Jangan Meremehkan Imajinasimu


Saya sedang menulis-nulis di buku baru. Drama radio yang baru saja saya dengarkan membuat saya tidak bisa diam untuk menulis cerita. Plotnya hampir mirip seperti drama radio tadi, hanya saja tokoh-tokohnya saya ganti dengan diri saya sendiri dan teman-teman saya.

Guru Matematika datang mendekat, “Kamu lagi ngerjakan apa?” Ditariknya buku saya. Dibacanya sekilas. “Sekali lagi kamu tidak memperhatikan saya, buku ini Ibu sita.”

Saya ketakutan. Sejak itu saya tidak pernah menulis di kelas. Saya memang bosan pada pelajaran saat itu. Sama sekali tidak mengerti penjelasan guru. Mau bertanya juga takut. Ya, namanya juga anak SD.  Namun, menulis membantu saya lebih rileks. Nyaman. Juga hepi.

Andai saat itu Bu Guru memberi saya bimbingan ketika menulis. Andai beliau segera tanggap bahwa saya mempunyai ketertarikan di bidang menulis.  Karena saya juga sering ke perpus. Pinjam buku yang tebal-tebal. Bacaan-bacaan saya bukan cuma Bobo, tetapi Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Agatha Christie. Ah, cuma andai. Siapa diantara generasi saya, generasi 80-an yang menganggap penulis itu profesi? Pasti tidak ada. Penulis itu cuma iseng-iseng doang. Pekerjaan sambilan. Begitu kondisi saat itu mengukung karir kepenulisan.

Saya tidak menyesal jika saat ini memilih profesi yang jauh dari dunia tulis-menulis. Sudah takdir, ngkali :p . Tetapi saya tetap bangga menulis. Banyak hal dari menulis yang membantu saya berpikir. Imajinasi saya sering membantu saya memecahkan masalah. Kenapa begitu? Karena menulis mengajarkan untuk keluar dari kotak lama pemikiran, melihat daerah diluar kotak untuk mencari solusi-solusi baru.

Akan tampak perbedaannya, antara berkumpul dengan penulis, dan berkumpul di lingkaran orang dengan profesi yang lain. Penulis sering mengajak diskusi. Mereka terbiasa riset. Terbiasa melihat segala informasi mentah untuk diproses terlebih dahulu sebelum dikeluarkan lewat aksi. Mereka lebih terbuka untuk bertukar ide.

Penulis sanggup menyajikan hal biasa menjadi luar biasa. Suatu ketika saya pernah diminta membuat renungan agar remaja-remaja yang mengikuti kegiatan saya menjadi sadar akan keburukan mereka. Saya menolak secara halus untuk “Memberikan renungan” sebaliknya, mereka saya minta untuk membuat kisah kehidupan mereka yang menarik dan mempresentasikan saat kita ketemu nanti. Anda akan heran, seorang berbadan besar, laki-laki, tiba-tiba menangis. Itu semua gara-gara ada seorang temannya yang menceritakan bagaimana kehebatan orangtuanya dalam membesarkan dia, padahal ia sendiri sering memberontak pada orangtuanya.

Peluru bisa menembus kulit dengan kesakitan. Tetapi tulisan sanggup masuk ke hati dengan diam-diam. Oleh karena itu, saya sangat mendukung orangtua dan guru-guru TK yang sering membacakan cerita/mendongeng untuk anak-anak mereka. Cepat atau lambat cerita-cerita itu akan mengendap di alam bawah sadar mereka dan mempengaruhi mereka.

Tetapi hati-hati. Ada juga penulis gadungan. Mereka tahu sekali efek “keahlian menulis”. Mereka menggunakan keahlian mereka bukan untuk berbuat kebaikan. Mereka sengaja membuat tulisan persuasi untuk mendukung pendapat mereka. Oleh karena itu disamping penulis, kita harus menjadi pembaca. Isi bacaan-bacaan kita akan menjadi filter bagi kita untuk menyeleksi hasil tulisan orang lain. Benar atau tidakkah pendapat mereka?

Pada akhirnya, menulis dan membaca adalah sejoli yang tak dapat dipisahkan. Keduanya saling mengisi. Saling mengasah. Membaca membuat kita pandai menulis (karena kita mempunyai bahan). Sementara menulis membuat kita menjadi pembaca yang cerdas. Membuat kita tak sekedar membaca, tetapi sambil berpikir.

Iklan

5 responses to “Jangan Meremehkan Imajinasimu

  1. Siapa diantara generasi saya, generasi 80-an yang menganggap penulis itu profesi? Pasti tidak ada. Penulis itu cuma iseng-iseng doang. Pekerjaan sambilan. Begitu kondisi saat itu mengukung karir kepenulisan.

    Tepat!
    Saya juga generasi 80-an loh…

    Waktu SMA masih ada jurusan A4 (bahasa), saya tergila-gila dengan jurusan itu dan sudah mengincarnya. Tapi apalah daya… keluarga saya bilang “Mau jadi apa di A4… itu kelasnya anak bodoh yang tidak mampu hitung2an… bla bla bla…”

    Kandaslah cita2 saya masuk A4 dan malah masuk A2 (biologi)

    Tapi keinginan menulis tak terbendung, mulai dari kelas 2 SMA itulah saya menulis. Kali ini tidak tanggung-tanggung, saya menulis cernak bahasa jawa… hay hay hay hay… dan dimuat berkali kali di majalah bahasa jawa. Horeee hepiiii icikiwir….

    Hingga suatu hari saya dipanggil ke ruang guru dan harus bertemu wali kelas yang dengan muka seram mempertanyakan wesel majalah yang selalu datang dan mengatakan saya sebaiknya serius belajar ilmu biologi, kimia, fisika dll dibanding tulis menulis.

    Hmmm.. hari ini … saya kerjanya membangun, tetapi saya juga membuat blog competition…

    Ha ha ha ha… hidup memang ajaib, seperti semua imajinasi di mimpi2 para penulis…

    #iki curhat opo komen… 😀

    Disukai oleh 1 orang

  2. Inget jaman mulai suka nulis dulu sekitar SMP atau SMA. Biar kata mau ulangan atau PR banyak, kalau ide datang tetep aja nulis. Suka dimarahin bapak karena dianggap nggak serius sekolah hehe
    Untungnya sekarang ada blog jadi bisa menuangkan imajinasi yang kadang liar tak terkendali

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s