Rambu-rambu Menulis


Bayangkan jika jalanan yang dilalui kendaraan tidak mempunyai rambu-rambu dan lampu lalu lintas. Betapa kacaunya. Mobil diparkir sembarangan. Orang dapat berhenti di tempat ramai yang berpotensi membuat macet.  Keadaan ini masih bisa diperparah dengan kecelakaan lalu lintas.

Menulis juga membutuhkan rambu-rambu. Setidak-tidaknya jika Anda hendak menjual tulisan Anda.  (Kalau untuk konsumsi pribadi terserah Anda).  Orang tidak bisa merasakan tulisan dengan serta merta seperti di film.  Audio dan visual di dalamnya membuat orang tidak berusaha banyak untuk terbawa ke suasana pikiran tertentu.  Tulisan lebih banyak “sesuatu” untuk menggiring pembaca ke suasana tertentu. Jika tidak, “akibat” di pembaca akan berbeda dengan harapan penulis.

“Kamu bajingan.”

Apa yang Anda rasakan jika membaca tulisan diatas? Tersinggung? Marah? Atau paling tidak Anda mengira bahwa orang yang mengucapkannya pastilah marah? Sekarang bandingkan dengan ini:

“Kamu banjingan yang manis, Say,” Lola tersenyum ketika mendekati Antok.

Benak pembaca langsung berubah. Penguasaan penulis akan banyak hal, seperti adat istiadat, budaya, bahasa, ilmu pengetahuan dan lain-lainnya sangat membantu memberikan rambu-rambu untuk menulis. Berikut ini beberapa hal umum yang dapat digunakan untuk rambu-rambu menulis.

  1. Menulis Berdasarkan Kecerdasan Pembaca
    Saat menulis, kita harus menentukan target pembaca kita. Anak-anak, remaja, dewasa-muda, dewasa banget jelaslah berbeda. Begitu juga dengan tingkatan intelektual pembaca.Contoh:

    “Ngapain Rahman senyum-senyum gitu?” Monica melihat pria di seberang meja setelah menyesap kopinya.

    Dona menyandarkan badannya. “Serotonin-nya lagi penuh.”

    Tulisan diatas menjelaskan beberapa hal. Dona dan Monica jelas bukan cewek biasa karena mereka saling tahu serotonin itu apa. Mungkin saja mereka dokter, atau cewek-cewek yang sering membaca buku-buku kesehatan. Sebagai catatan, orang yang dalam keadaan “cinta” dan “bahagia” mempunyai keadaan serotonin tinggi.  Sehingga maksud dari dialog diatas mengatakan “Rahman sedang bahagia” atau “Rahman sedang jatuh cinta”. Penulis harus mempertimbangkan menulis dengan model diatas. Jika target pembaca untuk kalangan profesional muda atau dewasa muda, tidak masalah.

  2. Menulis Berdasarkan Adat
    Adat mempunyai image dan lambang yang dapat digunakan dalam cerita. Dengan memanfaatkannya dalam cerita, penulis tidak perlu terlalu banyak membuat deskripsi. Tapi ingat. Tidak semua orang tertarik membahas adat, sehingga jika dia tidak tahu apa yang mereka baca lantas googling.  Begitu juga tidak semua pembaca mengetahui adat diluar adatnya sendiri.  Penulis harus mempertimbangkan menulis seperti ini (sekali lagi disarankan menetapkan target pembaca sebelum menulis)

    Ling Ling terbujur kaku. Kotak putih tempatnya bersemayam masih tampak baru. Cat putihnya memantulkan cahaya; menguarkan kemegahan dibalik tubuh kakunya. Wei Lung memandang mata Ling Ling yang terpejam. Sebuah tarikan di sudut bibirnya mencuat.

    Victor hendak berjalan ke arah Wei Lung. Lucy meraih lengannya cepat-cepat. “Jangan bikin keributan. Ini masih suasana duka.”

    Victor menarik nafas panjang. Matanya hampir keluar melihat baju merah Wei Lung.

    Warna putih adalah warna duka bagi orang Tionghoa. Sedangkan merah untuk warna bahagia, seperti perkawinan atau pesta-pesta. Memakai warna merah pada suasana duka jelas-jelas kurang ajar. Jadi sangat jelas menggambarkan keadaan Wei Lung yang ada “apa-apa” pada keluarga Victor dan Lucy.

  3. Pornografi? Atau Seksi?
    Agak sulit memberikan batasan antara pornografi dan seksi. Indonesia memang mempunyai undang-undang pornografi, tetapi seni seharusnya tidak dapat dibatasi seperti ini. Patung-patung telanjang pastilah harus disensor jika demikian. Dan bagaimana dengan suku-suku di pedalaman? Saya tidak hendak mengajukan argumentasi, tetapi saya pribadi membatas masalah ini dengan cara seperti ini.  Saya membagi usia pembaca menjadi tiga bagian. Anak-anak, remaja dan dewasa.  Seksualitas hanya saya tulis untuk remaja dan dewasa. Saya menghindarkan penyebutan alat reproduksi manusia atau bagian-bagian sensitif pria dan wanita secara langsung. Pada remaja, saya tidak menggambarkan sentuhan langsung, namun tidak dengan dewasa.

Masih banyak rambu-rambu yang dapat dipakai agar benak pembaca tergiring ke arah imajinasi tertentu. Tiga rambu diatas hanyalah contoh.

*Sumber gambar:  flickr.com

One response to “Rambu-rambu Menulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s