Category Archives: Dunia Menulis

Menulis Fiksi Horor: Antara Berani dan Tidak


 

Bagi Anda yang mempunyai teman penuls, saya rasa hal yang jamak jika satu-dua mereka akan mengatakan, “Menulis horor membuat saya sendiri ketakutan.”  Saya sendiri mempunyai teman yang tidak suka membahas hal-hal yang berhubungan dengan horor, sebab katanya, “Wah, yang kita bicarakan datang disini.”

Terlepas dari apakah hal itu benar atau tidak. Adalah normal dan bagus jika Anda ketakutan. Itu artinya Anda dapat mendeteksi perasaan-perasaan horor. Mengalami ketakutan seperti itu membuat Anda mempunyai kosa kata seram yang tidak ada duanya.

Saya sendiri mempunyai pengalaman seram dengan berbagai intensitas sejak kecil. Di permulaan usia, saya merasakan film-film Suzana begitu mengerikan. Bayi Ajaib-nya Mak Wok dan WD Mochtar, serta siluman buaya putih Yati Octavia adalah beberapa film yang membuat saya tidak bisa tidur.

Lama kelamaan tingkat itensitas ketakutan itu makin berkurang dengan bertambahnya usia saya. Cerpen dan novel horor mulai saya lahap. Saya merasakan kengerian baru.

Lagi-lagi kengerian itu makin berkurang. Tetapi jalur hidup saya memang tidak bisa dilepaskan dari horor.  Ketika saya kuliah, saya indekos di rumah besar yang sering sunyi, apalagi saat liburan semesteran. Berbagai cerita seram dari teman-teman kos saya sering melintas ketika saya sendirian disana.  Namun perasaan-perasaan itu hilang dengan sendirinya.

Apakah berhenti sampai disitu? Tidak! Ketika mulai bekerja, saya mengontrak rumah dengan sumur di dalam rumah, di depan kamar saya.  Kelihatannya, dulu rumah itu tidak sebesar sekarang. Sumur itu ada di bagian luar, tetapi si empunya rumah meluaskan rumah sampai tembok belakang sehingga sumur itu masuk ke rumah. Dan menurut ajaran mistis tertentu, menimbun sumur itu ada aturan tertentu.  Mungkin yang punya rumah takut menimbunnya.

Pengalaman-pengalaman itu membuat saya kaya dalam membuat cerita-cerita horor. Saya memang agak tertawa jika membawa cerita horor jaman sekarang  (kecuali Petak Umpet Minako), tetapi saya beruntung mempunyai “kosa kata horor” dari pengalaman nyata.

Tidak semua jenis cerita harus dialami sendiri. Ada kok penulis yang bisa membuat cerita seakan-akan dia di Jepang, padahal belum pernah. Semua itu tergantung riset dan jiwa seni dalam diri penulis tersebut.  Bagi Anda yang tidak bisa membayangkan atau malas riset, ada baiknya jika Anda mendatangi dan mengalami sendiri perasaan tokoh Anda.

Perlu diingat. Jangan ceroboh. Jangan mencoba sesuatu yang tidak Anda ketahui tanpa didampingi oleh yang berpengalaman. Misal, “Jangan mencoba memainkan jelangkung” jika Anda tidak tahu pasti hasilnya. Jangan mengucapkan mantera-mantera aneh yang belum pernah Anda kenal. Ada baiknya Anda berkonsultasi atau membacanya di perpustakaan. Ini bukan masalah percaya atau tidak.  Bagi saya, penulis itu juga ilmuwan. Seorang ilmuwan akan mencobanya dengan perangkat kehati-hatian. Masih banyak diluar sana yang tidak kita ketahui. Mari kita merabanya untuk mencari tahu, bukan menantangnya.  Anda pasti juga tidak suka ditantang, kan?

Selamat menulis horor!

Iklan