Tulisan: Kado yang Dapat Diberikan Oleh Siapa Saja


Beberapa tahun lalu; di awal-awal masa saya masih imut,  saya tidak menganggap tulisan sebagai sesuatu yang berarti. Tulisan ya tulisan. Cuma sederetan kata-kata. Cuma penyimpan materi sekolahan atau tempat meletakkan berita di surat kabar.

Suatu ketika saya mendengarkan radio (jangan tertawa, ya. Jaman itu adanya cuma radio dan TV).  Radio tersebut sering membacakan surat-surat cinta. Cara penyiar tersebut membaca dan lagu yang mengiringinya benar-benar membuat pikiran saya berkelana. Sayang saya lupa nama radionya.

Saat terpejam, benak saya berlari mengikuti cerita dalam surat cinta tersebut. Kadang ada surat cinta yang bahagia, kadang tragis. Saya tidak tahu apa yang terjadi pada saya saat itu. Lama kemudian, setelah saya mengenal psikologi, saya tahu apa yang saya rasakan.

Sama halnya dengan musik dan foto; cerita juga dapat membangkitkan sesuatu dalam pikiran kita. Kenangan, sakit hati, kegembiraan dan beribu-ribu perasaan lainnya bisa muncul tiba-tiba. Kita seperti ter-hipnotis. Padahal beberapa saat lalu kita tertawa tapi bisa menangis. Menit yang lalu kita sedih tapi tiba-tiba jadi hepi banget.

Saya mulai pada kesimpulan, “Jika sebuah tulisan bisa merubah suasana hati, maka tulisan lebih ampuh dari obat. Lebih berkhasiat daripada nasehat. Dan lebih membumi daripada cerita Si Unyil.” Anda dapat bercerita dimana saja, kapan saja. Suatu hal yang tak dapat dilakukan oleh alat lain.

Tulisan itu gratis. Jaman saya kecil, tulisan saya letakkan pada belakang buku-buku sekolah.  Puisi-puisi saya hanya pada kertas HVS bergaris. Paling mewah ya pakai mesin ketik. (Dan karena saya masih kecil, tentu kertas dan mesin ketik dari orangtua saya. Mangkanya gratis..he..he..he)

Sekarang pun, kegiatan menulis “lebih dapat diletakkan di mana saja”. Di blog, tablet, HP, email, WhatsApp, BBM, dan teman-temannya. Karena dimana-mana, maka “harganya lebih murah”. Karena murah, maka tulisan dapat  dibuat oleh siapa saja.

Nah, jika tulisan adalah “murah” dan dapat dilakukan oleh siapa saja,  serta berguna untuk orang lain, lantas kenapa tulisan tidak dijadikan sebagai  hadiah? Hadiah murah tetapi tidak murahan?

Sebelum meninggal, nenek saya menderita sakit payah. Dia buta dan lumpuh. Hanya pendengaran yang menjadi koneksi ke dunia diluar dirinya. Saya tidak punya uang untuk membawanya ke rumah sakit sesuai pintanya. Saya cuma mampu membelikan pampers dewasa dan cerita.  Saya bercerita tentang bagaimana saya menyukai donat buatannya. Suka sekali dengan pijatannya di punggung ketika saya datang mengunjunginya. Saya mencoba menggugah kenangan terindah padanya dengan kemampuan saya bercerita yang amburadul. Saya tidak tahu apakah nenek saya mengerti apa yang saya ceritakan.  Bahasa saya juga campuran antara Jawa dan Indonesia.

Saya yakin, pacar Anda yang matrek sekalipun akan suka sekali mendengar cerita Anda yang Anda suarakan sebagai hadiah. Asal Anda menceritakan dengan kejujuran hati. Setiap orang sanggup merasakan kemurnian hati seseorang. Saya percaya itu.

Anak Anda juga dapat bergaul dengan Anda lebih erat jika Anda sering bercerita padanya. Tidak perlu dari ciptaan Anda. Banyak kok buku-buku dongeng diluar sana. Saya yakin, dongeng Anda lebih hemat daripada membeli buku-buku parenting karena Anda kewalahan menghadapinya. Masih ingat kan sewaktu kita kecil, kita lebih suka berempati pada kawan yang sering berjalan dengan kita. Kenapa? Karena mereka satu frekwensi dengan hati kita. Anda pun dapat berbuat demikian jika sering bergaul lewat cerita.

Ajari Anak kita dengan menuangkan pikiran lewat cerita. Maklumlah, tidak semua anak berkepribadian terbuka. Dengan cari ini mereka tidak terbiasa menumpuk perasaan negatif. Suer. Menuangkan sesuatu lewat tulisan itu melegakan. Mereka akan belajar melihat diri mereka sendiri. Sesuatu yang sulit untuk kita ajarkan dengan cara formal.

Saya mempunyai teman yang mempunyai dua boneka tangan. Dia menggunakan boneka-boneka ini untuk menggoda adiknya yang lagi marah dan menuangkan pikirannya ke orangtuanya. Jangan terkejut. Dia laki-laki (sebab biasanya cuma cewek yang melakukan hal ini). Cara ini tampak konyol di awal, tetapi lambat laun mereka dapat menerima kritikan dan masukan sambil tertawa. Apakah Anda sanggup membuat orang menerima perkataan Anda (yang notabene kritik) dan orang tersebut tetap legawa? Cuma cerita yang bisa (Dan murah)

Sumber gambar:  sinalefa2.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s