Fenomena Media Massa Tumbang


Suatu ketika saya mencari majalah Kartini. Berminggu-minggu tidak ketemu. Akhirnya saya bertanya pada penjual di jalanan, “Kenapa sulit sekali mendapatkan Kartini?”

Si Penjual menjawab, “Sekarang Kartini hanya diedarkan terbatas.”

Saya langsung merasa was-was. Jangan-jangan ini pertanda buruk. Saya memang tidak mencari tahu lebih lanjut, meskipun saya sering melihat iklan Kartini di Facebook.

Si Kuncung, Anita Cemerlang, Aneka Ria, Horizon, dan sebentar lagi Femina (Kalau bisa jangan. Semoga ini hoax). Ini bukan daftar lengkap media-media yang/akan tumbang. Beberapa dari mereka amat-amat disayangkan ketumbangannya, sebab isinya sebetulnya bagus. Tetapi tentu saja bagus di “isi” tidak menjamin media tersebut akan aman ber-oplah ria.

Tanda-tanda kehancuran sebenarnya nampak dari isinya juga. Media yang dulu isinya informatif, tiba-tiba jadi banyak iklan. Media yang sejak pertama kali terbit membawa misi “begini” sekarang menjadi “begitu”. Dan dugaan saya benar.  Media tersebut bangkrut.

Kenapa media-media tersebut ambruk? Saya mengamati beberapa sebab.

Perubahan Generasi dan Teknologi
Saya termasuk generasi beruntung. Saya menjadi saksi TV hitam putih bertenaga aki sampai TV Flat LCD. Dari kaset sampai MP3 Player. Dari kaset video Betamax sampai youtube. Perubahan generasi membawa serta perubahan teknologi dan cara berpikir. Dulu orang harus keluar rumah atau ke teras untuk memperoleh berita lewat koran. Sekarang saya bisa membaca berita sambil tidur-tiduran di kasur bersama roti panggang. Berita hanya saya dapat dengan paket internet. Dan paket tersebut bisa saya gunakan apa saja, tidak sekedar membaca berita. Bandingkan dengan ribetnya media manual. Dari wartawan sampai “pengedar media” seperti penjual koran atau penjual majalah, membutuhkan banyak proses. Sebelum proses itu selesai, media elektronik sudah memberitakannya di internet.

Media manual kalah cepat. Lagipula juga kurang komunikatif. Bayangkan dengan kolom komentar di media-media elektronik.  Emosi orang tidak bisa ditahan. Saat itu tidak suka pada artikel, saat itu juga bisa komplain.

Dahulu kelemahan media elektronika adalah listrik. Tapi sekarang ada power bank. Kalau masih kurang, bisa membawa aki sekalian. Warung-warung kopi pun menyediakan colokan listrik agar pelanggannya bisa ngopi sambil Wi-Fi-an. Media massa memang tidak akan tergantikan seratus persen dengan media elekktronik. Namun, kalaupun masih banyak yang masih “manual ria”, itu karena masih ada angkatan lama yang masih belum melek elektronika. Bayangkan jika internet sudah seperti listrik dan air, sampai ke pelosok-pelosok desa terpencil? Habis dong media “cara lama”

Saya melek teknologi. Pertama-tama karena pendidikan saya memang di IT.  Kedua, pekerjaan saya juga di IT.  Tetapi saya  sebal jika ada pengumuman di RT/RW atau organisasi lainnya selalu harus lewat WA (kalau dulu BBM). Memang, WA lebih praktis, tetapi tidakkah mereka memperhitungkan orang-orang yang tidak bisa menjangkau WA? Atau setidak-tidaknya tidak mempunyai cukup uang untuk membeli HP?

Teknologi memang tidak ter-elak-an. Semua ada masanya. Dan kecepatan elektronik serta ke-praktis-annya tidak bisa disaingi media manual.

Malas Membaca
Sebetulnya judul sub artikel diatas aneh. “Budaya Malas Membaca”. Bukankah membaca itu dilakukan baik media elektrik maupun manual? Tetapi amati perbedaan artikel di media elektronik dan manual. Kebanyakan artikel di media elektronik cuma singkat. Tidak terlalu dalam. Dan terkadang terkesan dangkal.

Sebetulnya ini bisa dimengerti. Membaca di gadget dalam jangka lama membuat mata berair, pusing dan mual. Dengan demikian pembuat artikel menulis artikel singkat-singkat saja. Akan tetapi, media elektronik dapat menyediakan link-link lanjutan yang dapat di-klik jika mereka tertarik meneruskan (atau dipaksa tertarik agar mereka dapat duit dari iklan)

Artikel yang singkat membuat media elektrik lebih menarik. Meskipun ada juga media elektrik yang membahas sesuatu sampai beribu-ribu huruf, atau menyediakan versi buku elektrik juga. Namun isu-isu yang mengandung “emosi” lebih mudah dibaca dalam waktu singkat.  Artikel singkat juga bisa dibuat media manual.  Banyak juga sih yang menyediakan informasi hanya dalam selembar kertas. Tetapi berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkannya? Sementara sekarang informasi bisa berganti-ganti setiap detik.

Berkomentar Ramai-Ramai
Terkadang berkomentar lebih seru daripada membaca. Emosi lebih tersalurkan dengan berkomentar. Bahkan bisa ramai-ramai. Bisakah ini dilakukan media manual? Ketika saya bersekolah, angkatan saya selalu berpikir dua kali apabila berkomentar. Sebab dari komentar akan tercermin intelektualitas. Tetapi sekarang, lewat media elektrik, setiap orang bisa berkomentar anonim. Kalaupun kelihatan bodoh, siapa yang malu? Orang tidak tahu itu Si A atau Si B.

Semakin Mudah Membuat Tata Letak
Dulu…dulu sekali, membuat tata letak (layout) seperti majalah-majalah itu membutuhkan keahlian dan mesin pencipta grafis yang mahal. Sekarang Anda tinggal memanfaatkan software-software yang gampang didapatkan di internet. Maka tidak perlu heran jika membuat buku/majalah digital lebih murah. Mau ilustrasi instan? Silahkan googling situs-situs penyedia clipart dan gambar-gambar gratis. Buaaaaaanyaaak.

Masih banyak alasan-alasan yang membuat media massa manual tumbang. Saya sendiri tidak menyukai keguguran mereka. Meskipun saya juga sering membaca tulisan digital, tetapi ada keasyikan sendiri membolak-balik kertas koran dan menandai isi buku yang penting dengan stabilo. Buku manual sulit dibajak. Sulit di-copy paste. Namun memang menghabiskan banyak pohon untuk menghasilkan selembar kertas.  Saya rindu penjual koran yang saban pagi berkeliling di rumah saya. Saya kangen berlarian ke teras karena majalah terbaru baru saja terbit dan segera mencari cerpen-cerpennya. Apakah ini cuma sifat melankolis? Atau ketinggalan jaman? Entahlah! Tetapi yang jelas, kalori yang dikeluarkan untuk membaca media manual lebih banyak sehingga saya lebih kurus.

Iklan