Orang Kaya Tanpa TV Tapi Perpustakaan?


Duluuuuuuu sekali, alias, once upon a time, saya pernah berkunjung pada salah satu teman saya. Orangnya cukup kaya. Gimana nggak kaya, mobilnya bermerek terkenal saat itu.  Rumahnya bisa menampung orang sekampung. Ada kolam renangnya lagi.

Ting tong. Saya masuk disambut senyum si Mbak.  “Masuk aja, Mas. Bapak lagi di dalam. Sebentar saya panggilkan.”

Saya memang bukan pertama kali mampir kemari.  Tetapi ini sekian lama setelah si empunya memugar rumah barunya, saya diundang untuk sekedar syukuran antar teman.

Sambil menunggu, saya melirik ke samping. Disana ada sebuah ruangan yang tidak seberapa besar  jika dibandingkan dengan besar rata-rata ruang di rumah itu, tetapi jika dibandingkan rumah saya, mungkin rumah saya cuma WC-nya doang.

Ruang itu berpenerangan lampu bersinar lembut.  Anak-anak teman saya sedang membaca disana. Hemmm. Aneh juga. Gini hari melihat anak seumuran mereka membaca dengan asyik di ruang itu.  Saya tidak mendengar suara TV ataupun radio. Yang ada, cuma sebuah lagu klasik dari player di ruangan itu. Ada yang aneh disini, tapi apa ya?

Tak seberapa lama teman saya datang. Dari pembicaraan-pembicaraan di menit-menit berikutnya, tahulah saya, keanehan rumah ini adalah: TIDAK ADA TV.

What? Beneran nih. Terus kamar si Mbak tadi ada?  Teman saya menggeleng. Bagaimana dengan si Mama, apa sembunyi-sembunyi nonton sinetron di TV tetangga? Ha…ha..ha…itu enggak mungkin bagi orang yang hidup di komplek perumahan seperti mereka.

Hebar benar keluarga ini. Tidak ada TV barang seekor pun. Sebagai gantinya. Si Empunya rumah menyediakan perpustakaan rumah.  Mata saya sempat menangkap barisan ensiklopedia.

Dan bagaimana karakter anak-anak mereka? Stess-kah? Memberontak? Atau sakit jiwa karena tidak bisa menonton TV? Atau mungkin mereka orang paling bloon sedunia karena tidak bisa mendengar inf0-info terbaru?

Wah, enggak juga. Koran banyak. Majalah banyak.  Dan karakter-karakter anak-anak mereka normal. Di meja makan kadang mereka berdebat. Si Kakak sering ikut karya ilmiah remaja. Bisakah keluarga Indonesia bisa seperti mereka? Meskipun tidak se-ekstrim mereka. Tapi setidak-tidaknya ada perpustakaan kecil dengan penyimpanan yang tidak asal-asalan.  Tidak harus lengkap, tetapi sebagai pengganti mainan gadget saat ini.

Gadget bukan hal yang buruk. Kecanduanlah yang buruk.

TV tidak selalu berisi hal yang “amsyong”, tetapi keinginan untuk melihat tanpa henti–dengan iringan rebutan remote– yang harus dihindari.

Sumber gambar:  clipart-library.com

Iklan