Menulis Kok Stres?


Judulnya terlihat lucu. Menulis kok stres? Tetapi ini realita. Banyak calon penulis menghubungi saya dengan pertanyaan-pertanyaan yang terbilang sama.

A:  Bagaimana sih membuat tulisan yang baik?
Saya: Baik buat siapa?
A: Buat yang baca?
Saya:  Sudah menulis berapa kali?
A: Emmm…belum, justru itu saya tanya, supaya saya bisa menulis
Saya: ???!!&*$#%^

B: Bagaimana sih caranya menulis?
Saya:  Kakak sudah lulus SD belum?
B: Ya sudah dong.
Saya: Di SD tidak ada pelajaran Bahasa Indonesia?

Pertanyaan-pertanyaan diatas bukan diajukan oleh orang yang kurang piknik, tetapi oleh orang yang kurang memperhatikan kesehatan jiwa. Apa hubungannya? Oh, ya. Ini berhubungan. Jika Anda menulis karena target pasar sebagai tujuan pertama/utama, maka Anda seharusnya bersiap-siap menjadi profesional juga, bukan sekedar penulis. Anda siap?

Saya mengerti, bahwa tidak salah mengharapkan uang dari menulis. Penulis itu juga profesi, sehingga sebagai seorang profesional, mengharapkan duit dari menulis adalah syah-syah saja. Pertanyaannya, “Apakah pengaju pertanyaan diatas seorang profesional?” Tidak. Penanya seperti pertanyaan diatas jelas seorang pemula. Kok tahu? Jika dia profesional, maka yang dia tanyakan ‘bukan bagaimana menulis yang baik’ tapi riset. Bandingkan antara Chef dan Tukang Masak. Fotografer dan Tukang Foto.  Penemu atau Pemakai.

Seorang profesional dapat mengembangkan tulisannya sendiri, bahkan menciptakan pasar. Lihatlah masa-masa sebelum Harry Potter. Bagaimana keadaan cerita fantasi saat itu? Tidak terlalu berkembang. Tetapi setelah JK Rowling membuatnya, banyak orang-orang berlomba menuliskan cerita fantasi. Tengok juga era horor. Begitu banyak penulisan fiksi horor dibuat begitu satu cerita horor laku keras.

Penerbit tidak bisa disalahkan. Penerbit adalah pembisnis juga. Dan bisnis memang harus menghasilkan uang. Tetapi apakah Anda sudah begitu profesional sehingga bisa menulis berdasarkan pesanan “yang laku saat ini”

Jangan takut menjadi amatir.  Menulis itu membutuhkan pengalaman. Semakin banyak menulis, akan semakin berpengalaman. Dulu Anda akan berpikir bahwa membuat tulisan 1500 kata akan susah. Tetapi jika Anda mempunyai banyak pengalaman, nyatanya nyegerin…eh..kok kayak iklan…maksudnya ‘nyatanya mudah’. Mulailah menulis pada bidang yang Anda sukai.  Jangan menulis dengan memperhatikan selera pembaca dulu,  tetapi selera Anda sendiri sebagai penulis.

Saya mempunyai teman yang sering ngomong-ngomong masalah menulis pada saya. Dia mencoba membuat tulisan ini-itu (berarti dia sering menulis), sampai akhirnya dia suka pada penulisan cerita anak-anak. Coba kalau dia malas menulis, mungkin dia tidak tahu kalau menyukai cerita anak-anak.

Hal kedua. Menulislah langsung tanpa jeda. Jangan memikirkan teori-teori menulis. Anda bisa pusing . Habiskan waktu dengan membuat tulisan dan bukan bertanya “bagaimana-bagaimana”. Ambil topik sesuka Anda. Tak perlu target. Marilah kita mencontoh seorang anak SD yang gemar menulis.  Apakah mereka menulis dengan memikirkan plot dulu? Punya characters sheet? Memangnya mereka memikirkan sudut pandang? Alur? Premi? Apakah mereka sudah cukup berpengalaman bergaul sehingga menulis cerita seperti itu. Apakah mereka menguasai EYD yang sempurna? Saya ragu. Tetapi lihatlah mereka menulis dengan gembira.

Tanpa anak-anak kecil itu sadari. Mereka telah belajar membuat tulisan dengan langkah paling cepat menuju ke arah profesional. Kerajinan mereka menulis  mengajari otak untuk melakukan kebiasaan “menuliskan angan” menjadi sebuah tulisan  dengan cara-cara mereka. Dan kebiasaan ini nantinya akan membentuk gaya penulis itu.

Gembira dengan apa yang kita lakukan adalah modal sukses di bidang itu. Jika Anda menulis dengan senang (syukur-syukur hobi), Anda akan terkejut dengan jumlah tulisan yang Anda hasilkan.

2 responses to “Menulis Kok Stres?

  1. Maaf Oot,

    bolehkan kita menulis dengan berbagai macam jenis narator/POV misalkan di bab pertama memakai POV 3 lalu bab selanjutnya memakai POV 1.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s