Menulislah Seperti Psikopat


Apakah Anda mengenal Jack The Ripper dan Theodore Robert Bundy. Ataukah Anda pernah melihat film seperti The American Friend dan Deathtrap. Mereka bercerita masalah psikopat. Saya rasa Anda pasti menemukan kesamaan diantara nama orang dan film yang saya sebutkan tadi: presisi, obsesi, fokus, tidak punya rasa sesal dan bersalah, cerdas, impulsif, dan egosentris.

Saya tak bermaksud menulis artikel tentang psikologi. Namun yang menarik bagi saya adalah, jika kita bisa meniru psikopat disaat-saat tertentu, maka tulisan-tulisan fiksi kita lebih bermutu. Ingat! Disaat tertentu.

OBSESI
Seseorang yang mempunyai cita-cita tertentu dan ngotot mewujudkannya adalah obsesi. Penulis juga harus demikian. Apabila dia sudah mempunyai plot dan cerita dalam pikirannya, ia tak akan bisa berhenti sebelum semua pikiran tadi tertuang dalam tulisannya. Akibat dari obsesi: Tulisan Anda sudah pasti selalu terselesaikan. Tidak mangkal di folder komputer saja atau sekedar tidur di flashdisk Anda. Obsesi berarti: Tidak tenang sebelum yang ditargetkan menjadi kenyataan.

FOKUS
Lihatlah seekor kucing yang sedang mengincar tikus. Dia merendahkan tubuhnya. Kaki-kakinya siap meloncat. Matanya memandang hanya tikus itu. Penulis harus seperti ini. Sekali menulis cerita, dunianya hanya untuk cerita itu. Ia selalu riset, mengolah, memperbaiki lubang-lubang plot. Dia tak akan beranjak ke pikiran yang lain sebelum titik fokusnya yang sekarang selesai.

PRESISI
Seorang psikopat selalu memikirkan segala sesuatunya. Jika dia seorang pembunuh, maka dia akan memikirkan segala sesuatunya. Bagaimana membunuh tanpa ketahuan, bagaimana memanipulasi pikiran korban agar terperdaya. Ia mempelajari segala sesuatu tentang korban agar dapat memanfaatkann si korban semaksimal mungkin.  Penulis harus seperti ini. Rancang plot. Rancang cerita. Buat plot minor. Perkirakan titik tempat pembaca mulai bosan membaca sehingga disitulah cerita diperkuat. Rancang target tulisan: anak-anak, remaja, dewasa, pria? Wanita? Klasik? Populer? Klise?

CERDAS
Cerdas adalah kecepatan dalam belajar. Jika Anda mempelajari matematika dalam sebulan sedangkan teman Anda dalam seminggu. Maka Anda dan teman Anda sama-sama pandai, tetapi teman Anda lebih cerdas dari Anda.

Penulis harus mempunyai kemampuan belajar cepat, karena penulis bisa saja dituntut untuk menulis sesuatu yang belum pernah dikenalnya. Penulis harus meramu bahasa, setting, karakterisasi, jalan cerita, pembukaan, bagian tengah dan ending yang memuaskan dalam tenggat waktu cepat.

TIDAK PUNYA RASA SESAL DAN BERSALAH
Penulis harus kejam. Dia harus merancang “kejahatan” bagi protagonis. Penulis membuat tokoh baik-baik menderita dan tak mudah mencapai tujuannya. Penulis tidak boleh berpihak pada tokoh manapun sehingga cerita berimbang. Jika Anda adalah orang yang tidak tega-an. Jangan menjadi penulis. Karena tak mungkin suatu cerita fiksi tanpa masalah.

EGOSENTRIS
Anda harus yakin dengan yang Anda tulis. Anda harus percaya bahwa diri Anda bisa. Jangan rendah diri. Segala perasaan negatif tentang diri Anda akan menjadi kenyataan saat Anda memikirkannya terus menerus. Penulis besar jangan membuat Anda takut menelurkan karya. Jadikan mereka target, “Suatu hari Anda harus diatas mereka.” Saya tak mengajarkan tentang kesombongan. Saya hanya mengatakan bahwa hanya Tuhan yang tak dapat Anda lampaui. Percaya diri Anda bisa membuat otak Anda bekerja “Bagaimana caranya menjadi lebih baik”

IMPULSIF
Anda tidak perlu menimbang baik buruknya tulisan Anda. Tulis saja. Terus tulis. Anda tidak usah memikirkan apa efek dari tulisan Anda. Tulislah dengan bebas. Nanti ada saat ketika tulisan Anda harus diperhalus. Dipoles. Disensor agar dapat dibaca dan dinikmati pada target pembaca tertentu. Jangan menjadi penulis dan editor pada saat bersamaan

*sumber gambar: pinterest.com

Iklan

9 responses to “Menulislah Seperti Psikopat

  1. InsyaALLAH, akan saya coba. terima kasih atas motto nya mas.
    *salam kenal

    Disukai oleh 1 orang

  2. menulisku tersendat-sendat karena terlalu banyak dipikir, ditimbang, dikritik sendiri …. Jadi ndak bisa cepet selesai

    Suka

    • Menuliskah dulu sampai selesai memakai otak kanan (daya abstrak)…setelah itu baru edit kemudian dengan otak kiri (logika)…Otak kiri terlalu menghakimi jika dipakai diawal menulis

      Suka

  3. Saking kejamnya kadang saya suka merasa terlalu kejam melukiskan seorang tokoh antagonist atau protagonist yang terluka. Bahkan kadang saking terlalu masuk dalam cerita saya bisa kayak orang gila. Sebentar nangis sebentar ketawa sendiri… psycho banget pokoke

    Suka

  4. Bermanfaat sekali mas, tulisannya, makasih.
    “Anda harus yakin dengan yang Anda tulis. Anda harus percaya bahwa diri Anda bisa. Jangan rendah diri. Segala perasaan negatif tentang diri Anda akan menjadi kenyataan saat Anda memikirkannya terus menerus.” Bagian itu, saya banget, orang yang mudah putus asa, hahaa..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s