Tag Archives: Memori

Nina: Komik Remaja yang Melegenda


Setelah sedikit bernostalgia dengan Deni Manusia Ikan, sekarang saya akan mengenang memori dengan komik Nina. Saya membaca komik remaja ini justru ketika saya masih sekolah dasar. Inilah yang membuat saya suka. Ketika anak-anak se-usia saya  bertingkah laku seperti anak SD kebanyakan, saya justru terpesona dengan “segala hal” yang tidak saya temui di sekeliling saya. Dunia remaja. Saya mengenal biola dan Mas Paganini justru dari Nina. Saya tahu bahwa orang bisa di-hipnotis dari Nina (serta cara melawan hipnotis). Entahlah itu benar atau tidak.

Lewat Nina-lah saya mengenal bahwa buku bisa dikomersilkan. Saya meminjam Nina dengan harga seratus rupiah dari teman saya.  Terkadang saya sampai menjual botol bekas atau menukarnya di tukang rombeng (Apakah anak jaman sekarang ada yang seperti ini?). Lucunya, gara-gara Nina saya jotak-jotakan dengan teman. Salah dia juga sih, kenapa pinjam Nina sampai seminggu. Memangnya punya nenek moyang dia. Eh…kok jadi anak kecil lagi. Tapi ini memang beneran. Saya kemudian bercita-cita mengomersilkan Donal Bebek saya. Tetapi bukannya untung, saya malah rugi. Donal bebek saya tidak pernah dikembalikan. Ihik…ihik…

Mungkin saya orang aneh? Mungkin juga. Sebab saya juga membaca Agatha Christie dan Wiro Sableng justru ketika masih bocah. Sampai sekarang saya juga heran, bagaimana bisa saya menyukai “bacaan berat”.  Sebagai catatan saja, teman-teman saya terpaksa pinjam buku tipis di perpustakaan kala Bu Guru Bahasa Indonesia memberikan tugas merangkum cerita dari buku-buku di perpustakaan. Saya malah santai mengambil buku-buku tebal.

Komik Nina belum ada tandingannya sampai sekarang (menurut saya). Penggambaran karakter yang lebih mirip manusia biasa dan ceritanya yang ala novel tidak saya temukan pada komik-komik saat ini.  Saya tidak merasakan perbedaan antara membaca novel dan komik karena saya lebih banyak tenggelam pada  cerita daripada gambar.

Saya pernah mencoba membaca Tiger Wong atau Kungfu Boy dan putus di tengah jalan. Bosan. Entah kenapa. Daya tarik yang pernah saya temui saat membaca komik-komik semacam Nina tidak saya jumpai pada Tiger Wong dan Kungfu Boy.  Bahkan saya lebih memilih Wiro Sableng daripada Kungfu Boy.

Saya tidak tahu pasti kenapa demikian. Saya menduga karena teknik gambar di manga lebih ke kartun. Penggambarannya tidak serumit menggambar orang sungguhan, sementara saya lebih suka yang realistik? Atau mungkin karena saya terbiasa membaca cerita-cerita serius dan mendalam daripada sekedar cerita sambil lalu yang gambarnya “tetap ceria” meskipun ceritanya sedih. Guratan-guratan kartun agak sulit saya artikan. Kurang tegas.

Jaman memang berubah. Mungkin sekarang kartun telah disederhanakan. Cerita rumit dan plot-plot berbelit cuma untuk novel, sedangkan “having fun” milik komik.