Writer’s Block: Amatir atau Profesional?


Saya sering melihat dan mendengar, peristiwa seperti ini. Ada seseorang yang berkeluh kesah, bahwa tulisannya sering berhenti di tengah jalan. Orang-orang yang pinter menulis menyebutnya dengan writer’s block, alias halangan menulis atau kehilangan ide di tengah jalan.

Apakah writer’s block sebenarnya? Apakah writer’s block cuma sekedar mitos? Atau “bentuk kemanjaan seorang penulis?” sehingga penulis yang sedang “writer’s block” adalah penulis amatiran? Dengan kata lain penulis profesional tidak mungkin writer’s block.

Lain peristiwa, saya mempunyai teman tempat saya dan dia mengobrolkan masa-masa remaja kami. Di sela-sela obrolan, dia menampilkan cerita yang pernah dia tulis beberapa tahun yang lalu.  Gaya bahasa di tulisan itu. Cara si “karakter” mengungkapkan isi dan perasaannya jelas mengiris.

Saya bertanya, “Ini kamu yang tulis?” Dia jawab ya.

“Kenapa tidak ditulis dalam bentuk cerpen sekalian?”

“Belum pengin naik ke level itu.”

Dari dua peristiwa ini saya membandingkan.  Pada dasarnya writer’s block itu hanya masalah apakah penulis mempunyai bahan atau tidak. Anda tidak bisa pergi ke Jakarta dari Surabaya dengan hanya bermodal bahan bakar tiga liter.  Sudah pasti Anda akan berhenti di tengah jalan.

Teman saya yang curhat itu memang tidak sedang menulis cerpen/novel.  Dia menulis kisahnya sendiri yang sudah barang tentu dia sendiri sudah punya bahan, yaitu riwayat hidupnya sendiri. Sedangkan penulis yang menulis cerita yang benar-benar fiksi tentu harus mempersiapkan bahan-bahan fiksinya. Jika tidak dilakukan, tentu saja ia akan berhenti di tengah jalan.

Saya sudah pasti mengalami writer’s block kalau harus menyaingi Marga T atau Mira W dalam cerita fiksi yang berhubungan dengan kedokteran. Mereka pernah kuliah di kedokteran, saya tidak. Jika saya harus menulis cerita tentang kedokteran, sudah pasti harus riset terlebih dahulu.

Ketika saya dapat ide dalam bentuk kilasan cerita. Ide tersebut masih belum lengkap. Saya menggabungkan-gabungkan kilasan-kilasan tadi sampai terbentuk cerita dasar (plot dasar), barulah saya menulis.  cerita dasar tadi hanya sekedar pagar. Dalam prakteknya saya menulis di dalam pagar, tetapi nantinya bisa “memperluas pagar”. Setiap kali saya memperluas pagar, saya membentuk cerita dasar lagi agar komponen-komponen cerita tetap berhubungan.  Dialog-dialog di dalamnya, adegan-adegan, gerakan-gerakan tubuh,  tempat cerita, kebiasaan berbicara dan pernik-pernik lainnya sudah saya dapatkan ketika saya membaca novel-novel orang lain serta pengamatan saya sendiri di dunia nyata.

Saya termasuk jarang membuat outline, sebab saya sudah membayangkan plot-plot dasarnya di benak saya, kecuali saya menulis cerita kriminal.  Plot-plot minor selalu tercipta saat saya menulis plot dasar.  Malah, terkadang saya menulis sampai selesai plot dasarnya, kemudian baru menambahkan plot-plot minor.

Bagi saya, menulis itu bermeditasi. No gangguan. No HP.  No woman no cry….eh, enggak ding.  Cuma musik-musik yang mendukung cerita yang saya putar dan secangkir kopi (kadang bercangkir-cangkir kopi papua…he..he..he). Saya benar-benar fokus ke cerita saya. Saya membayangkan segala ruang tempat tokoh berada, atau membayangkan wajah lawan bicara. Saya benar-benar memperhatikan perkataan lawan bicara sehingga dapat menuliskan reaksi/balasan, baik dalam bentuk verbal atau nonverbal.

Hobi saya di fotografi sangat membantu saya dalam memperdalam cerita dan plot. Dalam fotografi, kita dipaksa menampilkan keindahan dengan memain-mainkan warna, cahaya, sudut pengambilan, perspektif dan emosi. Cerita juga seperti itu.  Fotografer yang berbeda akan menampilkan “rasa” gambar yang berbeda pada obyek yang sama.

Lantas bagaimana dengan Anda. Cara Anda mungkin beda dengan saya. Carilah gaya yang sesuai dengan diri Anda sendiri.

Kesimpulan akhir.  Writer’s block bukan masalah amatir atau profesional tetapi masalah siap menulis atau tidak.  Penulis sudah seharusnya mempersenjatai diri sendiri dulu sebelum menulis sebuah cerita. Mengenai senjata apa yang digunakan, itu tergantung cerita yang dibuat.  Jangan segan melakukan riset.

Selamat menulis.

Sumber gambar: pinterest.com

Iklan

3 responses to “Writer’s Block: Amatir atau Profesional?

  1. saya setuju dengan artikel ini kalau saya melihat diri saya karena manja saja tidak mau meneruskan niat menulis yang sebenarnya menggebu-gebu

    Suka

  2. Aku sendiri suka mengalami writer’s block kl udah kelamaan ga nulis dan ga baca-baca. Semacam ga ada inspirasi aja untuk pemilihan kata-kata dan kalimat yg sekiranya ga bakal bertele-tele:)) tapi sekarang sih untuk memulai postingan aja udah cukup sulit huhu.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s