Nostalgia Masa Kecil dengan Komik Deni Si Manusia Ikan


DeniManusiaIkan

Pada era saya masih imut (sekarang setengah imut), ada beberapa majalah anak yang terkenal, diantaranya adalah Bobo, Ananda, Si Kuncung dan Mentari. Semakin lama jumlah mereka semakin mengerucut, dan tinggalah Bobo, bahkan sampai sekarang. Saya pribadi lebih memilih Bobo, sebab isinya memang unik dibandingkan pesaingnya. Salah satu isi yang saya sukai adalah komik, seperti Deni Si Manusia ikan.

Deni Manusia Ikan adalah komik terbitan Buster. Ditulis pertama kali tahun 1968-1975, jadi tidak heran kalau masih hitam-putih. Menceritakan tentang seorang anak yang tanpa sengaja tertinggal di lautan.  Karena terbiasa di laut, Deni tumbuh menyerupai ikan meskipun badannya tetap manusia. Dia beringsang sehingga dapat bernafas di laut. Selaput-selaput tumbuh diantara jari tangan dan kaki. Ya, dengan demikian dia juga dapat berenang seperti ikan. Hebat, kan? Evolusi yang cepat.  Sepanjang cerita komiknya, Deni diceritakan mencari orangtuanya dan sepanjang perjalanan itu dia membantu banyak orang.

Secara garis besar ceritanya dibagi menjadi:

  1. Mencari orangtuanya
  2. Membantu orang
  3. Kelucuan-kelucuan saat Deni yang orang laut tidak tahu benda-benda darat

Komik ini berhasil membuat saya berimajinasi mencintai laut (sekarang saya lebih suka ke gunung). Waktu itu saya sempat membayangkan berenang di laut waktu tidur di kasur. Guling dan bantal menjadi ikan pari dan ikan hiu. Kadang-kadang juga menjajarkan empat bantal menjadi empat persegi panjang dan membayangkan sedang di atas ikan pari, seperti yang dilakukan Deni.

Cara penggambaran tokoh-tokohnya jelas berbeda dengan komik-komik jepang yang sekarang ini bertebaran di muka bumi Indonesia. Tidak bermata besar. Tidak ada muka seperti boneka. Lebih mirip manusia asli dibandingkan manga. Bagi anak-anak mungkin agak membosankan karena kurang “kartun”. Tapi saya justru menyukainya.  Mungkin karena jaman-jaman saya masih imut,  saya lebih sering membaca komik dengan dandanan seperti ini.

Kepopulerannya membuat Gramedia menerbitkannya dalam komik khusus (bukan komik berseri seperti di majalah Bobo) dalam 16 seri.  Bagi para pecinta Deni, komik seri ini sangat berharga. Kita tidak usah mencari-cari atau mengumpulkan Bobo hanya untuk membaca ceritanya sampai lengkap. Namun sayang, masih hitam-putih.

Saya tidak anti manga. Tetapi andai saja komik-komik di Indonesia lebih bervariasi, maka akan semakin kaya pilihan kita dalam bersenang-senang dalam membaca. Gambar tidak itu-itu saja. Cerita juga tidak harus penuh fantasi. Cerita-cerita seperti kejadian-kejadian di sekitar lingkungan kita juga dapat dijadikan komik.  Saya mungkin tidak harus memecah celengan lagi untuk membeli komik dan membawa uang recehan itu ke toko buku. Tetapi disaat saya mempunyai penghasilan sendiri untuk membeli komik-komik masa itu, kemana komik-komik seperti Nina, Dagelan Petruk-Gareng, dan komik-komik silat Indonesia? Saya merindukan kehadiran mereka. Lagi!

 

Iklan

2 responses to “Nostalgia Masa Kecil dengan Komik Deni Si Manusia Ikan

  1. Hehe… sama… Saya juga baca Si Kuncung. Terus Juwita dan Si Sirik. Ananda, Lima Sekawan

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s