Menggunakan Catchphrases Dalam Percakapan Fiksi


Kita pasti pernah mendengar pameo  “Tak Kenal Maka Tak Sayang”. Arti dari slogan ini adalah, kita harus mengenal orang tersebut agar dapat menentukan apakah kita menyukainya atau tidak.  Sering,  rasa suka kita terletak pada keunikan orang tersebut.  Misal, saya punya seorang teman yang selalu mengatakan “What’s the matter?” ketika kesal karena pendapatnya dipertanyakan.  Saya selalu tertawa ketika mendengarnya. Perdebatan “ngalor-ngidul” yang penuh ketegangan seketika cair.  Apalagi orangnya cantik (he…he…he…)

Dalam bahasa percakapan, sesuatu yang unik dalam kata-kata orang tersebut yang identik dengan keadaan spesifik, disebut catchphrases.  Keunikan ini dapat digunakan untuk membedakan karakter yang satu dengan yang lain atau untuk mengungkap siapa tokoh tersebut.

Apa yang ada di pikiran Anda ketika ada seseorang mengucapkan Lo-Gue. Pasti Anda berpikiran dia orang Jakarta. Bagaimana dengan “Jancuk”,  “Nggateli”. Nah, kalau ini arek suroboyo asli.

Jangan terlalu banyak menggunakan catchphrases dalam penulisan fiksi.  Yang sedikit justru lebih berkesan. Jika terlalu banyak malah menjadi biasa.  Selalu tanyakan pada diri Anda sendiri.  Kenapa tokoh Anda mengucapkan ini? Pada saat yang bagaimana kata-kata ini ada? Apakah kata itu diucapkan secara sadar atau tidak? Jika catchphrases tidak berpengaruh apa-apa pada tokoh Anda, kenapa Anda mesti memaksa memakainya?

Ada beberapa hal yang dapat digunakan sebagai catchphrases.

Kalimat Seru/Sumpah Serapah
Contoh:

    • Auk, ah. Gelap
    • Cucian deh lo
    • Ya, amplop!
    • Bajingan
    • Dasar monyet bau, kadal bintit, muka gepeng, kecoa bunting, babi ngepet, dinosaurus, brontosaurus — ini kata-katanya Mas Kasino Warkop

Bahasa Slank/Gaul
Bahasa ini tidak baku, tetapi sering menunjukkan daerah tertentu atau keadaan psikologis tertentu pada tokoh
Contoh:

  • BUCERI = Bule Ngecet sendiri. Julukan untuk orang yang mengecat rambutnya
  • Keles = ngkali
    Mungkin dia, ngkali = Mungkin dia, keles
  • Kepo = rasa ingin tahu

Mengulang Kalimat-kalimat Tertentu
Contoh:

  • Kamu tidak percaya aku?
  • Goblok dipelihara.  Pelihara itu kambing, entar bisa dijual dapet duit. — Ha..ha…ha… Ini kata-katanya  Kasino Warkop.

Mengenalkan diri
Contoh:

  • Panggil saja aku, Mona
  • Apalah arti sebuah nama, namaku tak penting buatmu
  • Namaku Paijo Sundoro, tetapi aku lebih suka dipanggil Pai.

Menyapa/Kalimat Perpisahan
Contoh:

  • Halo sayang
  • Ada apa?
  • Sampaikan salamku pada ayahmu

sumber gambar:  freestockphotos.biz

2 responses to “Menggunakan Catchphrases Dalam Percakapan Fiksi

  1. Mas, bagaimana menulis sinopsis yang baik. thanks.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.