indonesia samasekali. Saya sampai pusing. Saya tidak mengatakan bahwa semua self-publishing seperti itu, tetapi kelonggaran di dalam penerbitan jenis ini membuat penulis (terutama yang mula) hanya ingin melihat karyanya terbit sehingga malas mempelajari bahasa indonesia lebih dalam.

    Penyajian dialog juga sering kurang enak dinikmati. Siapa yang mengatakan? Atau dialog terlalu intens. Perkataan terlalu panjang dalam sekali berbicara serta terlalu banyak huruf miring.

    Pembukaan adalah saat pembaca belum tertarik dengan buku kita. Ini adalah saat penulis merayu pembaca agar terus membaca. Beri mereka morfin perlahan-lahan, sampai mereka ketagihan. Format tulis adalah salah satu morfin itu. Jika mereka sudah pusing dengan format tulisan, mereka pasti segera meninggalkan tulisan itu (Bagaimana Mas/Mbak Editor? Benarkah seperti itu?)

  1. Terlalu Banyak Klise
    Adegan bangun tidur, terlambat kerja atau tabrakan antar tokoh terlalu membosankan. Memangnya tidak ada peristiwa lain? Unik membuat orang penasaran. Tentu saja keunikan yang masih dapat dimengerti pembaca tentunya.
  1. Tidak Ada Masalah
    Penulis pemula biasanya selalu menulis yang manis-manis. Mereka kurang tega membuat tokoh bermasalah. Jangan! Adem ayem bukan pembukaan yang baik. Cobalah menampakkan sedikit konflik dan tunjukkan reaksi tokoh tersebut. Pembukaan Gadis Kretek oleh Ratih Kumala yang menunjukkan seorang ayah sekarat dan menyebutkan sebuah nama sangat bagus. Saya sendiri penasaran, siapa, sih, Jeng Yah itu? Begitu pula Montase buatan Windry Ramadhina. Cerita tentang seorang pemuda yang ingin bertemu dengan seseorang berbekal surat di tangannya sungguh membuat penasaran.
  1. Dialog yang Kaku
    Dialog adalah salah satu kekuatan fiksi. Dialog yang cerdas, sesuai dengan lingkungan tokoh, menguak kepribadian tokoh, dan merupakan alat “showing” paling bagus dalam membeberkan masalah. Sayangnya, ada beberapa penulis yang tidak memanfaatkan dengan baik.

    Sadarkah Anda bahwa sebenarnya seluruh dialog di cerita-cerita fiksi itu terlalu imitasi. Tidak sesuai dengan cara berdialog orang pada umumnya. Tetapi mengapa kita tidak pernah menyadarinya? Kita menganggapnya alamiah saja. Itu disebabkan secara tidak sadar kita menerima aturan-aturan umum dialog. Kita menerimanya karena kita seringkali membacanya seperti itu. Tetapi tentu saja masih ada yang terlalu imitasi sehingga kita merasa ada yang aneh pada dialog tersebut. Tokoh kuat tiba-tiba saja berdialog lebay. Tokoh cengeng tiba-tiba menjadi orator ulung. Atau anak muda (usia SMP/SMA) berbicara terlalu dewasa, atau tidak memakai bahasa remaja pada umumnya. Memang. Bisa saja tokoh kuat menjadi lebay, tetapi penulis harus memberikan logikanya sampai dia berada di keadaan yang berbalik dari biasanya. Saya suka dengan cara Mira W menulis dialog. Meskpun kejadian di novelnya terkadang klise, tetapi dialog Mira W membuat saya menganulir kebosanan saya.

  1. Terlalu Banyak “Telling”, kurang “Showing”
    Saya tidak mengharamkan telling pada sebuah cerita, meskipun diluar sana banyak penulis mengatakan show, don’t tell, (namun kadar telling cerita saya tetap rendah) tetapi alangkah lebih baik jika tidak menggunakan telling di awal cerita. Telling kurang menggugah emosi. Telling kurang menarik pembaca.
  1. Tokoh Terlalu Banyak Bicara/Melakukan Kegiatan dalam Sekali Waktu
    Menceritakan tokoh, baik lewat dialog atau kegiatan, terlalu panjang dalam sekali cerita sangatlah membosankan jika diletakkan di awal-awal cerita. Lihatlah saat melihat seorang gadis yang kita anggap cantik. Kita tidak saja mengagumi wajahnya, tetapi juga baju, cara bicara, warna kulit atau make-up-nya. Dengan hanya menyorot di satu sisi saja terlalu banyak, kita kehilangan momen saat mengenalkan sedikit setting dan membuat pembaca merasakan setting tersebut. Pembaca cepat kehilangan rasa karena belum seberapa tertarik pada cerita di awal-awal baca. Pembaca merasa diceramahi.
  1. Terlalu Banyak Tokoh di Awal Cerita
    Saya pusing membaca Sekuntum Nozomi karya Marga T. Tokoh-tokohnya banyak (tetapi anehnya saya juga menyukai Sekuntum Nozomi. Bingung, kan) Bagi pembaca setia dan hafal seluruh karakter novel Marga T memang tidak masalah, tetapi bagi yang hanya sekali-dua kali membaca Marga T, dijamin pasti kerepotan menghafal tokoh-tokohnya. Jangan menampilkan banyak tokoh di awal cerita. Keluarkan tokoh dari kotaknya satu persatu. Buat pembaca merasakan tokohnya tanpa tergesa-gesa. Tokoh itu seperti santet. Buatlah tokoh A disukai pembaca, maka ketika tokoh A disiksa, pembaca pastilah turut tersiksa.

 

6 responses to “Beberapa Pembukaan Cerita yang Gagal

  1. Terima kasih mas octa..
    Semua postingannya bisa dijadikan pembelajaran buat saya..
    Keep writing mas🙂

    Disukai oleh 1 orang

  2. Aduh dipanggil Kak, serasa tuwirrr😀
    Makasih Mas Octa….:D Saya sudah lahap semua tips menulis Mas Octa, meski tidak semuanya saya praktekin secara saya baru belajar menulis.

    Disukai oleh 1 orang

  3. sangat bermanfaat, mas octa. btw saya juga bermaksud nerbitin secara indie buat kesenangan pribadi semata, apakah bisa saya kirimkan kopiannya ke mas octa kalau sudah jadi nanti?

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s